OLEH HUSNI THAMRIN - WAKIL DEKAN BIDANG AKADEMIK DAN PENGEMBANGAN LEMBAGA FAKULTAS USHULUDDIN UIN SUSKA RIAU

Sosio Ecoreligio Culture Puasa

Petuah Ramadhan | Kamis, 23 Mei 2019 - 09:25 WIB

Sosio Ecoreligio Culture Puasa
PEMBICARAAN tentang etika sosio ecoculture puasa  membawa kita kepada pembicaraan tentang hikmah hubungan horizontal dan vertikal  kemanusiaan dari ibadah puasa. Dasar nilai  akhlak  hikmah kemanusiaan atau amal saleh ini ialah kesadaran akan hadirnya Allah  dalam hidup, yang diperoleh melalui pengamalan ibadah yang sangat pribadi. Sosio ecoreligio culture puasa  berdasarkan keimanan dan takwa, atau keimanan dan takwa yang memancar etika sosio ecoreligio culture.

Hikmah kemanusiaan  sosio ecoculture ini juga diperteguh dengan latihan menahan diri, makna harfiah perkataan shiyâm atau shawm. Sebab budi pekerti yang luhur selamanya menuntut kemampuan seorang pribadi untuk menahan diri dari dorongan tidak merusak tatanan hubungan manusia dengan Allah, lingkungan dan manusia itu sendiri . Justru dosa manusia yang yang sangat fatal adalah merusak hubungan manusia dengan manusia. Manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan lingkungan, terjadi karena ketidakmampuan manusia   untuk menahan diri sifat-sifat keserakahan manusia.

Itulah dosa ketamakan. Kisah kisah keserakahan  manusia  telah banyak digambarkan dalam Alquran  yang  melambangkan perjuangan manusia menegakkan budi luhur dengan melawan dorongan hawa nafsu. Dalam drama cocsmis religius  digambarkan dalam kisah tentang (Nabi) Yusuf juga digambarkan, melalui lisan seorang wanita istana Mesir bernama Zulaikha. Bahwa nafsu tidak boleh diperturutkan, karena nafsu itu selalu mendorong ke arah kejahatan, kecuali yang mendapat rahmat Allah.

Masalah “menahan diri” atau “zuhud” (zuhd) ini bersangkutan dengan kenyataan bahwa setiap tindakan yang hanya mementingkan diri sendiri tentu akan berlawanan dengan nilai budi luhur atau akhlaq mulia. Kerusakan hubungan manusia denga Allah, lingkungan, manusia adalah dikarenakan sikap egoisme dan demoralitas yang tinggi tidak pernah sejalan. Egoisme terjadi karena ketidakrelaan seseorang untuk menderita, sekalipun hanya sementara. Karena gejala ini terdapat pada setiap pribadi manusia, maka, sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW.

“Semua anak cucu Adam adalah pembuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan ialah mereka yang bertobat.” Dalam bahasa latin ada kalimat hikmah, eraré humanum est (manusia adalah pembuat kesalahan). Puasa adalah latihan untuk menanggung derita sementara itu, dan merupakan proses pertobatan seperti dianjurkan Rasulullah SAW dalam sabda tersebut.

Manusia tidak tahan menderita sementara, padahal di belakang hari akan ada kebahagiaan yang besar. Karena ia diciptakan sebagai makhluk yang lemah, dan kelemahannya itu ialah kecenderungannya untuk mengambil hal-hal jangka pendek karena daya tarinya, dan lengah terhadap akibat buruknya dalam jangka panjang. Karena fitrahnya, manusia adalah makhluk kebenaran dan kebaikan. Sehingga akan merasa bahagia dengan kebenaran dan kebaikan itu. Tetapi karena cenderung lebih tertarik kepada hal-hal yang bersifat segera, maka manusia adalah makhluk yang lemah, yang gampang “tergoda” dan “jatuh” ke dalam perbuatan “dosa”. Sebab semua perbuatan yang dalam agama diistilahkan sebagai “dosa” itu tidak lain ialah apa saja yang dalam jangka pendek membawa kesenangan, namun dalam jangka panjang membawa kesengsaraan.

Dosa adalah juga sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani. Karena itu dosa juga disebut “munkar” (mufrad) atau “munkarât” (jamak), artinya “sesuatu yang diingkari atau ditolak”. Yakni diingkari atau ditolak oleh hati nurani. Hati nurani adalah locus kesadaran kesucian manusia karena fithrahnya. Maka ia bersifat terang atau bercahaya (perkataan Arab “nurani”, berasal dari perkataan “nur”, artinya “bersifat terang”). Karena hati kita yang masih bersih menerangi jalan hidup kita menuju kepada yang benar dan baik. Inilah modal primordial hasil karunia Allah untuk menjadi obor atau petunjuk dalam perjalanan hidup kita. Tetapi karena kelemahannya tadi, maka manusia senantiasa terancam, dan punya potensi, untuk menyimpang dari hati nuraninya disebabkan perbuatan dosa.

Karena itu Rasulullah SAW bersabda, bahwa “Kebajikan ialah budi pekerti luhur, dan dosa ialah sesuatu yang terbetik dalam dadamu dan kamu tidak suka orang lain mengetahuinya.”

Jika seseorang banyak berbuat dosa karena tidak tahan terhadap de-rita sementara dan tidak mampu menahan godaan hal-hal jangka pendek yang kemilau dan sepintas lalu menarik hati, maka lama kelamaan hatinya mengalami kegelapan (zhulm) dan ia sendiri menjadi “manusia gelap” atau zalim (zhalim). Karena itu hatinya tidak lagi bersifat nuran, melainkan telah berubah menjadi zhulmani (artinya, bersifat gelap;  zulmani . Dalam keadaan hati yang telah kehilangan sinarnya dan menjadi gelap, orang akan kehilangan kesadaran akan baik dan buruk, benar dan salah. Semuanya menjadi sama baginya, sehingga ia akan terjerembab ke dalam lembah jalan hidup kesesatan. Inilah pangkal kesengsaraan, baik rohani maupun jasmani.

Dari Perspektif sosio ecoreligio culture  puasa memang merupakan ibadah yang amat penting, yang menjadi bagian dari cara pendekatan menjaga kelestarian, keharmonisan dan keberlanjutan lingkungan. Puasa merupakan salah satu ibadah yang paling universal, terdapat pada syari’at setiap umat dan bangsa sepanjang zaman, dan merupakan sumber kearifan, wisdom serta hikmah yang paling banyak diamalkan oleh agama-agama. Maka tidak heran bahwa perintah Allah kepada kaum beriman untuk berpuasa disertai keterangan bahwa puasa itu juga diwajibkan atas umat-umat terdahulu. Keterangan Allah ini sejalan dengan definisi tentang kaum yang bertakwa, yang salah satu indikasinya, seperti dikutip dari Alquran surat Al-Baqarah di bagian depan makalah ini, ialah menjaga keharmonisan, keberlanjutan dan keseimbangan hubungan manusia dengan manusia, Allah dan lingkungan  yang terintegrasi hubungan  yang  universal  kontinuitas dan kesatuan unsur-unsur yang benar dari semua warisan keagamaan sepanjang zaman dan di setiap tempat.

Puasa dalam perspektif sosio ecoreligio culture dapat memberi solusi menjaga keberlanjutan, keseimbangan , dan keharmonisan  hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan lingkungan dan hubungan manusia dengan Allah. Wallahu a’lam.***





Tuliskan Komentar anda dari account Facebook