Pedagang Bunga Mengaku Takut Ikut Proyek Pengadaan

Pekanbaru | Sabtu, 20 April 2019 - 11:27 WIB

KOTA  (RIAUPOS.CO) -- Di balik indahnya penataan bunga-bunga di sepanjang median ruas jalan Kota Pekanbaru, terselip cerita miris di baliknya. Pedagang bunga “menangis” dan terancam gulung tikar sebab ada di antaranya tidak dibayar kontraktor. 

Hal ini diceritakan salah satu pedagang bunga Maharani Flowers,Eli Maharani (38). Kehidupan pedagang bunga tidak seperti empat lima tahun lalu yang bisa menghasilkan Rp30 juta sebulan. Namun sekarang pendapatan sebulan kurang lebih hanya Rp3 juta. 

“Pedagang bunga menangis. Mana yang tidak gigih siap-siap saja. Paling sekarang sehari Rp30 ribu, kadang zonk (tak ada, red),” kata Eli kepada Riau Pos, Jumat (19/4).

Eli memiliki toko di Jalan Kubang Raya ini berdampingan langsung dengan pedagang bunga lainnya. Daerah Kubang sendiri terkenal dengan penjual bunga grosir sehingga harganya lebih murah dibanding di lokasi lain. 

“Pedagang bunga memang ambilnya di sini semuanya. Sebab, di sini memang grosirnya,” tambahnya. 
Penurunan orderan disebabkan berkurangnya peminat. Memang, Eli mengungkap kebanyakan peminat bunga 80 persen adalah pegawai. “Bukan saingan, memang peminat berkurang sekarang,” sambungnya.

Dijelaskan Eli, kebanyakan penjual bunga bekerja sama dalam proyek pegadaan bunga taman maupun jalan. Apabila dulu penjual bunga bisa langsung bisa menerima pembayaran, sekarang penjual harus menunggu bahkan kadang tidak dibayarkan. 

“Kadang-kadang sudah tandatangan kontrak sekian persen tidak dibayar. Uang muka sudah, uang ekornya tidak bayar,” keluhnya.

Ia bercerita ada pedagang yang ikut proyek pengadaan Simpang Binggung, Palas, Rumbai sebanyak Rp15 juta tidak dibayarkan. Menurut kabar berita yang tersebar pemborongnya korupsi dan membawa lari uang tersebut. “Banyak kejadian seperti itu. Pernah ikut proyek di salah satu perusahaan, lama dibayar juga, tidak sanggup akhirnya,” imbuhnya. 

Ketika ditanya pertanggungjawaban pemerintah terkait hal itu, Eli menuturkan tidak bisa menuntut hal tersebut. Sebab, lanjutnya, proyek itu hanya antara penjual dengan pemborong langsung. “Jadi, tidak ada urusan ke sana, langsung antara kami dan pemborong saja,” sebutnya.

Apabila tidak ada perubahan tahun ini, ada kemungkinan ia terancam gulung tikar dan kembali ke kampung halamannya di Sumatera Barat. “Tahun ini saja sudah ada sekitar enam yang gulung tikar,” ucapnya. 

Karena kejadian proyek tidak dibayar tersebut, Eli menyebut penjual bunga banyak yang takut terima proyek tanah maupun taman.  

Padahal, untuk proyek bunga, harga yang dipatok sangatlah murah bisa hanya Rp1.500-Rp2.500 per bunga. 

“Karena grosir, harganya murah. Ini karena dibantu jualan sayur. Jadi terbantu,” tutupnya.(*1)




loading...

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook