BI Jaga Stabilitas Ekonomi dengan Sangat Hati-hati

Riau | Rabu, 19 Juni 2019 - 10:37 WIB

BI Jaga Stabilitas Ekonomi dengan Sangat Hati-hati
Fedrik Tarigan/JPG EKONOMI: Perang dagang AS-Cina memaksa Indonesia untuk lebih berhati-hati dalam menjaga stabilitas ekonomi. Di Pelabuhan Tanjung Priok, aktivitas perekonomian dan juga proses bongkar muat tetap berjalan normal.

(RIAUPOS.CO) -- Usulan target pertumbuhan ekonomi 5,3-5,6 persen pada 2020 akhirnya direvisi menjadi 5,3-5,5 persen. Sebab, tensi perang dagang semakin meningkat sehingga ketidakpastian ekonomi global kian terasa.

Pada tahun ini pun, beberapa asumsi makroekonomi sudah ada yang meleset. Sebut saja asumsi lifting migas, penerimaan perpajakan, serta suku bunga surat perbendaharaan negara (SPN) yang sudah keluar dari target.

Usulan target pertumbuhan ekonomi 5,3-5,5 persen sesuai dengan Bank Indonesia (BI). Selain pertumbuhan ekonomi, inflasi akan berada di kisaran 2-4 persen; tingkat suku bunga SPN 3 bulan 5-5,5 persen; nilai tukar Rp14.000-Rp14.500 per dolar Amerika Serikat (AS); serta tingkat pengangguran 4,8-5,1 persen. Di luar itu, tingkat kemiskinan ditargetkan 8,5-9 persen; gini ratio 0,375-0,380; serta indeks pembangunan manusia (IPM) 72,51.

Gubernur BI Perry Warjiyo menuturkan, kondisi makroekonomi dan geopolitik terus menjadi bahan perhatian. Hal itu membuat BI harus menjaga stabilitas ekonomi dengan sangat hati-hati. BI pun terus berupaya membuat suku bunga kebijakan stabil agar investor tak melarikan dananya dari Indonesia.

”Sekarang ini kondisi pasar keuangan global diliputi ketidakpastian, apakah diliputi perang dagang, Brexit, dan masalah geopolitik yang sewaktu-waktu bisa menimbulkan terjadinya pembalikan arus modal asing,” katanya saat rapat bersama anggota DPR Komisi XI, Senin (17/6) kemarin.

Menteri Keuangan Sri Mulyani juga masih yakin Indonesia bisa tumbuh positif. Dia yakin Indonesia bisa mencatat pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) minimal 7 persen pada 2020 mendatang. Untuk itu, dia akan memangkas segala keruwetan menyangkut perpajakan. Di antaranya, akan ada insentif yang diberikan kepada investor yang berorientasi ekspor dan bersedia berinvestasi di bidang riset dan pengembangan. ”Saya ingin bagaimana bayar pajak itu semudah membeli pulsa lewat ponsel,” ujarnya.(rin/agf/c22/oki/lim) .

Laporan JPG, Jakarta





Tuliskan Komentar anda dari account Facebook