(Sebuah Catatan Ringan)

Perkembangan Senirupa Riau

15 Juni 2014 - 11.48 WIB > Dibaca 13429 kali | Komentar
 
Perkembangan Senirupa Riau
oleh: Dantje S Moeis

Periodisasai sejarah dan perkembangan senirupa Riau, setakat ini dapat saya bagi hanya menjadi dua tahapan zaman, yang keduanya berkait-kelindan dengan kondisi sosial budaya sesuai dengan zamannya, bentuk dan kecenderungan peruntukan karya, serta jangkauan pengaruh dari zaman ke zaman.

Zaman Kejayaan Senirupa Tradisional

Sesuai makna kata tradisional. Senirupa tradisional Melayu Riau, adalah karya-karya senirupa unggulan dan terpilih berdasarkan seleksi yang bersifat alami, sangat dekat dengan kecenderungan rasa yang dimiliki masyarakat hingga senirupa pada masa-itu mampu bertahan dari masa ke masa hingga kini dan memberikan sumbangan besar bagi pembentukan identitas kultur Melayu Riau.

Karya-karya senirupa tradisional Melayu Riau, merupakan sebuah karya komunitas dan bersifat anonimous (penciptanya menjadi tidak dikenal secara individu) walau pada awalnya peran individu-individu tentulah ada. Di sinilah letak kebesaran jiwa manusia-manusia masa lalu, karena pada wilayah pembangunan budaya, kepentingan komunal jauh lebih penting bagi mereka, daripada kepentingan orang-per-orang. Apalagi sampai kepada hal-hal yang berbau komersial. Sehingga karya-karya tradisional ini hampir-hampir jauh dari permasalahan yang berkaitan dengan sengketa bersifat intellectual property right and law atau hukum hak atas kekayaan intelektual, kecuali kalau sudah sampai kepada hal-hal atau sengketa yang bersifat pada pengakuan kepemilikan atau hak cipta.

Karya-karya senirupa Melayu Riau, sama seperti halnya dengan karya-karya senirupa tradisional di kawasan lain, lebih bersifat applied art, seni-guna, seni-pakai atau seni peruntukan. Faktor inilah yang menjadi penentu bertahannya seni ini dari masa ke masa karena di samping perannya sebagai salah satu bentuk local genius/kepiawaian lokal sekaligus bermuatan kearifan (local wisdom) yang menjadi ciri etnik, suku atau puak. Senirupa jenis ini mempunyai peran bagi kepentingan upacara-upacara budaya yang tak lapuk karena hujan dan tak lekang karena panas. Hal ini dapat dibuktikan pada helat budaya dan perilaku keseharian serta banyak hal lain yang membuktikan bahwa senirupa tradisional ini mampu bertahan bahkan memberikan nilai pemartabatan tersendiri bagi pengguna senirupa jenis ini.

Di samping kesadaran masyarakat masa lalu akan pentingnya seni sebagai salah satu bentuk penentu identitas budaya sebuah bangsa, peran penguasa dalam hal ini istana kerajaan Melayu di Riau masa lalu tidaklah dapat di pandang sebelah mata. Istana di samping berfungsi sebagai sentrum pemerintahan/penguasa di Riau masa lalu, juga merupakan pusat pelestarian, pengembangan budaya dan pusat penciptaan produk kesenian tertapis yang kemudian menjadi karya-karya unggul yang bertahan hingga kini.

Senirupa Riau Di era Kebimbangan Menghadapi Kecenderungan Senirupa Modern Berorientasi Eropa

Pada awal-awal kemerdekaan hingga ke era konflik vertikal antara pemerintah pusat dan daerah yang bermuara pada pemberontakan PRRI, hingga terbentuknya provinsi Riau, menjelang tahun enam-puluhan, terjadi hambatan pembacaan sejarah aktifitas dan perkembangan senirupa di kawasan Riau yang menjadi bahagian provinsi Sumatera-Tengah masa itu.

Namun angin segar di segala lini kehidupan terlihat, setelah terbentuknya provinsi Riau. Dan dari sinilah dapat dimulai kembali pembacaan dan sejarah perkembangan senirupa Riau. Kemunculan perupa Riau yang mulai beradaptasi dengan perkembangan baru (modern), yang utama untuk di catat tentulah yang berorientasi pada karya ciptaan, walau pada masa itu bermunculan penggambar-penggambar pesanan yang berkemampuan lumayan menyalin bentuk-bentuk karya populer masa itu dan sangat european style. Lalu cukup banyak pula jumlahnya penggambar-penggambar pendatang yang nota-bene mengkhususkan diri menggambar potret di atas kertas dengan pinsil conte dan bubuk charcoal dengan transparent layering putih telur sebagai pelapis.

Perupa Riau di era senirupa modern yang berorientasi pada penciptaan, sejauh pengamatan saya untuk kota Pekanbaru jumlahnya tidaklah terlalu banyak, namun selalu ada dan begitu juga di kota-kota lain di Riau, yang karena berbagai faktor belum terpantau.

Minimnya kemampuan pemantauan ini tentulah memiliki sebab. Faktor utama yang saya rasakan adalah, bahwa mereka-mereka pelaku awal senirupa di Riau ini sangatlah tidak berorientasi ekonomi sehingga promosi, pemberitaan yang meluas dalam bentuk apapun tidak dilakukan.

Seni merupakan kebutuhan batiniah yang wajib dipenuhi dan bukan untuk pemenuhan kebutuhan lahiriah. Namun sejalan dengan perkembangan, pendapat seperti ini mulai meluntur pada generasi perupa berikutnya. Ditambah lagi dengan fasilitas dan dukungan yang dilakukan oleh berbagai pihak, baik lembaga-lembaga yang mengurusi kesenian secara formal maupun pihak swasta sebagai  partisipan aktif, yang terus menerus mengupayakan agar karya-karya senirupa dari para perupa Riau, dapat tampil sejajar dengan karya-karya perupa dari luar Provinsi Riau pada skala Nasional. Terutama karya-karya yang berasal dari sentrum-sentrum penghasil karya senirupa potensial seperti Jogyakarta, Jakarta, Bandung, Bali, Solo dan beberapa kota lainnya di luar pulau Jawa.

Riau selama ini, dalam perpetaan senirupa (fine art) pada kenyataannya secara jujur disampaikan barulah setakat titik kecil yang sukar ditilik keberadaanya secara nasional. Walau aktifitas berkarya secara kontinuitas tetap ada dan keadaan ini dapat ditandai dengan berbagai pameran (bersifat lokal) yang dilakukan dan ditaja oleh institusi formal seperti Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Riau, Dewan Kesenian Riau, atau secara independen oleh individu perupa maupun komunitas-komunitas yang ada. Namun, kegiatan-kegiatan yang bersifat lokal tersebut, disadari belumlah memadai untuk dijadikan sebagai alat pemetaan atau pengakuan akan eksistensi perupa Riau secara nasional.

Memang pernah ada, kegiatan-kegiatan yang bertujuan mengupayakan pengakuan keberadaan perupa Riau, pada  bidang kanvas senirupa nasional. Seperti keikut-sertaan perupa Riau pada pameran-pameran bersama daerah lain di berbagai kota. Namun aktifitas tersebut dilakukan dengan kontinuitas yang kurang terjaga, sehingga keberadaannya dengan segala kondisi kultur budaya, problematika sosial dan kedalaman yang disampaikan sebagai muatan karya tak selalu tampak (timbul-tenggelam).

Namun hal yang cukup menggembirakan bahwa pemahaman lama yang masyarakat miliki, bahwa kerap terjadi pengulangan-pengulangan proses, minim pemaknaan, miskinnya kreatifitas. Namun kini perupa Riau saat tampil di setiap pameran selalu membawa kita pada ujud-ujud @ suguhan menu yang selalu baru. Konsekuensinya, mungkin saja kita akan menemui berbagai hambatan penikmatan, karena apa yang selama ini sudah kita pahami tentang karya-karya perupa Riau terdahulu, jauh berbeda dengan tampilan karya-karya yang tersuguhkan kini. Karya-karya yang mulai jauh dari bayangan kita, karena pokok bahasan, rupa-kias dan kerangka acuan yang digunakan oleh setiap individu dalam berkarya mulai menampakkan indentitas diri masing-masing. Naturalisme dan realisme yang ditampilkan telah mengalami pergeseran cara dan karakter. Untuk itu, penting kiranya jika di dalam proses penyimakan saat ini, ditawarkan semacam ajakan untuk menggeser pula cara pandang terhadapnya. Istilah kaji-ulang sekonyong menjadi penting. Ia akan membimbing kita untuk memasuki wilayah kesadaran cara pandang baru para perupa Riau di dalam kerangka membangun keseimbangan peradaban. Kaji-ulang yang berarti di dalamnya terkandung makna perubahan sikap dan pengetahuan yang dipersiapkan untuk menghadapi sesuatu yang terus berubah.

Sekali lagi, upaya perimbangan ini hanyalah suatu ajakan menurut sebuah alternatif versi. Di luar ajakan tersebut, bisa saja siapa pun dapat mengembangkan cara dan proses pembacaan yang kiranya dianggap lebih tepat.

Sebagai penutup tulisan pengantar pameran ini, tentu kita berharap pameran kali ini bukan hanya sekedar helat yang bersifat sesaat, namun dapat dipetik manfaatnya bagi berbagai kalangan terutama bagi para perupa Riau, sebuah daerah yang konon kaya namun tak memiliki sebuahpun lembaga pendidikan senirupa.

Terutama dan yang pasti adalah manfaat dari terbangunnya Persahabatan Seni dan perluasan wawasan yang akan memperkaya khasanah senirupa nasional. Semoga...***


 Dantje S Moeis adalah seorang perupa, penulis kreatif dan pengajar pada Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR).
KOMENTAR
Esai Lainnya

Follow Us