DARI MANGGALA ANGNI UNTUK NEGERI

Bertaruh Nyawa Memadamkan Api

Feature | Senin, 22 April 2019 - 23:51 WIB

Bertaruh Nyawa Memadamkan Api
Seorang anggota Manggala Agni Daops Dumai, menembus semak belukar untuk menjangkau titik api lebih dekat guna memastikan pemadaman berlangsung maksimal. (ZULFADHLI/RIAU POS)

"Dulu paling rawan di sini, apalagi katanya gambut di sini dalam," serunya. Tokoh MPA ini menjadi contoh keberhasilan upaya preventif untuk mencegah meningkatknya angka karhutla. Jika sebelumnya di wilayah atau lingkungan yang dikenal dengan Dumai Motor, Kelurahan Tanjung Palas, Dumai Timur cukup sering terjadi karhutla kini tidak lagi. 

Langkah sosialisasi yang dilakukan terbukti efektif daripada penindakan berupa sanksi hukum karena belum munculnya efek jera. Sebaliknya dengan memberikan pemahaman terus menerus membuat warga dapat mengikuti saran yang diberikan kemudian melakukan pendekatan atau cara lain untuk membuka lahan guna dimanfaatkan. 

"Biasanya ada terbakar, tapi sekarang belum ada di Tanjung Palas. Saya selalu tekankan, buka lahan tidak membakar," tukasnya. 

Secara bergurau Warino menuturkan bahaya karhutla lebih besar dan tantangan penanggulangannya dari penyalahgunaan narkoba jenis sabu. Mengingat dampak yang ditimbulkan sangat luas berupa kerusakan ekosistem, lingkungan, serta dampak lain. 

Pentingnya memberikan pemahaman menurut Warino tidak terlepas dari keyakinan bahwa faktor utama yang menyebabkan peristiwa karhutla adalah karena ulah manusia. 

"Faktor alam itu kecil sekali, bahkan saya pernah mencoba mengunakan kaca yang diarahkan ke semak, tidak terbakar. Artinya kalau hanya alam saja, panas matahari sangat jarang mengakibatkan terjadi karhutla, jadi yang kerap terbakar itu karena ulah manusia," terangnya. 

Perilaku rawan mengakibatkan karhutla adalah membuang puntung rokok ke areal rawan terbakar, pembakaran disengaja tanpa diawasi, dan lain-lain. 

Jika sudah terbakar terutama gambut tambahnya maka pemadaman sangat sulit biasanya memerlukan waktu lebih lama dibandingkan pada tanah biasa atau liat. Pernah kisahnya pohon rambutan yang dia rawat dengan baik karena berbuah lebat, turut musnah karena terkena dampak karhutla. Bagian yang terbakar cetusnya sampai ke bawah akar. 

"Sedalam segini," katanya sambil mengisyaratkan bagian pinggang. 

Sementara kendati berada di bawah naungan Kemen LHK artinya di dukung dari pusat, bukan berarti peran pemerintah daerah atau setempat dimana terjadi peristiwa karhutla tidak diperlukan. Anggota Manggala Agni Daops Dumai, Herman Latif menilai peran serta dari unsur pemerintahan masih rendah untuk peduli maupun tanggap dengan setiap kejadian karhutla. Malahan ada yang terkesan menghindar. 

Respon yang baik dirasakan dari sikap Bupati Rokan Hilir H Suyatno AMp. 

"Orangnya peka, dibuktikan dengan keberadaan tim terpadu di daerah Ujung Tanjung, Tanah Putih, Rokan Hilir mendapatkan dukungan penuh dari bupati. Dilengkapi tim kesehatan, koordinasi juga bagus bahkan tak jarang beliau singgah ke tempat tim tersebut," terangnya. 

Empati dan kepedulian atas peristiwa karhutla turut dilakukan Bupati H Suyatno saat adanya kejadian musibah karhutla yang mengakibatkan tewasnya prajurit TNI Pratu Wahyudi pada 2016. Sang bupati turut melakukan pencarian ke lapangan selama beberapa hari.  Kepedulian seperti itu terangnya sangat diharapkan karena jika kepala daerah mau turun tangan maka diyakini perangkat dibawahnya baik dinas, kecamatan maupun kelurahan dan kepenghuluan akan bersikap tanggap juga. 

Ia menyebutkan untuk cakupan tiga wilayah yang ada di Daops Dumai, kepedulian dan tanggap dari kepala daerah hanya dirasakan dari Bupati Rokan Hilir saja. Padahal sangat diharapkan respon serupa juga muncul dari kepala daerah yang lain agar seluruh perangkat pemerintahan mulai dari tingkat kabupaten sampai RT/RW memiliki contoh teladan dan dapat melakukan kepedulian yang sama. 

Selaras dengan itu ditegaskan Komandan Regu I Manggala Agni Daops Dumai, Rahmad. Menurutnya kendati Manggala Agni selalu aktif melakukan penanggulangan karhutla bukan berarti dukungan dari lintas sektor tidak diperlukan. 

"Kita tak bisa bekerja sendiri, tanpa yang lain," katanya.

Tumbuhkan Kesadaran Generasi Millenial tentang si Panglima Api
Syafruddin tengah berburu dengan waktu, titik api masih belum padam di sebuah lokasi di Dumai sementara pelajar tingkat SMA/SMK itu tengah antusias menyimak materi yang disampaikan Wakil Komandan (Wadan) Regu 2 Manggala Agni Daops Dumai ini, Kamis (11/4). 

"Setelah sosialisasi ini, anggota langsung turun ke lapangan melakukan pemadaman lagi," ucap Kepala Manggala Agni Daops Dumai, Jusman. 

Sosialiasi pencegahan Karhutla di wilayah kerja Manggala Agni KLHK Wilayah Sumatera Daops Dumai itu menyasar kalangan millenial, dengan kunjungan ke SMA PGRI Dumai kemarin. 

Pelajar nampak antusias memahami materi yang disampaikan meskipun sebagian belum mengenal benar keberadaan Manggala Agni. Syafruddin memaparkan tentang Manggala Agni, yang menurutnya adalah brigade atau pasukan pengendali karhutla di Indonesia yang dibentuk setelah kementerian Kehutanan menjadi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemen LHK). Tujuan keberadaannya dalam rangka tugas pengendalian kebakaran hutan meliputi penanganan pemadaman dan pasca karhutla. 

Nama Manggala Agni sendiri berasal dari bahasa Jawa, yang mana Manggala berarti Panglima dan Agni adalah api. Paduan kata itu mengisyaratkan keberadaan brigade untuk mampu melakukan pengendalian, langkah penanggulangan, manajemen pengorganisasian pengawasan juga pencegahan dan penanganan baik pada saat maupun pasca karhutla. 

"Logonya gambar apa itu?" tanya Syafruddin sembari mengarahkan pandangan ke slide. Pelajar sontak menjawab, "Orang Utan.". Syafruddin menerangkan maskot tersebut adalah Sipongi yang mengadopsi nama ilmiah Orang Utan. 

Saat ini Manggala Agni Daops Dumai terangnya terdapat 59 personil yang dibagi menangani tiga wilayah kerja Dumai, Rokan Hilir dan Bengkalis sebagian. Terbatasnya jumlah anggota itu maka tidak bisa dinafikan sangat mengharapkan peran serta dari masyarakat untuk membantu. 

Pada awal berdirinya, lebih difokuskan pada penanganan kebakaran lahan dan hutan konservasi seiring perkembangan peran dan tanggung jawab yang ada semakin diperluas.  

"Penyebab karhutla dominan karena perbuatan manusia, 99 persen baik itu disengaja maupun tidak," tukasnya. 

Maka memberikan pemahaman kepada pelajar agar dapat menjadi penyambung informasi kepada orang tua, kerabat maupun tetangga jika ada yang melakukan usaha berkaitan aktifitas perkebunan yang selalu membersihkan lahan dengan cara dibakar agar tidak lagi melakukan pembakaran. 

Dampak karhutla katanya lagi sangat luas bahkan berdampak langsung kepada manusia. Rahmad Saragih siswa Kelas XI Teknik Pemboran SMK Perminyakan PGRI Dumai yang hadir menjawab dengan lantang apa saja dampak buruk yang bisa terjadi. 

"Sesak napas, batuk, tidak bisa sekolah," serunya. Jawaban itu diamini Syafruddin. 

Kepala Manggala Agni Daops Dumai Jusman mengatakan kegiatan itu walau terkesan santai tetap harus diikuti dengan serius, sangat penting bagi generasi millenial memahami soal karhutla serta peran dari Manggala Agni. 

"Saat ini pun masih terjadi karhutla, kalau pagi asap mengganggu pandangan 20-40 meter sudah berkabut," katanya. 

Pria yang bertugas di Dumai sejak 1999 ini mengajak peserta sosialisasi untuk dapat aktif menyampaikan kepada orang tua, kawan dan di lingkungan sekitar agar waspada dengan kejadian karhutla. 

Usai sosialisasi kegiatan dilanjutkan dengan praktek pengenal peralatan dan teknik pemadaman kering yang di pusatkan di halaman sekolah tersebut. Selang sepanjang 60 meter, nozzle dan mesin sudah diletak di lapangan. Komandan Regu I Manggala Agni Daops Dumai, Rahmad bersiap memberikan praktek langsung bagaimana pengunaan peralatan untuk pemadaman.

"Ujung klep jangan lepas, karena kalau lepas sambungannya akan bocor sehingga penyaluran air tidak sempurna," cetus Rahmad kepada pelajar. Sementara untuk pengulungan selang, ada dua varisasi yakni teknik gulun satu dan dua. 

Standarnya untuk medan yang sulit akan digunakan teknik satu sementara gulungan 2 untuk di lapangan. Keberadaan selang yang baik atau yang tidak bisa dipergunakan pun punya ciri khas tersendiri, jika kepala selang terlipat seperti disimpulkan itu menjadi tanda bahwa selang rusak tak bisa lagi dipergunakan. 

Kode simbol sederhana ini meskipun terkesan sepele namun sangat penting, karena ketika petugas atau anggota Manggala Agni harus bergerak cepat untuk mengambil selang di gudang penyimpanan maka secara otomatis bisa langsung memilih selang mana yang baik untuk dipergunakan.

Untuk pengulungan selang pula tidak sembarangan, melainkan ada cara tertentu. Bervariasi, lanjut Rahmad ada seperti membawa Akordion, selang membentuk seperti angka delapan, dan sebagainya tergantung dari medan. Dalam kondisi datar teknik tersebut dilakukan sementara untuk medan yang bergelombang maka teknik lain diterapkan. Hal penting yang harus diperhatikan tambahnya adalah kondisi filter, penyaring air agar tidak sampai tersumbat karena akan mengakibatkan mesin tidak stabil saat penyedotan maupun pengeluaran air. 

Dengan selang sepanjang 20-30 meter, jarak tembakan lebih dari 10 meter. Rahmad menganjurkan untuk lebih maksimal dilakukan pemasangan nozzle yang punya dua sisi sehingga bisa dimanfaatkan dua selang sekaligus untuk melakukan pemadaman dengan cara penyisiran di sayap api, guna memastikan pemadaman maksimal dan tidak ada lagi bara tersisa. 

Guna memastikan pengulungan lancar maka sebelumnya harus dipastikan air yang ada tidak lagi tersisa di dalam gulungan selang. Pengosongan selang akan memudahkan untuk pengulungan lebih cepat dan rapi.  Sejumlah siswa turut mengikuti praktik langsung kegiatan pemadaman. 

"Dengan pembelajaran singkat ini mudaha-mudahan bisa bermanfaat, sehingga adik-adik tahu cara pemadaman jika terjadi di lingkungan. Pertama harus pastikan aspek safety jiwa dulu, baru langkah pemadaman," katanya. 

Jika pemadaman telah selesai tambahnya maka yang memegang selang di bagian depan akan memberikan tanda dua tangan bersilang praktis petugas operator akan mematikan mesin seterusnya melepaskan bagian selang yang tersambung dengan nozzle. 

 Jusman mengatakan tidak hanya pada pemadaman saja, Manggala Agni juga memiliki kewajiban untuk melakukan sosialisasi terutama dengan sasaran bagi generasi muda agar waspada dengan karhutla sejak dini,.

"Sehingga mereka bisa menyampaikan kepada orang tuanya, warga di lingkungan tempat tinggal agar tidak melakukan pembakaran lahan," kata Jusman. 

Penyebarluasan sosialisasi dilaksanakan secara berkala, termasuk lewat pembuatan papan atau plank peringatan yang secara tak langsung mengugah kesadaran masyarakat untuk tak melakukan pembakaran lahan. Berbagai upaya itu adalah bukti nyata karya bakti Manggala Agni untuk negeri.  

Laporan: Zulfadhli (Rokan Hilir)






Tuliskan Komentar anda dari account Facebook