OLEH ISMARDI ILYAS - KETUA IKATAN MASJID INDONESIA (IKMI) KOORWIL RIAU

Optimalisasi Masjid

Petuah Ramadhan | Jumat, 31 Mei 2019 - 09:59 WIB

Optimalisasi Masjid

MASJID dalam konteks kesejarahan pertama kali dibangun oleh Rasulullah SAW pada saat beliau hijrah ke Madinah. Masjid Quba merupakan masjid pertama kali yang dibangun Rasulullah setelah pada tanggal 8 Rabiul Awal 1 Hijriyah, yang terletak 5 km dari Kota Madinah.

Rasulullah yang pertama kali meletakkan batu untuk pembangunannya Masjid Quba, diikuti Abu Bakar dan kemudian dilanjutkan Umar bin Al-Khattab. Gagasan untuk membangun Masjid Quba pertama kali diusulkan Umar Ibn Al-Khattab. Pada masa Rasulullah, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat peribadatan semata, tetapi sebagai pusat persatuan dan kekuatan umat Islam.

Sebagai rumah ibadah umat Islam, masjid memiliki banyak fungsi, tidak seperti yang dipahami secara sempit oleh sebagian kalangan. Di zaman Rasulullah masjid menjadi simbol persatuan umat Islam. Selama sekitar 700 tahun sejak Rasulullah mendirikan masjid pertama, fungsi masjid sangat kokoh dan orisinal sebagai pusat peradaban yang mencerdaskan dan mensejahterakan umat manusia. Berikut ini akan dijelaskan fungsi-fungsi masjid sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW.

Pertama, masjid tempat ibadah. Beribadah dan bersujud merupakan fungsi utama masjid, seperti pelaksanaan salat lima waktu, iktikaf, berdoa, tilawah Alquran dan sebagainya merupakan rangkaian yang amat penting dan tidak terpisahkan dari kegiatan dan fungsi masjid.

Kedua, tempat tarbiah. Fungsi pendidikan ini juga merupakan hal yang rata-rata dilakukan di masjid, terutama berkaitan dengan kajian yang menyangkut dengan persoalan keagamaan, seperti membahas masalah amaliah yaitu hal-hal yang menyangkut amalan keseharian seperti kajian fikih, baik ibadah, muamalat, munakahat, jinayah, jinayah, zakat termasuk di dalamnya kajian tentang siasat (yang satu ini akan dijelaskan pada bagian berikut).

Ketiga, masalah sosial. Selain dua fungsi di atas, masjid juga memiliki fungsi sosial kemasyarakatan yang amat luas. Bukan hanya terbatas pada pembicaraan masalah kematian, orang sakit, tetapi juga berfungsi untuk mendiskusikan berbagai persoalan sosial kemasyarakatan lainnya seperti kemiskinan, masalah kebodohan, kenakalan remaja, pencegahan narkoba, persoalan pendidikan anak yatim dan fakir miskin, serta banyak lagi fungsi sosial lainnya yang dapat didiskusikan dan dicarikan penyelesaiannya di masjid.

Keempat, masalah siasah (politik). Umat Islam selalu merasa tabu ketika ada yang  membicarakan persoalan politik di masjid. Kondisi ini sangat merugikan umat Islam sesungguhnya. Apalagi persoalan politik merupakan masalah yang amat urgen bagi umat Islam dan untuk kemajuan Islam. Pemahaman yang sempit tentang politik telah memberikan dampak yang luar biasa terhadap Islam secara keseluruhan. Seharusnya pemahaman politik yang sebenarnya mesti diberikan kepada umat Islam melalui masjid walaupun masjid bukanlah lembaga poilitik. Merencanakan, strategi untuk memajukan Islam selalu dilakukan Rasulullah SAW di masjid. Jadi bukan politik praktis dalam artian yang sempit.

Ramadan dan Optimalisasi Fungsi Masjid
Ramadan merupakan bulan yang amat mulia dan paling ditunggu-tunggu oleh umat Islam di seluruh dunia, terutama bagi mereka yang beriman. Anjuran kegembiraan untuk menyambut Ramadan memang secara tegas dinyatakan Rasul dalam hadisnya. Artinya; Barang siapa bergembira dengan datangnya bulan Ramadan, Allah mengharamkan neraka baginya.

Kemuliaan Ramadan selalu dimanfaatkan umat Islam dengan berbagai kegiatan keagamaan yang dipusatkan di masjid. Akan tetapi kegiatan-kegiatan tersebut masih terbatas pada bidang yang berkaitan dengan peribadatan, seperti salat fardhu, tarawih, i’tikaf, tadarus Alquran. Seharusnya, sesuai dengan fungsi-fungsinya yang sangat lengkap pada bulan Ramadhan fungsi masjid mesti dioptimalkan pada bidang dan bagian lainnya. Sudah saatnya umat Islam membicarakan berbagai persoalan yang berkaitan dengan kemajuan dan kemaslahatan umat Islam secara keseluruhan.

Oleh karena itu, membincangkan masalah kegiatan ekonomi dan politik menjadi penting dibicarakan di masjid. Bagaimana mengentaskan kemiskinan secara kongkret merupakan bagian yang mestinya dibicarakan. Termasuk membicarakan politik umat Islam, bagaimana memajukan Islam, bagaimana jamaah masjid dapat berpartisipasi dalam persoalan politik, memberikan masukan dan kritik terhadap pemerintahan yang dipandang belum  memiliki political will untuk memberantas kemaksiatan, korupsi, narkoba dan kejahatan lainnya.

Atau dapat saja dalam bentuk lain, seperti menjadikan jamaah masjid sebagai penggerak lingkungan bersih, peduli keamanan atau sebagai penggerak penanam pohon dan penghijauan serta banyak lagi yang lainnya. Tak kalah pentingnya, memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat tentang pentingnya ambil bagian dalam pemilihan umum baik kepala daerah, Presiden, maupun legislatif. Dengan demikian, akan dapat mengurangi bahkan menghilangkan tingginya angka golput di kalangan umat Islam saat ini.

Berbagai hal di atas dapat diagendakan di masjid. Sehingga terjadi optimalisasi fungsi masjid dalam artian yang sebenarnya. Terutama berbagai kegiatan tersebut dijadikan Ramadan sebagai langkah starting point untuk selanjutnya dijadikan agenda rutin dan diperlukan pada waktu berikutnya. Sehingga masjid benar-benar tercapai tujuan dan fungsi yang sesungguhnya. Semoga bermanfaat.***





Tuliskan Komentar anda dari account Facebook