Cabai dan Bawang Sebabkan Inflasi Tinggi

Ekonomi-Bisnis | Senin, 10 Juni 2019 - 10:05 WIB

(RIAUPOS.CO) -- Seperti tahun-tahun sebelumnya, inflasi Idulfitri kali ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan bulan-bulan biasa. Namun, angkanya tidak terlalu jauh berbeda dengan yang lalu. Harga komoditas menjadi faktor utama yang memicu tingginya inflasi. Tepatnya harga cabai, bawang putih, dan bawang merah. Meski begitu, inflasi tahun ini tidak melampaui target pemerintah.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memprediksi inflasi Idulfitri mencapai 0,6 persen. Sebab, harga tiga komoditas pangan itu masih tinggi hingga pekan kelima Mei. "Sampai akhir bulan, harga cabai dan bawang putih masih tinggi dan naik," katanya, Sabtu (8/6).

Semula, Darmin berharap harga tiga komoditas tersebut kembali normal saat memasuki Lebaran. Sebab, waktunya bersamaan dengan panen raya. ’’Semestinya karena sudah panen itu (harga) mulai turun. Yang sempat naik tinggi itu bawang putih,’’ ungkapnya.

Berdasar data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), harga rata-rata cabai merah pada akhir Mei berkisar Rp44 ribu per kilogram. Harga tersebut naik menjadi Rp57.950 per kilogram pada 3 Juni dan naik lagi menjadi Rp63.500 per kilogram per 4 Juni.

Sementara itu, harga bawang putih yang tercatat Rp41.500 per kilogram pada akhir Mei menjadi Rp42.150 per kilogram pada 3 Juni. Harga itu lantas naik lagi menjadi Rp42.550 per kilogram mulai 4 Juni. Bawang merah yang dijual Rp36.600 per kilogram pada akhir Mei lantas mengalami kenaikan harga menjadi Rp38.300 per kilogram pada 3 Juni. Esoknya, harga komoditas tersebut sudah naik lagi menjadi Rp38.900 per kilogram.

Darmin menyatakan, angka inflasi itu masih berada dalam batas normal jika dibandingkan dengan periode Lebaran tahun lalu. Tahun lalu perayaan Idulfitri jatuh pada 15 Juni. Saat itu inflasi Juni tercatat 0,59 persen. ’’(Inflasi tahun ini, red) Bisa meleset, tapi perkiraan saya nggak jauh,’’ ujarnya. Pada bulan-bulan normal, inflasi berkisar 0,3 persen.

Dia juga memprediksi inflasi 2019 berada pada angka 3,5 persen. Angka itu masih sesuai dengan target inflasi tahunan yang ditetapkan pemerintah (3,5 persen). Meski mengalami kenaikan karena harga komoditas pangan cukup tinggi saat ini, dampak inflasi hanya akan bersifat sementara. Jadi, angka inflasi tidak bakal terpengaruh secara keseluruhan. ’’(Harga, red) Cabai dan bawang boleh naik, tapi bisa turun lagi. Beda dengan beras, kalau sudah naik, turunnya dikit,’’ jelas Darmin.

Di tempat terpisah, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengumumkan hasil survei pemantauan harga. Menurut dia, sampai pekan kelima Mei, angka inflasi masih tetap rendah. Yakni, pada level 0,47 persen secara month-to-month (mtm). ’’Sementara untuk inflasi secara tahunan (year-on-year) itu 3,1 persen,’’ terangnya.

Perry menyebutkan, beberapa komoditas pangan lain yang berkontribusi terhadap inflasi adalah daging ayam dan dan beberapa jenis buah. Faktor yang menyumbang deflasi adalah harga beras, tarif angkutan udara, dan harga beberapa jenis sayuran.

Rendahnya tingkat inflasi hingga pekan kelima Mei tersebut, kata Perry, tidak terlepas dari peran pemerintah pusat dan daerah serta BI dalam menjaga kestabilan harga. ’’Alhamdulillah, harga-harga terpantau rendah terkendali. Stok di seluruh Indonesia juga cukup,’’ ungkapnya.(jpg)

Laporan JPG, Jakarta






Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU