Confident Investor Dongkrak Capital Inflow

Ekonomi-Bisnis | Sabtu, 06 Juli 2019 - 13:04 WIB

JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Indonesia kembali menjadi sasaran pemodal untuk menanamkan investasinya menyusul pelaksanaan pemilu yang berjalan lancar. Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing ke Indonesia (capital inflow) hingga awal Juli 2019 telah mencapai Rp170,1 triliun. Padahal, data BI mencatat besaran capital inflow yang masuk ke Indonesia pada Jumat (28/6) baru Rp154 triliun.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengatakan terus meningkatnya aliran modal asing ke Indonesia menunjukkan bahwa pasar dan investor menyambut positif iklim perekonomian di Indonesia. Menurut Perry, pelaku pasar nyaman untuk menanamkan modal di Indonesia.

“Masuknya investasi ke Indonesia menunjukkan confident dari pasar dan investor terhadap prospek ekonomi dan kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah, BI dan OJK,” kata Perry saat ditemui usai salat Jumat di kawasan Gedung BI, Jakarta, Jumat (5/7).

Bahkan, menurut Perry, terdapat transaksi inflow yang begitu besar pada dua lelang terakhir SBN. Tingginya antusiasme para pelaku pasar membuat adanya kelebihan permintaan atau oversubscribed. “Mereka confident terhadap imbal hasil investasi di Indonesia,” ujarnya.

Hingga awal Juli 2019, aliran modal masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 98,5 triliun, sementara masuk ke saham sebesar Rp 71,5 triliun. Sebelumnya, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengharapkan bahwa capital inflow dapat lebih tahan lama mengendap di Indonesia. Kalau bisa, dapat bersifat permanen.

Apalagi, perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Cina mulai mereda. “Kita berharap capital inflow akan masuk ke Indonesia secara permanen. Ekonomi Indonesia dari sisi kebijakan makro, fiskal dan moneter yang prudent akan memberikan daya tarik untuk mendapatkan inflow,” kata Sri di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (4/7) lalu.

Inflasi
Pada bagian lain, BI memprediksi inflasi bulanan pada Juli 2019 akan menurun dibandingkan bulan sebelumnya. Pada minggu pertama bulan ini, BI mencatat besaran inflasi telah berada di level 0,12 persen secara month to month (MtM) dan 3,12 persen secara year on year (YoY).

Perry mengatakan, inflasi sebesar 0,12 persen tersebut jauh lebih rendah dibandingkan inflasi pada Mei dan Juni 2019 lalu. Sebab, kedua bulan itu indeks harga konsumen (IHK) masih terdampak signifikan oleh pengaruh Ramadan dan hari raya Idulfitri.

Angka tersebut, kata dia, juga menunjukan bahwa besaran inflasi pasca ramadan dan lebaran semakin terjaga rendah dan stabil. Dengan melihat rendahnya inflasi itu, Perry memprediksi target pemerintah untuk menjaga inflasi di bawah plus minus 3,5 persen akan tercapai. “In sya Allah inflasi akhir tahun ini akan lebih rendah dari 3,5 persen,” imbuhnya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sebesar 0,55 persen sepanjang Juni 2019. Sementara inflasi tahun kalender tercatat 2,05 persen dan sebesar 3,28 persen untuk inflasi tahunan. Besaran inflasi itu masih dipengaruhi oleh kenaikan harga kelompok bahan makanan.(das)


Editor: Eko Faizin




Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU