KARTINI MASA KINI

Dari Pencatat Sejarah hingga Penjaga Lingkungan

Feature | Minggu, 21 April 2019 - 11:49 WIB

Dari Pencatat Sejarah hingga Penjaga Lingkungan
Dari kiri ke kanan: dr Syarifah Hidayah Fatriah SpFM, Yusmiati dan dr Nurhidayati Endah Puspita Sari MARS.

Autopsi jenazah. Mendengar nama itu sudah tentu akan terbayang dibenak kita ada rasa takut dan ngeri. Proses dari autopsi jazah dilakukan untuk mencari bukti tentang kematian yang janggal. Seperti kematian yang disebabkan oleh kekerasan atau kecelakaan lalu lintas. Namun bagi seorang dokter spesialis forensik dan medikolegal pekerjaan ini justru menjadi satu pekerjaan yang menyenangkan.


ADALAH dr Syarifah Hidayah Fatriah SpFM. Dalam kesehariannya, Syarifah Hidayah Fatriah bertugas mengotopsi jenazah. Mencari tahu penyebab kematian yang janggal. Termasuk menghadapi korban kecelakaan dan kasus kekerasan. Semua adalah ‘’makanannya’’ sehari-harinya. Tak ada rasa takut. Tak ada pula rasa jijik dan ngeri. Semua tugas itu ia hadapi dengan bermodal tulus ikhlas. Demi membantu mereka mencari kebenaran dan teki-teki penyebab kematian.

Di balik sosoknya yang periang, wanita yang hobi berenang dan membaca ini adalah seorang dokter spesialis forensik dan medikolegal di salah satu rumah sakit swasta di Riau. Pilihan profesinya sebagai dokter forensik, nyatanya mampu mencatat namanya dalam sejarah, sebagai perempuan pertama dan satu-satunya di Riau.

Dr Syarifah, sapaan akrabnya mengaku, dirinya memilih profesi yang terbilang langka dilakoni kaum hawa ini karena ketertarikannya di bidang hukum. “Saat saya menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Riau, saya mulai sadar bahwa saya tertarik ilmu kedokteran forensik dan ilmu hukum. Menjelang akhir perkuliahan, saya sudah mulai menyiapkan persyaratan untuk bisa melanjutkan pendidikan spesialis forensik di Universitas Indonesia,” ujarnya.

Keputusannya memilih jurusan antimainstream tersebut, bukannya tanpa penolakan. Pihak keluarga awalnya sempat meragukan dan mempertanyakan pilihannya tersebut. Sebagai seorang perempuan, dirinya diharapkan memilih bidang spesialisasi lain yang lebih “aman” untuk dirinya. Seperti spesialis syaraf dan lainnya. Namun, keraguan itu lenyap setelah mencoba menjelaskan kepada ayah dan ibunya bahwa pilihannya bukanlah pilihan yang salah dan ia mampu mempertanggungjawabkan pilihannya.  

‘’Ya, orangtua sempat ragu. Tapi, karena saya yakinkan, akhirnya keduanya memberi restu,” sambung anak pasangan Drs Tengku Syaiful AMP dan Ramlah ini.

Semasa kuliah di spesialis forensik, dirinya pernah terlibat dalam mengidentifikasi pesawat hercules yang jatuh di Medan beberapa waktu lalu. Keterlibatannya dalam kejadian yang banyak memakan korban jiwa tersebut, membuatnya semakin yakin dan terpanggil untuk terjun dalam profesi sebagai dokter spesialis forensik.

Di Riau sendiri, kini hanya ada 4 dokter forensik. Ia salah satunya dan menjadi satu-satunya dokter perempuan. Perannya dalam profesinya selain melakukan pemeriksaan pada korban hidup atau korban mati, juga berperan dalam penyelesaian kasus terkait etika dan hukum di rumah sakit, dan memberikan pengetahuan kepada masyarakat terhadap aspek hukum kasus-kasus forensik serta publikasi ilmiah di jurnal kedokteran forensik nasional dan internasional.

>>>Selengkapnya baca Harian Riau Pos


Penulis: Siti Azura dan Prapti Dwi Lestari
Editor: Eko Faizin





Tuliskan Komentar anda dari account Facebook