PROGRAM NGOBROL PINTAR PWI RIAU

Dirjen KSDAE Ajak Jaga dan Kelola Alam dengan Benar

Riau | Senin, 13 Mei 2019 - 16:37 WIB

Dirjen KSDAE Ajak Jaga dan Kelola Alam dengan Benar
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem(KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Ir Wiratno MSc, saat menyampaikan paparannya pada acara Ngobrol Pintar kerja sama PWI Riau dengan Kemen LHK, Senin (13/5/2019) di gedung Graha Pena Riau. (Fopin A Sinaga/Riaupos.co)

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Acara Ngobrol Pintar (Ngopi) kerja sama antara PWI Riau dengan Kemeterian Lingkungan Hidup berlanjut dengan mengambil tema Konservasi Sumber Daya Alam Hayati, Senin (13/5/2019) di gedung Graha Pena Riau.

Dalam acara yang dikemas santai namun informatif ini tampil sebagai narasumber Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Ir Wiratno MSc, Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan Ditjen Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ir Sustyo Iriyono MSi dan Ketua Majelis Lingkungan Hidup Muhammadiyah Riau Dr Elviriadi SPi MSi.

Dalam pemaparannya, Wiratbno menyebutkan bahwa kawasan konservasi di Indonesia mencapai 27,14 juta hectare. Kawasan ini dikelilingi hampir 6.000 desa.  Dari angka itu, beberapa di antaranya ada di Riau dan masih bagus kawasan hutannya seperti kawasan Suaka Alam Rimbang Baling dan Taman Nasional Zamrud di Kabupaten Siak. "Mari kita kelola alam dengan benar, agar membawa berkah untuk kita semua," kata Wiratno.

Disebutkannya, tekanan dan ancaman terhadap kawasan konservasi makin meningkat padahal fungsi ekologi potensi hayati sangat tinggi seperti perlindungan tata kelola air, penyediaan air bersih, udara bersih hingga pencegahan bencana alam. Berbagai langkah pencegahan terus dilakukan agar kelestarian hutan tetap terjaga.

‘’Salah satunya seperti yang bisa dilihat di daerah  kawasan ekowisata Tangkahan di daerah Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat Sumatera Utara. Dulu di sini banyak aktivitas penebangan hutan. Namun sekarang masyarakat di sana tidak lagi beraktivitas mengganggu hutan.Mereka tetap mendapatkan mata pencarian tanpa harus menebang pohon. Kawasan itu dijaga kelestariannya sehingga menarik bagi wisatawan datang ke sana. Untuk memandikan gajah  bayar, untuk menunggang gajah juga bayar di samping manfaat wisata lainnya yang bisa dinikmati di sana. Ada miliaran uang yang dihasilkan untuk menghidupi dua desa di kawasan itu,’’ katanya.

Wiratno juga menyebutkan, berbagai langkah telah dilakukan sehingga Indonesia berhasil meningkatkan jumlah populasi hewan atau tanaman langka. Misalnya jalak bali dari hanya 31 ekor di 2015 kini menjadi 191 ekor. Lalu gajah sumatera dari 2015 sebanyak 611 ekor menjadi 693 ekor di tahun 2018. Demikian pula harimau sumatera dari jumlah 180 ekor di tahun 2015 menjadi 220 ekor di tahun 2018.

“Orangutan juga kita lakukan pelestarian. Bahkan kita punya pusat rehabilitasi orangutan yang jumlahnya mencapai ribuan individu. Ada yang menarik dari orangutan ini ketika dioperasi. Penyembuhan pasca operasinya sepuluh kali lebih cepat daripada manusia,’’ katanya.





loading...

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook