KIPRAH MANGGALA AGNI UNTUK NEGERI

Bertaruh Nyawa, Tinggalkan Keluarga Berhari-hari

Feature | Minggu, 12 Mei 2019 - 09:30 WIB

Bertaruh Nyawa, Tinggalkan Keluarga Berhari-hari
PADAMKAN BARA GAMBUT: Petugas Manggala Agni dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersinergi dengan TNI-Polri dalam melakukan upaya pemadaman lahan gambut yang terbakar ketika kebakaran hutan dan lahan di Desa Kampung Baru, Rupat, Kabupaten Bengkalis pada Februari 2019 lalu. (MHD AKHWAN/RIAU POS)

Aroma asap yang terhirup mulai menyesakkan dada. Mata perih akibat partikel-partikel debu beterbangan, alam sekeliling begitu pekat. Matahari menyinari bumi dengan warna merah yang tertutup kabut asap. 15 orang petugas Manggala Agni berjibaku memadamkan api yang menghanguskan ratusan hektare lahan bergambut di  beberapa kawasan di Kota Dumai. Mereka berpacu dengan waktu, nyawa pun jadi taruhan. Keluarga  ditinggal berhari-hari demi memadamkan api.

Laporan HENNY ELYATI, Pekanbaru

‘’Kalau sudah terjadi kebakaran lahan dan hutan (karlahut) seperti ini, sudah pasti berhari-hari kami tidak akan pulang. Tinggalkan anak dan istri guna memadamkan api dan memutus kebakaran agar tidak semakin meluas. Tidak hanya itu, saat memandamkan api di lahan gambut dan hutan, nyawa pun jadi taruhan,’’ ujar  Azrai (33) yang sudah 16 tahun mengabdi sebagai honorer Menggala Agni Daerah Operasi (Daops) Dumai ini.

Rabu (10/4) lalu, Riau Pos bersama lima wartawan dari berbagai media di Riau bertolak dari Pekanbaru menuju Dumai. Dengan menumpang  mobil Xenia BM 1451 QE yang dikemudikan Jhon Chory wartawan Riausindo ini melaju dengan kecepatan 70-100 kilometer per jam. Di dalam mobil berisikan enam orang ini yakni Riau Pos,  Dara Fitria (Riauonline.co.id), Wahyudi (fotografer Metro Riau), Harry B Koriun (Riau Pos.co) dan Azhar (Riauonline.co.id).

Rombongan Riau Pos berangkat dari PWI Riau di Jalan Arifin Achmad, Pekanbaru sekitar pukul 10.30 WIB. Jarak tempuh dari Pekanbaru-Dumai 201 kilometer ini dicapai dengan waktu 4-5 jam. Mengingat jalur Pekanbaru-Duri-Dumai memiliki jalan yang rusak dan berlakukan buka-tutup jalan, kami pun memilih jalur Pekanbaru-Maredan-Siak-Pakning-Dumai.

Jarak tempuhnya 310 kilometer. Namun karena jalur ini sepi kendaraan dan jalan datar serta mulus, dengan kecepatan 80-100 kilometer per jam. Kami menghabiskan waktu 5 jam dalam perjalanan. Sementara jika melalui jalur Pekanbaru-Duri-Dumai maka waktu tempuh bisa lebih lama mengingat antrean kendaraan di titik buka-tutup yang ada di daerah Muara Basung dan Desa Sebangar. Bila Jhom Corry lelah, maka Harry B Koriun yang bergantian mengemudikan kendaraan kami.

Keberangkatan kami ke titik lokasi kebakaran lahan dan hutan di Dumai ini difasilitasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk melihat langsung bagaimana upaya yang dilakukan Manggala Agni dalam menangani karlahut.

Kebakaran lahan dan hutan yang terjadi di Kota Dumai, Provinsi Riau sudah berlangsung selama empat bulan mulai Januari hingga April dengan lokasi berbeda dengan luasan ratusan hektare habis terbakar.

Kami sampai di Dumai pukul 15.15 WIB. Tiga rekan wartawan lain dari daerah berbeda sudah tiba di lokasi terlebih dahulu. Mereka adalah Zulfadli (Riau Pos) yang bertugas di Rohil, Dedi Eka Putra (TVOne) bertugas di Dumai dan. Erwin Syah Putra (Pekanbaru Pos) bertugas di Bengkalis.

Karena tidak mengetahui lokasi pasti di mana petugas Manggala Agni bekerja keras memadamkan api, mobil yang kami tumpangi dipandu Manggal Agni dengan mobil dinas Nissan Navara  B  9601 PSD. Kami bergerak menuju Jalan Dahlia, Kelurahan Teluk Makmur, Kecamatan Medang Kampai. Lokasi ini sudah terbakar lebih kurang 2 bulan. Dalam satu hari pada satu titik diturunkan 6 petugas Manggala Agni. Ya, dalam sehari, dengan jumlah enam orang personil ini Manggala Agni berhasil memadamkan 5 hektare lahan yang terbakar.

Personil Menggala Agni telah melakukan pemadaman sekaligus pendinginan dengan mengerahkan tiga mobil dengan peralatan lengkap, sementara pemadaman dari atas dilakukan pihak terkait lain mengunakan helikopter.

Helikopter beberapa kali hilir mudik melakukan water bombing di titik yang berdekatan dengan keberadaan petugas Menggala Agni. Puluhan personil TNI terlihat di titik lain yang berdekatan dengan lokasi karhutla tersebut, turut siaga.

‘’Kita bekerja tanpa henti. Pokoknya bagaimana api bisa padam dan tidak menyebar ke lokasi lain. Terkadang kita kalah cepat dengan waktu, apalagi bila mata angin berubah tidak menentu,’’ ujar Johan (37) warga Jalan Paus, Dumai yang sudah 17 tahun mengabdi sebagai honorer Manggala Agni ini.

Bapak dua anak ini lebih memilih mengabdi di Manggala Agni walaupun honor yang diterima setiap bulannya hanya Rp2,5 juta. Johan tidak melihat besar kecilnya honor yang diterima walaupun pekerjaan yang digelutinya ini sangat berisiko, namun Johan tetap memilih Manggala Agni.

‘’Kita masuk kategori pekerja sukarelawan. Kalau tidak kita siapa lagi yang bisa menjaga agar hutan dan lahan jauh dari api. Kalau dilihat dari honor yang kami terima rasanya tidak sebanding dengan risiko pekerjaan yang kami geluti. Tetapi semua pekerjaan itu memiliki risiko,’’ tuturnya sambil menyeka keringat yang membahasi wajahnya yang membuat kulit sawo matangnya semakin mengkilap saat diterpa matahari.***

>>>Selengkapnya baca Harian Riau Pos


Editor: Eko Faizin


loading...

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook