TEATER

Hamlet dan Tiga "Lelaki Kesepian"

Kebudayaan | Minggu, 21 April 2019 - 15:27 WIB

Hamlet dan Tiga "Lelaki Kesepian"

Bisa ditelusuri, dunia seni pertunjukan di Riau agak sepi dari pekerja seni berusia di atas 50 tahun. Bisa disebutkan satu per satu, siapa saja orangnya. Palingtidak, dari sedikit itu ada tiga nama yang sedang mengekspresikan dirinya dalam karya teater berjudul Hamlet seperti Iwan Irawan Permadi (koreografer), A Amesa Aryana (koreografer/ aktor) dan Willy Fwi (sutradara).


(RIAUPOS.CO) -- TEKS berjudul Hamlet karya William Shakespeare itu dipentaskan di Anjung Seni Idrus Tintin, 19-21 April ini dan langsung disutradarai Willy Fwi. Bisa juga dikatakan, tiga "lelaki kesepian" (Iwan Irawan Permadi, Amesa Aryana, dan  Willy Fwi) tersebut mengembuskan angin segar dalam perjalanan seni pertunjukan Riau hari ini. Apalagi, kebanyakan pekerja seni seusia mereka cenderung "pensiun" lebih awal karena lain dan berbagai hal.

Iwan Irawan yang lebih populer sebagai koreografer PLT Laksemana tentu saja telah menghasilkan banyak karya tari. Saat diusut jauh ke belakang, ternyata pernah menggeluti dunia teater bersama komunitasnya di Pulau Jawa. Begitu pula A Amesa Aryana juga seorang penari dan aktor ini pernah belajar di PLT Laksemana, dan menjadi anak kesayangan teaterawan Riau, alm. Idrus Tintin. Pernah pula, mendirikan komunitas (tari) bernama Temali. Hanya saja, komunitas itu menguap bak buih di lautan.

Sementara itu, sang sutradara Willy Fwi yang juga dedengkot komunitas RiauBeraksi Seni Peran memang seorang aktor dan sutradara. Menghasilkan berbagai karya, termasuk salah satunya berjudul Hamlet. Palingtidak, keinginan yang lama terpendam itu wujud menjadi kenyataan.

Bersama aktor-aktor muda dan pendukung pertunjukan lainnya seperti komposer, serta penata panggung lainnya, Willy menyentak keinginan atas keresahannya selama ini.

Relevan Zaman Berzaman

Willy Fwi menjelaskan, lewat lakon Hamlet, sejak lama Shakespeare mengingatkan kita tentang keserakahan yang meluluhlantakkan sebuah legitimasi kekuasaan. "Ini persoalan sifat manusia yang terus relevan dari zaman ke zaman dimana-mana tempat," ulasnya berfilosofi.

Lebih jauh dijelaskannya,  pemilihan naskah ini menjadi reaksi atas kerisauan karutmarut budaya politik negeri ini. Hanya waktu yang akan menentukan kapan pilar-pilar angkuh itu sewaktu-waktu berubah menjadi persembunyian, senjata, keranda dan berujung pada batu nisan. "Cerita muram dan buram, penuh dengki dan kesumat," tegasnya.


Dikatakannya, Hamlet adalah lakon tragedi. Sebuah kisah serakah yang melahirkan tumpukan konflik hingga berujung tragis. Karya William Shakespeare ini ditulis sekitar  1599-1601 di abad Renaissance. Dikenal sebagai abad dengan gerakan Kebudayaan Klasik yang dipuja dan dijadikan model serta dasar bagi seluruh peradaban manusia.

"Yang menjadi tuas kreativitas kami dalam lakon Hamlet ini adalah pengembangan proses indigenisasi klasik Eropa dengan lanskap kebudayaan Indonesia," ujarnya.

Modus kerjanya dengan memunculkan sumber-sumber tradisi walau tanpa “beban tradisi” itu sendiri. Tradisi disentuh dan ditubuhkan sebagai asimilasi yang fleksibel.

Idiom-idiom tradisi dipergunakan sebagai hakikat pengetahuan yang terbatas dan ditubuhkan sebagai suatu cara untuk melakukan kerja lintas budaya yang mencukupi.

Ciri kelokalan pada idiom teaterikal diusung untuk mengartikulasikan konten dan problematik, agar atmosfirnya dikenali, tapi bukan sungguh-sungguh untuk dimiliki.

Tradisi dijembatani dengan berbagai ilmu pengetahuan, dipertautkan, disambungsilangkan, atau dipadupadankan sebagai bagian dari playing tradition sehingga ia juga berfungsi sebagai kekuatan terapi.***



>>>Selengkapnya baca Harian Riau Pos

Laporan Fedli Azis, Pekanbaru
Editor : Rindra Yasin




Tuliskan Komentar anda dari account Facebook