Alpha Hambally

15 Juni 2014 - 12.01 WIB > Dibaca 5198 kali | Komentar
 
Alpha Hambally
Alpha Hambally – Lahir di Medan 26 Desember 1990. Alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Pecinta kopi dan sastra. Kini ia tinggal dan berkarya di Pekanbaru. Bersama sejumlah kawan, ia aktif mengadakan event bulanan Malam Puisi Pekanbaru.
Perempuan yang Sedang Rindu

kau menempelkan telepon genggam ke pipi
berharap kekasihmu melakukan hal serupa
setiap malam, atau
pada saat kau merasakan miskram datang bulan

panas tubuhmu menjelang tidur semakin menjadi-jadi
kancing bajumu sedikit terbuka
seperti ingin menyemburkan sesuatu
pada saat ada yang terbekam di dadamu

kau menahan sebilah pisau, di situ
membiarkannya tertancap, hingga kau tak tergoda
akan rasa haus dan lapar, bahkan
kau mulai tak percaya kepada pelukan Ibumu sendiri

oi malang nasibnya
perempuan yang sedang rindu
bisa dengan mudah bisa ditipu
tetapi Gendari, aku bukan laki-laki yang seperti itu

2014



Ketika Kuputuskan Meninggalkan Kamar

Sunyi di kamar ialah engkau. Suara setelah jam beker selesai berbunyi. Dan aku terpaksa menyetel ulang jam itu setiap malam jika tak mau esok paginya terbangun karena perihal lain.

Aku membiarkan televisi menyala dan menayangkan berita itu setiap hari. Ada jeritan orang asing yang kehilangan suaranya sambil mencari kupingnya.

Keadaan bertambah bising. Lalu aku mencari asal dering telepon genggam. Tapi entah di mana, barangkali aku juga telah kehilangan kuping.

Kemudian¯detik lambat jam dinding dan desir radio tanpa siaran. Saling bergantian melempar kaca jendela. Sebelum deru kipas angin tua ikut memecahkan semua yang tak ingin lagi kuingat.

Tiba-tiba pintu berderit. Ibu masuk, lalu menemukan keadaanku yang lebih berantakan dari kamar ini.

“kau tak mendengar suara?” kata Ibu.
 
ah, masih ada satu suara lagi
yang harus meninggalkan kamar ini

:  suara hati

2014



Potret Rindu: Jazz

tak ada hari libur untuk memberi ruang pada rindu
hubungan kasih yang renggang, bermula
dari senar gitar yang tegang
meski aku sendiri tak pernah tahu, kapan putusnya itu

*
jazz! kami menikmatinya, demi melupakan
beberapa kata yang tak sanggup dikatakan oleh jam
setelah telanjur berputar
kami disambut kepulan asap rokok
bersamaan dengan intro kasmaran
¯jari-jari bassis yang membetot
bayangan sepasang kekasih yang sedang berciuman
 
sabak lampu menyalakan gairah kami, beberapa kali
gitaris kurus itu berhenti pada nada C minor tujuh
nada terdekat dari lenguh kontralto seorang perempuan
yang tampaknya lebih sedih dari kami

suasana padam, nuansa legam
perasaan mulai disentil kebosanan
setelah mereka melempar lagu Eropa ke telinga kami
saat kami tengah asik mendengar suara orang
yang tak lagi kami rindukan

*
lalu aku terbawa sampai ke sini
demi melepas lepuh panas pada kulitku
aku menyalakan lampu yang ternyata memadamkanmu
dan membiarkan orang lain merasa terang

“maaf, aku merindukanmu
dengan cara meniduri perempuan lain.”

maaf, sebab tubuh, hatiku pun
telah aus, mencari sisa susu yang tak menyakiti lidahku
seperti susu Ibuku

