Joshua Wong, Pemuda yang Kini Jadi Tokoh Demokrasi Hong Kong

Internasional | Selasa, 18 Juni 2019 - 22:38 WIB

Joshua Wong, Pemuda yang Kini Jadi Tokoh Demokrasi Hong Kong
Joshua Wong. (Winson Wong/SCMP.com)

HONG KONG (RIAUPOS.CO) - Halaman depan Lai Chi Kok Correctional Institute, Hong Kong, riuh rendah Senin (17/6/2019) pagi. Awak media sibuk mengarahkan kamera mereka ke pintu keluar utama lapas. Mereka menyambut seorang pemuda dengan kemeja putih yang dikawal sipir.

Pemuda itu adalah Joshua Wong. Pria 22 tahun itu dibebaskan setelah menjalani separo dari vonis dua bulan penjara. Kabar tersebut tentu disambut baik oleh rakyat dan aktivis prodemokrasi Hong Kong. ’’Lima tahun lalu, kami sudah bilang kami akan kembali. Dan kemarin dua juta orang turun ke jalan,’’ ungkap Wong kepada CNN sesaat setelah melewati pintu keluar penjara.

Wong bukanlah sembarang orang. Dia merupakan salah satu tokoh politik terkenal di Hong Kong. Pria dengan nama asli Wong Chi-fung itu merupakan salah satu penggerak revolusi payung 2014.

Ketika itu, ratusan ribu pemuda menduduki wilayah sekitar gedung Dewan Legislatif Hong Kong. Meski gagal membawa perubahan terhadap sistem pemilu, Wong menjelma menjadi ikon demokrasi Hong Kong. Medio Mei, dia legawa setelah didakwa dua bulan penjara karena menghalangi pembubaran demo oleh aparat. ’’Kurungan ini merupakan harga yang harus saya bayar untuk kota yang saya cintai,’’ ungkapnya dalam wawancara Time Magazine.

Tentunya, hadirnya pilar demokrasi di antara pendemo bakal memberi kekuatan lebih. Membawa semangat pemuda, Wong memutuskan untuk mengorbankan waktu bersua dengan keluarga. Setelah keluar dari lapas, dia langsung mengenakan kaus hitam dan berangkat ke Distrik Admiralty.

Di sana, dia mengucapkan belasungkawa terhadap pria yang meninggal setelah jatuh dari gedung di tengah demo. ’’Dia (Chief Executive Hong Kong Carrie Lam, Red) tak lagi pantas menjadi pemimpin kota ini. Saya pasti ikut bertarung melawan hukum ekstradisi Tiongkok yang jahat itu,’’ tegas Wong menurut Agence France-Presse.

Kehadiran Wong semakin menguatkan gelombang prodemokrasi di salah satu pusat keuangan dunia itu. Dia memberikan tenggat waktu kepada Carrie Lam untuk segera bertindak. Lam harus mengundurkan diri dan mencabut RUU Ekstradisi selamanya.

Jika sebelum 1 Juli tak ada langkah yang diambil, people power benar-benar akan meletus. Ancamannya cukup beralasan mengingat 1 Juli merupakan peringatan penyerahan kewenangan Hong Kong dari Inggris ke Tiongkok.

’’Hong Kong adalah kota internasional kecil yang punya 7 juta penduduk. Di saat 2 juta dari mereka turun ke jalan, itu artinya rakyat sudah mencapai mufakat,’’ tegas Sekjen Partai Politik Demosisto itu.

Sementara itu, Beijing terus memberikan sokongan terhadap kubu petahana. Jubir Kemenlu Tiongkok Lu Kang menegaskan bahwa Lam masih cakap memimpin daerah administratif khusus itu. Lu juga menyangkal bahwa aksi demo mewakili suara rakyat. Dia masih menuding politisi dan pihak asing menunggangi penduduk untuk melakukan serangan politik.(bil/c6/dos)

Sumber: JPNN.com
Editor: Fopin A Sinaga




loading...

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook