ORANG LAUT

Mengembalikan Kebanggaan Budaya Orang Laut

Feature | Rabu, 20 Maret 2019 - 00:37 WIB

Mengembalikan Kebanggaan Budaya Orang Laut
BERANGKAT SEKOLAH: Beberapa anak Suku Laut berangkat ke sekolah di Indragiri Hilir, beberapa waktu lalu. (MUHAMMAD AMIN/RIAU POS)

BAGIKAN


BACA JUGA

Orang Laut di pesisir timur Sumatera pernah jaya dan memiliki kebanggaan. Mereka adalah pengawal dan bagian dari armada laut bagi kerajaan-kerajaan besar Melayu seperti Sriwijaya, Siak, Johor, dan Melaka. Tapi kebanggaan itu perlahan pudar. Kini, mengembalikan kebanggaan itu tengah menjadi perjuangan berat. Dunia pendidikan dianggap jitu mengangkat batang terendam itu.

Laporan Muhammad Amin (Pekanbaru)

DANDI dapat berbangga. Dandi yang sekarang memang berbeda dengan dia ketika di masa remaja awal. Mahasiswa semester II Politeknik Kelautan dan Perikanan Dumai ini kini boleh berbangga sebagai orang Suku Laut. Dia dapat diterima di politeknik ini tak lepas dari jati dirinya sebagai Orang Laut. Ada "jatah" dan serangkaian tes yang ketat yang dilalui untuk mendapatkan beasiswa di sini.

Semua bermula ketika dia mengenyam pendidikan di SMA 1 Concong, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, daerah asalnya. Sejak 2017, di SMA 1 Concong diterapkan mata pelajaran budaya dan bahasa Suku Laut. Sebagai Orang Laut asli, sebenarnya dia nyaris tak memahami bahasa dan budaya Suku Laut. Bahasa dan budaya ini sudah ditinggalkan oleh orang-orangnya sendiri. Tapi dengan menjadi mata pelajaran dan masuk kurikulum, mereka "terpaksa" mempelajarinya.

Kebanggaan itu kemudian muncul ketika mereka menguasai bahasa dan budaya ini lebih cepat. Di Concong sendiri terdapat 60 persen Orang Laut atau Suku Duanu. Sisanya Melayu dan suku lain. Semuanya harus belajar bahasa dan budaya Suku Laut karena merupakan bagian dari mata pelajaran. Anak-anak Suku Laut seperti Dandi kemudian dianggap lebih pintar karena bisa bertanya kepada kedua orang tua yang merupakan penduduk asli. Sedikit banyak, para orang tua pernah menguasai bahasa Suku Laut. Jadilah Dandi lebih mahir dibanding kawan-kawan sekelasnya. Inilah yang membuatnya dapat berbangga.

Kebanggaan yang sama dirasakan Fiton. Siswa kelas XII SMA 1 Concong ini kerap menjadi pemimpin di kalangan teman-temannya ketika belajar bersama bahasa dan budaya Suku Laut. Penyebabnya tak lain karena dia lebih menguasai bahasa Suku Laut melebihi kawan-kawan sekelasnya. Tentu karena dia bisa bertanya kepada kedua orang tuanya yang asli Orang Laut.

Terancam Punah


Suku Laut memang termasuk suku yang "terancam punah". Salah satu suku yang masuk dalam kategori Melayu Tua (Proto Malay) ini bukan akan punah karena orang-orangnya binasa. Mereka yang masuk kategori komunitas adat terpencil (KAT) ini mulai tergerus identitas khasnya, yakni bahasa. Budaya mereka hidup di rakit pun mulai hilang karena abrasi yang parah. Tidak ada lagi rumah-rumah di atas atas tiang pancang di tengah laut karena sudah dihancurkan ombak. Itu terjadi di banyak kawasan Suku Laut.

Ancaman kepunahan bahasa Suku Laut pun benar-benar nyata. Penuturnya hanya tinggal sebagian kecil. Itu pun didominasi orang-orang tua. Jika bahasa punah, ciri dan identitas suku pun akan hilang. Dalam satu dasawarsa terakhir, bahasa mereka tidak digunakan lagi dalam keseharian.

"Ada rasa enggan dan malu menggunakannya. Ini tentu memprihatinkan," ujar Presiden Bangsa Orang Laut Sedunia, Haryono, Kamis (14/3).

Presiden LABOLI, Haryono (kiri) bersama seorang warga Suku Laut menunjukkan prasasti Suku Laut, beberapa waktu lalu. (LABOLI FOR RIAU POS)

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pihaknya, generasi muda umur 7-15 tahun sama sekali tak pernah menggunakan bahasa Suku Laut. Mereka yang berumur 15-20 tahun tak menggunakan bahasa Suku Laut tapi memahaminya. Mereka yang berusia 20-25 tahun paham bahasa Suku Laut, mampu menerapkan dalam keseharian, tapi hanya sesekali. Adapun yang berusia 25 tahun ke atas mampu menggunakan bahasa Suku Laut sesekali dan hanya di lingkungan keluarga saja.

Mengapa bahasa Suku Laut ditinggalkan? Malu dan tidak ada kebanggaan adalah penyebabnya. Bahkan di kalangan mayoritas Suku Laut pun, misalnya di wilayah Kecamatan Concong, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, mereka menggunakan bahasa Melayu dalam keseharian. Bukan bahasa Suku Laut.





loading...

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU