Sinabung Erupsi, Cilacap Gempa Bumi

Sumatera | Senin, 10 Juni 2019 - 10:15 WIB

Sinabung Erupsi, Cilacap Gempa Bumi
ABU VULKANIK: Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara memuntahkan abu vulkanik tebal, Ahad (9/6/2019). Handout/BNPB/AFP

JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Gunung Sinabung kembali mengalami erupsi sore kemarin. Letusan memunculkan kolom abu setinggi 7 km menjulang dari puncak. Meski begitu, bencana tersebut tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Letusan gunung api yang berada di Kabupaten Karo, Sumatera Utara itu terjadi pukul 16.28 WIB.

Dari rekaman seismograf, erupsi tersebut tercatat memimbulkan amplitude 120 mm dengan durasi sekitar 9 menit 17 detik. Suara gemuruh erupsi terdengar hingga pos pengamatan yang berjarak 14 km dari Gunung Sinabung.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Penanggulangan Bencana Nasional Sutopo Purwo Nugroho menuturkan bahwa letusan menimbulkan kolom abu hitam yang condong ke arah selatan. ”Awan panas ke arah tenggara sejauh 3,5 km dan selatan 3 km dari puncak,” ucap Sutopo.

 Saat ini Gunung Sinabung dalam status siaga level III. BNPB meminta masyarakat agar tidak beraktivitas dalam radius 3 km dari puncak. Untuk beberapa sektor di selatan hingga timur ditetapkan dalam radius 5 km. sedangkan sektor timur hingga utara sejauh 4 km.

Masyarakat juga diimbau untuk mengenakan masker saat keluar rumah. Selain itu, mengamankan sarana air bersih dan membersihkan atap rumah dari abu vulkanik. ”Bagi yang berada dan bermukim dekat sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar waspada terhadap banjir lahar dingin saat hujan,” terang Sutopo.

Di sisi lain, gempa bumi tektonik dengan magnitudo 5,7 mengguncang Cilacap kemarin. Getaran tersebut terasa hingga Bandung dan Jogjakarta. Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Klimatologi Rahmat Triyono menuturkan, informasi awal berkekuatan magnitudo 5,7 selanjutnya dimutakhirkan menjadi magnitude 5,5. Titik gempa terletak di koordinat 8,68 LS dan 108,82 BT. Yakni, di Samudera Hinda pada jarak 107 km ke selatan Cilacap dengan kedalaman 64 km.

Hasil analisis menunjukkan bahwa gempa dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan jenis sesar naik. Gempa terjadi karena ada aktivitas subduksi lempeng Indo-Australia yang menyusup ke bawah lempeng Eurasia. ”Pemodelan juga menunjukkan gempa tidak berpotensi tsunami,” terang Rahmat.

 Selain Bandung dan Jogjakarta, lanjut Rahmat, guncangan juga dirasakan di daerah Pangandaran, Cilacap, Ciamis, dan Kebumen dalam skala intensitas III MMI. Yang artinya, getaran dirasakan nyata dalam rumah, seolah-olah ada truk yang lewat. Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut.(han/git/jpg)





Tuliskan Komentar anda dari account Facebook