DARI MANGGALA ANGNI UNTUK NEGERI

Bertaruh Nyawa Memadamkan Api

Feature | Senin, 22 April 2019 - 23:51 WIB

Bertaruh Nyawa Memadamkan Api
Seorang anggota Manggala Agni Daops Dumai, menembus semak belukar untuk menjangkau titik api lebih dekat guna memastikan pemadaman berlangsung maksimal. (ZULFADHLI/RIAU POS)

Memadamkan api menjadi tugas utama Manggala Agni, tantangan yang dihadapi tidak kecil mengingat luasnya dampak, resiko tinggi maupun masih seringnya terjadi peristiwa kebakaran hutan/lahan (Karhutla) yang harus dihadapi setiap tahun. Bagaimana tantangan yang terjadi dan upaya apa saja yang dilakukan oleh brigade dengan maskot Sipongi ini?

API sudah merambat ke mana-mana, semak belukar, dedaunan, pohon sampai kedalaman gambut tak luput dari jilatan si jago merah. Arah angin yang berubah dengan cepat, membuat belasan anggota Menggala Agni itu terkurung dalam kepungan asap. Mata pedih, kerongkongan perih kehausan sementara panas terasa kian menyengat kulit. 

"Lebih kurang empat jam kami terjebak," tutur Herman Latif, Rabu (10/4) mengisahkan kejadian yang hampir merengut nyawanya saat menjalankan kewajiban memadamkan api di daerah Simpang Pemburu, Kecamatan Tanah Putih, Rokan Hilir, pada 2014. 

Petugas Menggala Agni Daerah Operasi (Daops) Dumai ini bersama 14 temannya saat itu berjibaku untuk melakukan pemadaman Karhutla yang terjadi. Akses jalan masuk kira-kira tiga kilometer dari pinggir jalan, awalnya tidak ada persoalan dan nampak biasa saja. 

Mereka melakukan pemadaman sesuai dengan prosedur yang diterapkan dengan disiplin, mesin dikeluarkan dari mobil dan didekatkan dengan sumber air. Selang lantas disambungkan dan penyemprotan dimulai. Tengah melakukan pemadaman mendadak angin bertiup kencang sehingga lokasi kejadian dipenuhi asap. Sekeliling menjadi pekat asap, personil Menggala Agni tidak bisa melihat jalan dengan baik. 

"Kami sudah teriak-teriak minta tolong, ada yang menangis, udah panik semua," kata pria juga bertindak sebagai driver dan mekanik ini. 

Alhasil dengan hanya mengandalkan naluri, karena jarak pandangan nihil, anggota Menggala Agni berangsur-angsur mencari jalan keluar, sampai akhirnya bisa menjangkau mobil. Mobil yang mereka naiki terpaksa disiram dengan air untuk mencegah terkena api. Menurutnya mereka beruntung bisa selamat, sebab jika lebih lama lagi terkepung asap dia sangsi bisa luput dari maut. 

Menjadi anggota Menggala Agni dan selalu terdepan untuk melakukan pemadaman kebakaran hutan/lahan telah menjadi jalan hidup bagi Herman Latif. Daops Dumai dengan cakupan wilayah kerja antara lain Rokan Hilir, Dumai dan sebagian daerah di Bengkalis yakni Mandau dan Rupat membuatnya hafal dengan tempat-tempat yang kerap terjadi kebakaran di tiga kabupaten/kota tersebut.  Begitu pula dengan karakter medan yang harus dihadapi. 

Ia menyebutkan nama sejumlah tempat yang rawan karhutla baik di Rohil, Bengkalis maupun Dumai. Riau secara umum memang menjadi daerah langganan kebakaran lahan/hutan tapi beruntung dengan penanganan yang sigap, maka dampak yang terjadi tidak begitu besar seperti sebelumnya. 

Kerapnya peristiwa karhutla membuat setiap personil Menggala Agni seperti dirinya harus selalu siap untuk diterjunkan di mana saja titik karhutla melanda. Seperti belakangan terjadi peristiwa karhutla di Rupat, Bengkalis. Kebakaran yang demikian luas, membuat Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian datang meninjau langsung pada awal Maret lalu. 

Bergabung sejak 2002, Herman bisa dikatakan kenyang dengan pengalaman karena merupakan generasi awal sejak terbentuknya Manggala Agni. Selain kejadian di kepung asap, ia mengaku pernah terkilir di bagian kaki saat menuju lokasi kebakaran lahan di daerah Kubu, Rokan Hilir. Penyebabnya, motor yang ditunggangi patah di bagian shock breaker.  Tak ada rumah sakit atau klinik yang bisa ditemukan, alhasil dia dilarikan ke bidan. 

"Ya akhirnya bawa ke bidan, itu yang ada. Dikasi obat," ujarnya sambil tersenyum. 

Karhutla tidak hanya berdampak bahaya bagi anggota Manggala Agni karena harus bersinggungan langsung, ancaman karhutla memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Mengacu pada peristiwa yang terjadi di Rokan Hilir ada kasus yang berakibat fatal bukan hanya kerusakan lingkungan, kehancuran ekosistem tapi juga merengut nyawa manusia. 

Pada 2014 terjadi insiden yang menewaskan warga. Sebenarnya pihak Menggala Agni yang turun ke lapangan ungkap Herman telah mengingatkan kepada warga untuk meninggalkan areal terdampak yang berdekatan dengan titik api. Namun ada pasangan suami isteri yang memilih bertahan. Sebuah pilihan yang harus dibayar mahal karena mengakibatkan tewas yang diduga karena sesak napas, kehabisan oksigen terpapar asap terus menerus. 

Berpindah-pindah Melakukan Pemadaman 
Kepulan asap dari bekas lahan gambut yang terbakar, masih terlihat. Permukaan tanah yang basah, lembab maupun tumpukan akar pohon masih menyisakan asap. Padahal petugas Menggala Agni Daops Dumai telah melakukan penyemprotan. Permukaan tanah nampak lembut, jika tidak hati-hati melangkah kaki bisa terbenam. 

Dalam kondisi seperti itu api memang sulit padam sepenuhnya mengingat kedalaman gambut bisa dua hingga tiga meter, membuat kedalaman api tidak bisa ditebak. Sehingga jika di permukaan pun tinggal asap tipis, di bagian dalam bisa saja terdapat tumpukan bara.  

Bau semak belukar terbakar yang bercampur tanah, terhidu sejak memasuki Jalan Dahlia, Kelurahan Teluk Makmur, Medang Kampai, Dumai dimana terdapat sejumlah titik api. Personil Menggala Agni telah melakukan pemadaman sekaligus pendinginan dengan mengerahkan tiga mobil dengan peralatan lengkap, sementara pemadaman dari atas dilakukan pihak terkait lain mengunakan helikopter. 

Helikopter beberapa kali hilir mudik melakukan water boombing di titik yang berdekatan dengan keberadaan petugas Menggala Agni. Puluhan personil TNI terlihat di titik lain yang berdekatan dengan lokasi karhutla tersebut, turut siaga. 

"Karhutla di sini (Dumai, red) sudah sebulan lebih, terjadi di sejumlah titik. Paling terkini di Jalan Dahlia Kelurahan Teluk Makmur, Medang Kampai," kata Ketua Regu Abdul Mutholib (35). Pria yang memimpin 15 personil ini menyebutkan dalam penanganan karhutla berpindah-pindah sesuai dengan titik api. 

Peristiwa karhutla menjadi persoalan harian yang mereka hadapi, seingatnya terhitung awal kalender sudah ada kejadian. 

"Tanggal satu, bulan satu sudah ada di Sei Sembilan, setelah itu pindah di Rohil dan di tempat lainnya. Selanjutnya yang di Rupat kami juga turun ke sana satu regu, sementara di daerah yang lain bukan cakupan Daops Dumai maka yang turun dari tim lainnya," terang Abdul.

Dengan mobilitas yang tinggi seperti itu maka tak pelak setiap anggota Menggala Agni dituntut memiliki fisik prima dan mental yang tangguh.  Tidak ada alasan untuk menolak panggilan tugas. Bagi yang tidak tahan dengan ritme kerja akhirnya ada yang memilih untuk berhenti menjadi anggota Menggala Agni. 

Diperlukan Jiwa yang Siap Mengabdi
Kemampuan menjadi anggota Menggala Agni hanya dapat diwujudkan jika memiliki jiwa dan semangat yang siap mengabdi untuk negeri. Tanpa itu, maka tidak akan ada yang sanggup bertahan mengingat tantangan yang dihadapi cukup berat. 

Kerapnya kejadian karhutla memaksa personil seperti Abdul untuk sering berada di lapangan sesuai dengan wilayah kerja Menggala Agni Daop Dumai. Kadang keluarga harus ditinggalkan dalam jangka waktu lama. 

"Untunglah keluarga udah memahami dengan baik, udah sering tinggalkan keluarga," kata ayah satu anak ini. 

Sementara kalau dari segi peralatan kata Abdul melanjutkan, memang sudah cukup, tapi perlu ditingkatkan untuk safety seperti masker. Begitu juga ketersediaan oksigen karena situasi di lapangan dihadapan dengan tantangan yang dapat berubah ekstrim. 

Selain itu terangnya dengan ritme kerja yang ada, serta lamanya pengabdian yang telah dijalankan dia mengharapkan ada kebijakan untuk peningkatan kesejahteraan dengan mengibaratkan jika ada pengangkatan maka selayaknya dari honorer telah menjadi pns. 

Sementara saat disinggung bagaimana prosedur untuk melakukan penanganan karhutla, ia menerangkan seperti saat ini dimana telah dikerahkan sebanyak 21 personil yang disebar ke tiga titik, dikerahkan tiga unit mobil Strada dan tiga mesin penyemprot Mex Tri. 

Pria yang bergabung di Menggala Agni sejak 2005 ini menambahkan pihaknya tak hanya fokus pada upaya pemadaman saja, tim tetap bekerja melakukan patroli rutin guna memantau titik api terutama di daerah rawan. 

Karena itu pemutakhiran informasi lewat pengunaan aplikasi LAPAN : Fire Hostpot menjadi aplikasi wajib yang dimiliki pada masing-masing ponsel. Informasi aplikasi itu diperkuat dengan jejaring yang ada, baik warga, perangkat desa terutama dari kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA). 

"Kalau ada kejadian, atau informasi masuk kami akan sampaikan ke pimpinan. Tim akan turun untuk melakukan ground check, (pengecekan di lapangan, red), apakah medannya bisa dilalui, bagaimana sumber air lantas turun dengan peralatan lengkap seperti mesin Mex Tri, selang penyalur, selang isap, nozzle, kendaraan roda empat maupun motor" cetusnya. 

Standar baku saat melakukan pemadaman di lapangan diawali dengan membaca’ arah angin. Mustahil melakukan pemadaman jika berada di bawah angin atau menjadi sasaran dari arah larinya api maupun asap. Berikutnya mengupayakan penyekatan dengan tujuan agar api tidak merambat kemana-mana. 

Titik semprot untuk permulaan terangnya harus mengarah pada kepala api dan jari-jari api. Abdul menerangkan istilah kepala api berarti api yang berada di depan dan siap menjalar, sementara jari-jari api berupa titik api di bagian samping dan biasanya tidak begitu besar dibandingkan kepala api. Langkah penyekatan dilakukan agar api tidak cepat melebar. 

Fokus pemadaman terangnya di dua bagian itu, sementara di bagian tengah lahan karena biasanya sudah terbakar duluan, maka akan mati sendiri. Pengerahan alat berat terangnya sangat tepat dilakukan dalam saban peristiwa karhutla pasalnya sangat efektif untuk membuat sekat maupun embung. 


Libatkan Peran Masyarakat dan Pemangku Kepentingan

Tak cukup mengandalkan kekuatan intern saja, Menggala Agni melibatkan peran serta masyarakat seluas-luasnya untuk memiliki kepedulian menyikapi persoalan karhutla. Salah satunya melibatkan tokoh setempat dan mengiatkan peran Masyarakat Peduli Api (MPA). 

Langkah ini sebagai upaya pencegahan kejadian karhutla sejak dini sekaligus menanamkan kesadaran agar kebiasaan membakar lahan yang dilakukan masyarakat tidak dijadikan sebagai budaya. 

Warino (66) menjadi salah satu contoh bagaimana Menggala Agni mengiatkan berbagai elemen untuk peduli dengan persoalan karhutla. Selain menjadi penyambung lidah dari Menggala Agni yang menyampaikan informasi, himbauan agar tidak ada warga yang membuka lahan dengan cara dibakar, Warino juga menjadi pemberi informasi cepat ke pihak Menggala Agni Daops Dumai jika ada kejadian karhutla. 





loading...

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook