Sri Lanka Belum Aman, Sektor Wisata Masih Tiarap

Internasional | Rabu, 08 Mei 2019 - 12:59 WIB

KOLOMBO (RIAUPOS.CO) -- Otoritas Sri Lanka mengklaim bahwa tersangka serangan bom Paskah sudah tersapu bersih. Puluhan orang yang dinilai masuk jaringan National Tawheed Jamaath (NTJ) atau Zahran Hashim sudah ditangkap atau tewas. Pemerintah berharap penduduk bisa sedikit melepas ketakutan dan mulai beraktivitas.

Plt Kepala Kepolisian Sri Lanka Chandana Wickramaratne mengatakan, semua orang yang terlibat dalam ledakan tiga gereja dan tiga hotel sudah tak lagi memberikan ancaman. Tokoh-tokoh utama sudah dilumpuhkan untuk mencegah serangan susulan. Terutama, dua perakit bom yang memegang peran terbesar dalam serangan tersebut. ”Mereka sudah terbunuh. Juga, kami menyita semua bahan peledak yang mereka simpan untuk serangan di masa depan,” terang dia kepada Agence France-Presse kemarin (7/5).

Pria yang baru saja diangkat Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena sebagai Plt kepala kepolisian itu tak menyebutkan berapa di antara 140 tersangka serangan bom yang berada di tangan pihak berwenang. Namun, Jubir Kepolisian Ruwan Gunasekera mengatakan bahwa 73 orang, termasuk 9 perempuan, sedang ditahan aparat. ”Kondisi keamanan sudah berangsur membaik,” ungkap dia.

Wickramaratne menyimpan harapan. Dia ingin aktivitas warga negara pulau tersebut kembali seperti semula. Dua minggu pasca serangan, masyarakat masih takut untuk pergi ke luar rumah. Sekolah negeri memang buka sejak Senin (6/5). Namun, jumlah siswa yang datang dan belajar tak sampai 10 persen. Banyak orang tua yang melarang anak mereka karena takut serangan susulan.

Ketakutan itu menggoyahkan roda ekonomi negara. Terutama, industri pariwisata. Setelah perang saudara berakhir sepuluh tahun lalu, Sri Lanka mengandalkan hotel dan bidang jasa turisme untuk bangkit. Pariwisata menyumbang 11 persen dari total produk domestik bruto (PDB) nasional.

Tahun ini Menteri Keuangan Mangala Samaraweera menargetkan pendapatan pariwisata mencapai USD 5 miliar (Rp 71 triliun). Namun, harapan itu sudah pupus dengan serangan tersebut.

”Kehidupan malam Kolombo terus bertumbuh. Tapi, sekarang jatuh seketika,” ujar Harpo Gooneratne, pemilik beberapa bar dan restoran di Kolombo.

Beberapa hari ini DJ memainkan musik di lantai dansa yang lengang. Pelayan bar sampai bosan karena tak ada pesanan. Pengunjung yang memberanikan diri untuk bersenang-senang pun kecewa, lalu pulang.

Meski begitu, penyedia jasa wisata masih optimistis. Mereka yakin bahwa kondisi itu hanya sementara. Tren membaiknya jagat turisme beberapa tahun ini tak akan hilang begitu saja.

”Selama beberapa tahun, semakin banyak bar dan restoran di Sri Lanka. Saya yakin bahwa nanti turis dan warga lokal kembali,” imbuh Gooneratne.

Pengurus Gereja St Anthony juga mulai membuka diri. Kemarin sebagian gedung sudah menerima pengunjung. Jemaat dipersilakan untuk masuk dan berdoa di patung Santo Antonius dalam batas waktu 12 jam per hari. Mereka hanya harus rela digeledah sebelum masuk ke rumah ibadah tersebut.

”Kami membuka sebagian tempat dengan keamanan ketat. Sebagian lain masih direnovasi,” ujar Romo Edmond Tilakaratne, jubir Keuskupan Agung Kolombo.

Namun, Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Wickremesinghe menyanggah klaim Wickramaratne. Dia menegaskan bahwa ancaman terorisme masih ada. Pemimpin partai oposisi itu mengatakan, bahaya masih akan menghantui Sri Lanka dalam waktu lama.

”Kita baru saja menjadi korban dari terorisme global. Meskipun semua tersangka serangan Paskah ditahan atau dibunuh, ekstremis di luar negeri masih bisa menimbulkan masalah,” tegasnya. (bil/c11/dos/jpg)


Editor: Eko Faizin




loading...

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook