Waspadai Ekspor dan Impor yang Susut

Ekonomi-Bisnis | Senin, 18 Maret 2019 - 11:59 WIB

Waspadai Ekspor dan Impor yang Susut

JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Neraca dagang Indonesia memang sudah surplus 330 juta dolar AS pada Februari lalu. Namun, surplus itu lebih disebabkan impor yang menurun. Bukan ekspor yang naik. Sebab, ekspor Indonesia nyatanya turun 10,05 persen dari Januari menjadi 12,53 miliar dolar AS. Impor pun susut lebih dalam, yakni 18,61 persen, menjadi 12,2 miliar dolar AS.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, surplus yang dialami Indonesia bulan lalu sebenarnya sangat positif. Namun, pihaknya tetap waspada. Pertama, harus diteliti adakah faktor musiman yang pengaruhnya cukup signifikan pada neraca perdagangan. Pada Februari atau Maret, biasanya memang kegiatan ekonomi belum meningkat tajam.

”Dan ini apakah memengaruhi kegiatan ekspor yang mengalami kontraksi. Sebab, impor kita juga mengalami kontraksi yang lebih dalam. Kedua, yang harus kita teliti adalah lingkungan global kita yang melemah. Apakah ini juga menyebabkan pengaruh terhadap kegiatan ekspor kita,” katanya akhir pekan lalu.

Mantan Managing Director World Bank itu menambahkan, pemerintah akan mengevaluasi kebijakan-kebijakan impor yang sudah dikeluarkan. Apakah penurunan impor kemarin dilakukan industri dalam negeri. Sebab, beberapa penurunan impor itu berhubungan dengan bahan baku dan barang modal.

Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), impor paling tajam terjadi pada golongan barang konsumsi 18,77 persen. Diikuti impor bahan baku dan penolong yang turun 7,6 persen, kemudian impor barang modal turun 2,32 persen.

Menurut Ani, penurunan impor memang baik, tapi akan sangat berpengaruh terhadap sektor-sektor ekonomi turunannya. Pemerintah pun akan meneliti apakah penurunan itu karena memang ada substitusi dari dalam negeri atau bukan. ”Kalau ya, itu berarti positif sekali. Kalau tidak, berarti kita juga harus tetap waspada untuk melihat dampaknya pada kegiatan di sektor-sektor yang mengalami penurunan impor tersebut,” lanjutnya.

Tahun lalu pemerintah telah menaikkan pajak impor untuk 1.147 komoditas barang konsumsi. Kenaikan pajak itu ditetapkan 2,5–7,5 persen. Hal itu dilakukan untuk menekan impor barang konsumsi yang substitusinya dapat dengan mudah didapatkan di dalam negeri.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, dengan impor barang konsumsi yang turun 18,77 persen pada bulan lalu, sebenarnya kebijakan penaikan pajak impor barang konsumsi itu sudah mulai menunjukkan hasil.  

Menko Perekonomian Darmin Nasution menilai, ada hal mendasar yang saat ini masih menjadi PR pemerintah. Yaitu, revolusi industri yang mampu mengurangi kebutuhan impor. ”Kita sudah coba kasih insentif supaya bahan baku itu ditemukan di dalam negeri. Cuma memang ya tidak semudah itu. Manufaktur, riset, kita juga masih perlu dorong agar transaksi berjalan baik,” ungkapnya.(rin/c10/oki/das)




loading...

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook