Hasil Penelitian, Kematian KPPS karena Penyakit

Politik | Jumat, 28 Juni 2019 - 09:58 WIB

Hasil Penelitian, Kematian KPPS karena Penyakit
PENGHITUNGAN SUARA: Beberapa orang anggota KPPS di Desa Senggoro, Kabupaten Bengkalis saat melakukan penghitungan surat suara yang berada di dalam kotak yang akan dicoblos pemilih, beberapa waktu lalu. Dok Riau Pos

(RIAUPOS.CO) -- Tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar penelitian soal penyebab meninggalnya 527 jiwa (data Kementerian Kesehatan RI) petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Hasilnya, kematian itu disebabkan sejumlah penyakit dan tidak ditemukan adanya racun.

“Data hasil penelitian UGM menunjukkan bahwa semua yang meninggal itu disebabkan oleh penyebab natural. Semuanya disebabkan oleh problem kardiovaskuler, entah jantung, stroke atau gabungan dari jantung dan stroke,” kata Koordinator Peneliti UGM, Abdul Gaffar Karim dalam keterangan tertulisnya pada JPG, Kamis (27/6).

“Jadi kami tegaskan, sama sekali tidak ditemukan indikasi misalnya diracun atau sebab-sebab lain yang lebih ekstrim,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Gaffar, tim peneliti juga menemukan adanya kendala terkait bimbingan teknis (bimtek), logistik, dan kesehatan masing-masing petugas KPPS. Sehingga, bisa dikatakan bahwa dampak beban kerja yang terlalu tinggi dan riwayat penyakit yang diderita anggota KPPS sebelumnya, menjadi penyebab atau meningkatkan risiko terjadinya kematian dan sakitnya petugas KPPS.

Ditambah lagi, kata Gaffar, dengan lemahnya manajemen risiko di lapangan yang menyebabkan sakitnya petugas KPPS tidak tertangani dengan baik sehingga menyebabkan kematian.

“Jadi temuan kami, (KPPS) yang tidak ada penyakit dan misalnya bisa meng-handle tekanan-tekanan dengan baik, itu mereka tidak mengalami peristiwa (kematian dan sakit),” ujarnya.

Untuk diketahui, penelitian ini dilakukan oleh tim peneliti UGM lintas fakultas, yaitu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK), dan Fakultas Psikologi. Penelitian dilakukan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).(wws)

Laporan JPG, Jakarta

>>>Selengkapnya baca Harian Riau Pos
Editor: Rindra Yasin




loading...

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook