PENELITIAN PROF KOICHI YAMAMOTO - UNIVERSITAS YAMAGUCHI

Pulau Bengkalis Terancam Tenggelam

Riau | Rabu, 26 Juni 2019 - 09:24 WIB

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) -- Ancaman tenggelamnya Pulau Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Riau akibat abrasi yang disampaikan oleh peneliti Jepang, Prof Koichi Yamamoto dari Universitas Yamaguchi, menjadi perhatian serius.

Dalam diskusi ilmiah tentang ancaman erosi dan abrasi pulau gambut yang diadakan oleh Pusat Studi Bencana (PSB) Universitas Riau, Yamamoto mengatakan tingkat abrasi di Pulau Bengkalis sangat parah.

“Per tahun mencapai 40 meter,” katanya yang sudah meneliti selama enam tahun.

Hal itu pun dipertegas oleh Direktur Kajian Rona Lingkungan FMIPA Universitas Riau, Tengku Ariful Amri yang mengungkapkan bahwa hal tersebut sudah lama diisukan dan perlu disikapi.Menurutnya, kejadian itu diakibatkan karena pola keseimbangan aliran yang terancam, maka menggerus daratan. Sehingga muncul pulau baru dan berdampak buruk dari pada moda transportasi, perikanan dan kawasan hunian.

Selain itu, munculnya sedimentasi yang semakin hari semakin tebal memunculkan daratan baru, dan bahkan kawasan pulau yang ada akan tenggelam.

“Putusnya rantai makanan sudah menjadi indikator rusaknya lingkungan berat di sekitar ekosistem tempat keberadaan biota,” jelasnya.

Selain itu, akibat erosi, butiran-butiran tanah yang memiliki aliran listrik hanyut sehingga ketika bertemu dengan air laut yang bermuatan listrik akan mengendap. Pengendapan tersebut diawali dengan pendangkalan yang menyebabkan pola aliran mengakibatkan pengikisan daratan-daratan yang sudah ada, jika tidak ada pepohonan seperti manggrove yang melindunginya.

Akibat adanya pengendapan sedimen, lama kelamaan akan menggunung sehingga muncul ke permukaan sebagai pulau baru. Pulau baru muncul akibat indikasi pergeseran aliran dan pola arus di badan perairan pantai dan laut lepas.

‘’Jika itu terus terjadi, maka luasan daratan Pulau Bengkalis akan terancam mengalami penurunan dan berkurang, lama-kelamaan tenggelam seperti yang diutarakan peneliti Jepang beberapa waktu lalu,” ungkapnya.

Hal lainnya pun muncul beting karena reaksi alam yang bisa menguntungkan dan merugikan. Beting akan menguntungkan ketika muncul di kawasan-kawasan yang dapat menyatukan daratan yang pernah ada sebelumnya. Sehingga memperluas daratan.

‘’Perlu diingat, ketika daratan semakin luas, tentu pola aliran di sekitar perairan akan bergeser, sehingga menyebabkan turbulensi arus pengikisan pada pulau yang sudah ada,’’ ucapnya.

Tengku mencontohkan, kejadian tersebut sudah dialami Pulau Nipah, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, karena dikeruk akhirnya muncul pulau di Singapura, dan pulau kita hilang.

Contoh lainnya adalah Sungai Siak. Katanya, penebalan sedimentasinya di kawasan hilir 70 cm per tahun.

Artinya, selama rentang 10 tahun terjadi penetralan 7 meter, sehingga air yang tersimpan di dalam cekungan tersebut menjadi semakin berkurang, karena sungai mengalami pendangkalan.(*3)





Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

PT. Riau Multimedia Corporindo
Graha Pena Riau, 3th floor
Jl. HR Soebrantas KM 10.5 Tampan
Pekanbaru - Riau
E-mail:riaupos.maya@gmail.com