Australia Tolak Perubahan Besar

Internasional | Selasa, 21 Mei 2019 - 13:40 WIB

Australia Tolak Perubahan Besar
SAMPAIKAN PIDATO: Perdana Menteri Australia yang baru terpilih Scott Morrison tiba untuk menyampaikan pidato kemenangan bersama keluarganya setelah memenangkan pemilihan umum Australia di Sydney, kemarin. (SAEED KHAN/AFP)

SYDNEY (RIAUPOS.CO) -- Hasil pemilu Australia memang belum final. Namun, Partai Buruh sudah mengakui kekalahannya. Sekarang koalisi Liberal-Nasional tinggal menunggu apakah mereka menguasai mayoritas kursi di parlemen atau tidak.

Kemarin (19/5) Komisi Pemilihan Umum Australia menyatakan, koalisi yang dipimpin Perdana Menteri (PM) Scott Morrison itu sudah mengamankan 75 kursi. Tinggal satu kursi lagi untuk membentuk pemerintahan. Jika kurang, mereka harus menggandeng satu anggota parlemen independen.

”Saya selalu percaya dengan keajaiban,” ujar Morrison dalam pidato kemenangannya Sabtu malam (18/5). Senin (19/5) dia ikut misa di Gereja Pentecostal Horizon dan berterima kasih kepada jemaat yang hadir atas dukungan mereka. Morrison menyatakan, dirinya sudah tidak sabar untuk kembali bekerja hari ini dan membentuk pemerintahan yang baru.

Kemenangan koalisi Liberal-Nasional memang ibarat suatu keajaiban. Sebab, selama ini hampir seluruh jajak pendapat memenangkan Partai Buruh. Morrison dianggap sosok yang paling penting dalam kemenangan tersebut. Dia bisa membalik suara di detik-detik terakhir. Partai Buruh sekali lagi harus legawa menjadi oposisi. Pemimpin Partai Buruh Bill Shorten mengambil tanggung jawab dengan berjanji tak ikut pemilihan ketua Partai Buruh berikutnya.

”Ini tidak bisa dipercaya. Semua orang berharap kami kalah,” ujar Antony Ching, salah seorang pendukung Partai Liberal, seperti dikutip AFP.

Para pengamat menilai bahwa salah satu penyebab kekalahan Partai Buruh ialah penduduk masih takut akan perubahan besar. Agenda reformasi kebijakan yang diusung partai buruh adalah hal baru yang membuat publik waswas. Termasuk pemotongan pajak untuk kalangan menengah ke bawah, tapi menaikkannya untuk golongan kaya. Buruh juga berencana mengubah bentuk pemerintahan Australia menjadi republik.

Pengamat senior di  Australian National University Mark Kenny mengungkapkan bahwa saat ini sangat sulit melakukan ataupun merencanakan perubahan yang bisa mengilhami para pemilih. Pada saat bersamaan, juga harus mampu mempertahankannya di tengah-tengah kampanye negatif lawan yang menakut-nakuti pemilih. Partai Buruh terbukti tak mampu melakukannya. Morrison dengan mudah bisa membalik keadaan.

”Dia (Morrison) berjuang dalam kampanye negatif yang benar-benar hebat untuk melawan Shorten dan Partai Buruh,” ujar pengamat di La Trobe University Tony Walker.

Beda dengan Partai Buruh, dalam setiap kampanyenya, Morrison justru tidak menawarkan hal baru sama sekali. Dia hanya menjanjikan satu hal. Yaitu, kestabilan politik di negaranya. Morrison menyatakan bahwa kebijakan-kebijakan yang diambil Partai Buruh bakal membuat situasi tak menentu. Ketakutan akan ketidakpastian itulah yang membuat suara partainya terdongkrak.

Sementara itu, Cina merasa resah dengan kemenangan koalisi Liberal-Nasional. Dalam kolom editorial media milik pemerintah Global Times disebutkan bahwa hubungan kedua negara kini jauh dari kata optimistis.

”Hasil pemilu ini juga berarti hubungan Cina-Australia yang telah memburuk selama masa kepemimpinan koalisi Partai Liberal dan Partai Nasional beberapa tahun ini bakal terus menghadapi prospek yang tidak pasti.” Demikian bunyi tulisan di kolom editorial Global Times.(sha/c6/sof)


Editor: Eko Faizin




Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU