OLEH: H CHAIDIR - TOKOH MASYARAKAT

Mutiara di Bulan Istimewa

Petuah Ramadhan | Sabtu, 11 Mei 2019 - 09:44 WIB

 Mutiara di Bulan Istimewa

BUATLAH rincian derivasi keistimewaan bulan suci Ramadan, pasti daftarnya sangat panjang. Sebuah bulan yang memberi banyak kesempatan ibadah dan kebajikan dengan imbalan pahala berlipat ganda, sebuah bulan di mana ayat-ayat suci Alquran pertama kali diturunkan, sebuah bulan yang di antara salah satu malamnya terdapat satu malam yang kemuliaannya setara seribu bulan;  itu baru pohon besar keistimewaannya, belum cabang dahan besar, dahan kecil dan ranting-rantingnya.

Hebatnya mahakarya Sang Pencipta, di bulan Ramadan itu, sebulan dari 12 bulan yang diciptakan, kita diberi kesempatan untuk menepi sejenak. Kurangi kecepatan atau stop pinggir, ambil waktu istirahat luruskan punggung, manjakan perasaan rindu pada orang tua dan sanak famili serta handai taulan, lepas tawaria sambil ngopi-ngopi manja. Ramadan memberi waktu jeda, atau moratorium segala bentuk onggokan masalah. Lupakan agenda-agenda politik yang telah membengkok-bengkokkan kehidupan, membuat yang dekat jadi jauh, membuat yang benar dan salah sama buramnya, membuat berita hoaks dan bukan hoaks sama liarnya, membuat realcount dan quickcount sama membingungkan. Tinggalkan dulu persaingan politik dan ekonomi global. Redakan sindrom paranoid akibat ditakut-takuti revolusi industri 4.0 ketika kita harus bersaing dalam cyber technology dan dengan robot, dan seterusnya.

Sejenak mari kita lakukan komunikasi intrapersonal, berdialog dengan hati nurani memandang ke dalam diri kita dan lingkungan di mana kita berada. Dalam logika sok hebat manusia ciptaan Tuhan, mungkin Tuhan dulu (dulu sekali) sedang diselimuti eforia terhadap kekuasaan-NYA yang tak terbatas sehingga menciptakan makhluk yang bernama manusia berkaum-kaum dengan berbagai tingkah pola. Manusia diberi sifat baik dan sifat buruk sekaligus, diberi nafsu, diberi ambisi, diberi semangat untuk bersaing satu dengan lainnya, dihidupkan serigala dalam dirinya, dan dipelihara harimau dalam perutnya. Manusia diiming-imingi harta dan kekuasaan untuk diperebutkan. Manusia diberi kejujuran, tapi juga diberi hasad dengki dan tipu daya. Diciptakan juga musang berbulu ayam, serigala berbulu domba, atau juga kemampuan berakting maling teriak maling, dan sebagainya.

Maka wajarlah bila Rasulullah Muhammad SAW mengingatkan umatnya, bahwa demi memperebutkan harta dan kekuasaan, umatnya kelak tak segan-segan akan bertengkar satu sama lain bahkan saling bunuh sesama saudara sekalipun. Banyak sejarawan menyebut, fenomena konflik adalah fenomena purba, sama purbanya dengan sejarah manusia itu sendiri. Selama ribuan tahun manusia berusaha mencari jalan keluar dari persengketaan di antara mereka sendiri, hasilnya ialah tumpukan buku di perpusatakaan. Dan manusia tetap berkonflik.

Berbagai rentetan peristiwa konflik silang sengketa pemikiran dan sikap di tengah masyarakat kita dewasa ini merupakan kenyataan-kenyataan sosial yang terasa amat pahit. Betapa hebat pun demokrasi kita, bukanlah bangunan masyarakat seperti ini yang ingin kita wujudkan. Kita butuh kemajuan yang berlandaskan ketenteraman, kedamaian, keselarasan dan cinta kasih antar sesama. Kita mendambakan sebuah negeri yang baldatun toyyiibatun warabbun gafur, negeri yang gemah ripah loh jinawi tototenterem kertaraharja.  

Yang terjadi justru, kebinekaan yang bersusah payah kita tegakkan selama ini, rasa senasib sepenanggungan, kesetiakawanan sosial yang kita bangun sepertinya mulai retak-retak, yang bila tidak ada upaya penyelematan, akan runtuh berkeping-keping. Padahal kebinekaan yang berlandaskan Pancasila yang dirumuskan oleh founding fathers kita itu, tadinya kita anggap sudah selesai. Ternyata masih meninggalkan banyak pekerjaan rumah.

Dewasa ini, logika-logika berkembang aneh. Narasi kontra narasi dianggap barang basi; pelurusan-pelurusan dianggap menyesatkan, peraturan perundang-undangan dituduh sarat kepentingan. Kejujuran dan kecurangan diragukan ketidakjujuran. Semua ikhtiar perbaikan dituduh akal-akalan, bila ikhtiar itu memberi hasil yang baik, ikhtiar itu pun diklaim karena ditekan. Sulit dipercaya bahwa bangsa yang dikenal menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan agama, justru menggunakan nilai-nilai moral dan agama itu sebagai pembenaran terhadap perilaku liar dan destruktif.

Sebenarnya, seperti disebut sosiolog seperti Durkheim, Weber, Parson dan kawan-kawan sebagaimana dikutip Komaruddin Hidayat dalam Nurcholis Madjid (2000), agamalah solusinya. Agama diyakini berperan besar dalam perubahan dan perbaikan masyarakat. Tokoh agama dan spiritual memiliki pandangan yang jernih karena berpedoman pada hati nurani. Kenyataannya kita sedang berada dalam sistem nilai dan sistem sosial yang porak-poranda, masyarakat kita menjadi masyarakat anomi, masyarkat yang kehilangan pedoman akibat jauhnya jarak antara nilai-nilai dengan kenyataan.

Siapa yang salah? Yang kita kritik, kata Komaruddin Hidayat, bukanlah agama tapi adalah cara beragama. Yaitu cara beragama yang cenderung tidak toleran terhadap perbedaan, dan yang secara mutlak-mutlakan mengklaim pendapat diri sendiri sebagai yang paling benar, sementara pendapat orang lain pasti salah. Lebih jauh Komaruddin Hidayat mengutip, bahwa bibit-bibit pertentangan selalu lahir dari sikap yang tidak mampu menenggang perbedaan dan keberagaman. Padahal Allah SWT sendiri telah menegaskan: “Seandainya Tuhan menghendaki, niscaya Dia menjadikan manusia satu umat (tetapi Tuhan tidak mengehendaki itu) sehingga mereka akan terus-menerus berbeda pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu” (QS. Hud/11:118-119).

Kita beruntung, di tengah kulminasi hari-hari tahun politik di negeri ini, kita memasuki siklus Mahakarya bulan suci Ramadan yang penuh mutiara kehidupan, bulan yang memberi kesempatan kepada kita bersama untuk menundukkan kepala sejenak merenung menggunakan akal sehat dengan pikiran yang jernih.  Membersihkan diri dari sakwasangka, dari pikiran-pikiran negatif, dan senantiasa istikamah.

Istikamah adalah salah satu butir dari selaksa mutiara di bulan Ramadan: mengingatkan kita untuk bertindak fair (sportif), keserasian antara hati, lisan dan tindakan yang didasarkan pada keimanan. Sebaliknya adalah munafik: antara hati, lisan dan tindakan sering berlawanan. Seseorang disebut munafik, jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia ingkar dan jika dipercaya ia berkhianat. Oo..siapa dia? Jangan tunjuk orang lain karena pada saat yang sama tiga jari menunjuk diri kita sendiri. Introspeksi. Ini bulan istimewa, mari berpuasa.***




loading...

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook