PENETAPAN HASIL PEMILU 22 MEI

Ini Jawaban Polisi Mengapa Kerahkan 32.000 Personel Amankan Jakarta

Nasional | Jumat, 17 Mei 2019 - 23:35 WIB

Ini Jawaban Polisi Mengapa Kerahkan 32.000 Personel Amankan Jakarta
Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo.

JAKARTA (RIAUPOS.CO) -  Rapat persiapan people power yang terekam dalam video berdurasi 4 menit 23 detik masih menjadi perbincangan. Dalam video itu, terungkap skenario menutup KPU, Istana Negara dan gedung DPR/MPR atau Senayan pada 22 Mei 2019.

Polisi masih mendalami video yang diduga berisi tentang rencana makar tersebut. ’’Masih didalami. Kalau narasi-narasi yang dibangun masih masuk pasal 87 sih, perbuatan permulaan ke arah makar,’’ ucap Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo saat berkunjung ke kantor Pojoksatu.id, Kamis (16/4/2019).

Menurut Dedi, dari narasi-narasi itu sudah ada rencana makar. Namun untuk konstruksi hukumnya harus ada keterangan dari saksi ahli. ’’Untuk konstruksi hukumnya, itu kan nanti saksi ahli bahasa dipanggil, saksi ahli pidana dipanggil, saksi ahli ITE juga dipanggil,’’ kata Dedi.

Hanya, lanjut Dedi, sampai sekarang belum ada pihak yang melaporkan terkait beredarnya video rencana menutup KPU dan Istana Negara serta geudng DPR pada 22 Mei. ’’Sampai sekarang belum ada yang lapor. Dan saya lihat penyidik lebih banyak menunggu laporan, kita tidak terlalu harus pro aktif. Kita menunggu yang lapor,’’ kata Dedi.

Meski belum ada masyarakat yang melaporkan, polisi tetap melakukan analisa dan pengkajian. ’’Kita sudah mempersiapkan kajian-kajian itu. Kajian sudah ada. Semua rekam jejak digitalnya sudah ada di kita,’’ imbuh Dedi.

Selain itu, Polri juga telah mempersiapkan pasukan yang cukup banyak untuk mencegah dan mengantisipasi skenario massa pendukung Prabowo tutup KPU dan Istana Negara. Dedi menegaskan, sebanyak 32.000 ribu pasukan akan dikerahkan untuk menjaga lokasi vital di DKI Jakarta pada 22 Mei, termasuk menjaga KPU, Istana Negara dan DPR RI.

’’Kenapa 32 ribu pasukan? Itu berdasarkan pengalaman menghadapai kerusuhan tahun 1998. Waktu itu, 15.000 pasukan di Jakarta tidak sanggup menghadapi massa,’’ bebernya.

Dikatakan Dedi, total pasukan TNI dan Polri yang dikerahkan untuk mengamankan KPU, Istana Negara, gedung DPR, dan titik strategis lainnya mencapai 38.000 pasuakan. ’’Kurang lebih 38.000 ya, 32.000 ribu (pasukan) itu di lapangan, 6.000 itu cadangan,’’ imbuhnya.

’’Itu perhitungan dan kalkulasi TNI dan Polri yang memiliki pengalaman menghadapi kerusuhan 1998. Angka itu cukup. Cukup untuk memberikan jaminan keamanan di Jakarta,’’ Dedi.(one)

Sumber: Pojoksatu
Editor: Fopin A Sinaga




Tuliskan Komentar anda dari account Facebook