*
kami pulang, menjauh dari degup musik

dan tak menemukan apa-apa
selain kucur penyesalan

2014



Potret Luka: Kopi

seandainya sepasang batu bandul itu mengerti
kenapa kau lebih memilih pecah daripada berhenti
dahaga rindu tak bisa reda begitu saja, sebenarnya
kendati aku menyerahkan keadaan
kepada kopi hitam yang lebih jujur dari janjimu
sampai lebam, mulut dan perasaanku dihantam segala hal
yang lebih menyerupai batu

telinga mulai akrab mendengar lagu-lagu cinta
lalu memasrahkan ingatan dari sengatan kopi toraja, tapi itu barangkali
¯ barangkali, seperti nasib barista kopi yang mengalami hal serupa
“tak ada yang minum kopi untuk mengobati patah hatinya, o tuan.”
kata barista itu, sebelum memuntahkan chivas dari mulutnya

*
masih ada yang mendengkur di kepalaku
kau yang sengaja tak tidur
selepas menenggak lima belas cangkir kupi aceh
tanpa gula, berdua selingkuhanmu
sebelum itu kau juga pernah mendustaiku
katamu kopi arabica, aromanya
adalah sajak cinta yang tak selesai dari robusta
padahal membaca puisi pun kau tak suka

*
sang barista telah sadar ketika aku akan memutuskan bunuh diri
aku ditawatkan beraneka macam kopi. latte, espresso, russian coffe
mochiato, hingga kopi lanang yang katanya mampu membuat kejantananku
kembali berdiri
barista itu masih saja sempat bertanya
“sepahit apa, o tuan.”
“sepahit matamu itu, cuk” jawabku. dia tertawa
 
lambung ini kubiarkan asam, agar di dalamnya:
cinta terlepas dan rindu adalah sebaik-baiknya luka
dari sakitnya laki-laki sejati

2014



Understanding

sesakku tak juga mengerti
apa yang bedegap sangat pelik dalam rongga hati ini
cinta
atau sulur yang tak jelas pangkal ujungnya?

barangkali di situ muasal gelisah, dan demi ini aku harus berdarah
selama kau mengurung diri di antara gelap dan takut, misal aku bermaksud lari
¯sekencang pencuri yang tahu diri

tenang,
hanya aku laki-laki
yang selamanya bisa kaupercaya

2014
 


Seorang Presiden

tak seperti biasanya, pagi ini
tak senyaman ketika pertama kali dilantik
beliau duduk
menonton dirinya di televisi
setelah malam tadi mengambil keputusan penting
¯yang semua rakyat sudah tahu
bahwa ini adalah situasi yang sangat genting

“Pak, bagaimana ini.” Kata Ibu Presiden.

“Tak apa, Bu. Demi rakyat,
kita harus hidup dengan cara yang sehat.”

2014



Alibi

ditinggalkan ialah lendir kobra yang baru saja
melumpuhkan seekor kijang sekencang larinya
tapi meninggalkan sebenarnya jauh lebih kejam
¯tanpa perlu mencobanya

dusta, dari tahun ke tahun
berubah sesuai senjata yang kerap kali kaugenggam
dari pedang, hingga senapan laras panjang
yang pelurunya tak pernah mengakui perbuatannya
 
anak-anak kecil menertawakanku
kata mereka, aku lebih cengeng
dari penyair yang tak tahu harus berbuat apa
ketika kehilangan cintanya

beberapa jam duduk di rumahmu
bapakmu masih saja menuduhku melukaimu
dan kau membidik kepalaku
dengan hal-hal yang tak pernah aku lakukan

ternyata kau suka memutar-mutar peristiwa
dan membuat bekam luka paling nadir, di dada penyair
sekarang, usia puisi yang kaubaca bisa dihitung
sejak hari ini

2014
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 06:45 wib

Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:03 wib

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 wib

Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 wib

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Minggu, 18 November 2018 - 04:36 wib

Kata Jokowi Monumen Kapsul Menyimpan Idealisme Seperti Avengers

Minggu, 18 November 2018 - 03:59 wib

Alasan Jerinx SID Tak Mau Temui Via Vallen

Minggu, 18 November 2018 - 02:50 wib

Wow, A Man Called Ahok Tembus 1 Juta Penonton

Minggu, 18 November 2018 - 02:15 wib

Pembagian Sertifikat Tanah Harus Ada Tindak Lanjut Pemerintah

Follow Us