OLEH H ILYAS HUSTI - KETUA MUI PEKANBARU

Meraih Kebahagiaan

Petuah Ramadhan | Selasa, 28 Mei 2019 - 10:26 WIB

Meraih Kebahagiaan

DALAM Alquran dalam surat Al-Baqarah ayat 201 Allah SWT berfirman, Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, ya Tuhan berilah kami kebaikan dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.

Secara ekplisit dalama ayat ini, terdapat tiga hal yang menjadi tujuan hidup manusia yaitu: kesenangan dan kebaikan di dunia, kebaikan dan kebahagian di akhirat, dan terlepasnya dari siksa neraka. Untuk mencapai ketiga tujuan hidup tersebut diperlukan usaha-usaha maksimal dari manusia itu sendiri, usaha-usaha itu secara Qurani dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pertama, usaha mencapai kebahagiaan dan kesenangan di dunia, tercermin dalam bentuk aktivitas seseorang dalam memenuhi keperluan hidupnya, baik primer (dharurivah), sekunder (hajiyat) dan tertier (kamahiyat). Dalam melakukan aktivitas tersebut, Alquran telah memberikan pedoman yaitu tidak dengan jalan bhatil. Dalam surat Al-Baqarah Allah SWT menegaskan, Wahai orang yang beriman, janganlah kamu memakan atau melakukan interaksi di antara kamu secara bhatil. Kata bhatil diartikan sebagai “segala sesuatu yang bertentangan dengan ketentuan dan nilai agama”.

Dalam ajaran Islam, nilai-nilai Islam dalam berusaha, tercermin pada empat prinsip pokok yaitu : tauhid, keseimbangan, kehendak bebas dan tanggung jawab. Tauhid mengantarkan manusia mengakui bahwa keesaan Allah mengandung konsekuensi keyakinan bahwa segala sesuatu bersumber serta kesudahanya berakhir pada Allah SWT.

Keseimbangan mengantarkan manusia meyakini bahwa segala sesuatu diciptakan Allah dalam keadaan seimbang dan serasi. Kehendak bebas adalah prinsip yang mengantar keyakinan manusia bahwa Allah SWT memiliki kebebasan mutlak, menganugerahkan kebebasan tersebut kepada hambanya, di bawah tuntunan Alquran dan sunnah. Sedangkan tanggung jawab merupakan manifestasi yang lahir dari ketiga prinsip di atas, dan dalam kontes ini, islam memperkenalkan konsep fardu ain (tanggung jawab individual) dan fardu kifayah (tanggung jawab kolektif).

Yang pertama adalah kewajiban individu yang tidak dapat dibebankan kepada orang lain, sedangkan yang kedua, adalah kewajiban yang apabila dikerjakan oleh orang lain sehingga terpenuhilah keperluan yang dituntut, maka terbebaslah semua anggota masyarakat dari pertanggungjawaban (dosa). Atau dikerjakan oleh sebagian orang namum belum memenuhi apa yang seharusnya, maka berdosalah setiap anggota masyarakat.

Kedua, upaya mendapatkan kebahagiaan di akhirat, upaya ini harus dimulai dengan: pertama, membersihkan diri dari dosa-dosa kepada Allah (Tazkiyat AI-Nafsu). Kegiatan pembersihan diri tersebut, dalam Islam disebut dengan tobat. Tobat berarti mengintrospeksi diri tentang pelanggaran ajaran Allah yang dilakukan dan menyatakan menyesal atas pelanggaran itu, serta bertekad untuk tidak mengulanginya lagi pada masa yang akan datang. Dalam Islam, tobat seperti ini disebut tobat al-nushuha (tobat yang sebenar-benarnya).

Kedua, memperbanyak amal ibadah, baik ibadah kepada Allah seperti salat, puasa, zakat, haji, zikir, membaca Alquran dan lain-lain. Maupun ibadah sosial kemasyarakatan, seperti, memperhatikan lingkungan, memelihara alam yang diamanahkan Allah, menjaga hubungan baik sesama, memperhatikan kehidupan orang yang susah dan lain-lain sebagainya.

Ketiga, memperbanyak doa, hal ini sejalan dengan firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 185. “Apabila hambaku, bertanya kepada mu (Muhammad) tentang aku, maka katakan kepada mereka bahwa Aku sangat dekat dengannya, Aku akan mengabulkan doa hamba-Ku, apabila mereka itu, mau berdoa, mau mengabulkan/melaksanakan (segala sesuatu yang aku bebankan kepada mereka), dan mereka tetap yakin dan beriman kepada-Ku. Di samping doa tersebut, ada dua hal lagi yang mesti dilakukan yaitu bersabar dan bertawakal.

Ketiga, upaya melepas diri dari siksa neraka. Dalam pandangan Islam, usaha ini banyak dilakukan terutama di bulan Ramadan kerena Ramadan merupakan bulan yang paling istimewa dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Keistimewaannya itu dapat dilihat dari namanya, yaitu syukru Ramadan (bulan pembakar dosa-dosa/menghapus dosa), syukru ar-rahmah (bulan yang penuh rahmat), syahru al-mubarakah (bulan yang penuh berkah), syahru al-maghfirah (bulan yang penuh keampunan), dan syahru iqqun min al-nar (bulan yang dapat membebaskan manusia dari siksa neraka), syahru al-hidayah (bulan yang penuh dengan hidayah), syahru  Alquran (Bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran), syahru lailatul qadar (bulan yang di dalamnya terdapat malam lailatul qadar, dan sejumlah nama lainnya.

 Untuk meraih semua manfaat Ramadan tersebut, maka Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk memperbanyak bertobat dan memperbanyak ibadah, memperbanyak berdoa, serta tetap sabar dan tawakal kepada Allah. Apabila anjuran ini dilaksanakan dengan ikhlas, dengan niat semata-mata untuk mendapatkan keridhaan Allah, maka tentu ibadah puasa  yang dilaksanakan ini, betul-betul membawa keampunan bagi segala dosa-dosa kita yang lalu. Ini sesuai dengan jaminan Rasulullah SAW dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, “Barang siapa melaksanakan puasa pada bulan Ramadan, dengan berdasarkan dengan keimanan yang mantap, dan dengan mengendalikan diri dengan sebaik-baiknya, maka Allah akan mengampunkan dosa-dosanya yang lalu.”

Semoga rahmat dan kasih sayang Allah SWT kepada hamba-hambanya ini dapat kita rebut dan kita raih secara maksimal. Aamiin ya rabbal Alamiin.***





Tuliskan Komentar anda dari account Facebook