Diwarnai Duel Klasik

Olahraga | Sabtu, 16 Maret 2019 - 09:48 WIB

Diwarnai Duel Klasik

NYON (RIAUPOS.CO) - Perjalanan Manchester United (MU) di Liga Champions musim ini terbilang terjal. Kalau dihitung sejak fase grup, 16 Besar, hingga 8 Besar maka Setan Merah (julukan MU) selalu berhadapan dengan pemuncak klasemen tiga dari lima liga elite Eropa.

Jika di fase grup, MU bersua Juventus. Lalu di 16 Besar bertemu Paris Saint-Germain (PSG). Maka dalam pengundian perempatfinal di markas UEFA, Jumat (15/3), MU akan bertemu Barcelona.

Sehari sebelum pengundian atau Kamis (14/3) lalu Manchester Evening News memprediksi undian-undian ‘neraka’ potensial buat MU. Yakni sang tetangga Manchester City, finalis Liga Champions musim lalu Liverpool, raja domestik Italia Juventus, dan Lionel Messi dkk alias Barca.

Melihat rekam jejak di era Liga Champions, rekor pertemuan MU versus Barca sudah terjadi tujuh kali. MU dan Barca masing-masing menang dua kali dan tiga hasil lainnya seri. Namun dalam dua pertemuan terakhir, tepatnya di final Liga Champions 2009 dan 2011, Barca selalu mempecundangi MU.

Selain duel klasik MU versus Barca, maka pertemuan Ajax lawan Juventus juga rivalitas yang terbangun berdekade yang lalu. Pertemuan paling monumental keduanya di era Liga Champions adalah final musim 1995-1996. Setelah bernain imbang 1-1 di waktu normal, Juventus akhirnya menang 4-2 dalam adu penalti.

Sementara FC Porto yang dianggap tim paling ‘lemah’ diantara perempat finalis lainnya bertemu Liverpool. Pertemuan ini membuka kans revans FC Porto usai musim lalu disisihkan The Reds di 16 Besar. Satu laga perempatfinal lainnya, mempertemukan sesama tim Inggris, yakni Tottenham Hotspur lawan City. Bagi kedua tim pertemuan ini jadi yang pertama. Maklum di era-era sebelumnya baik Spurs dan City tidak punya histori panjang di kancah kompetisi Eropa.

Nah, eks kiper MU Peter Schmeichel melalui akun Twitter-nya menulis Ashley Young dkk tak perlu gentar dengan pertemuan ini. “Barcelona bukanlah tempat terburuk yang didatangi @ManUtd #ComeOnOle,” demikian Schmeichel memberi semangat buat MU dan caretaker MU Ole Gunnar Solskajer yang merupakan rekan setimnya.

Schmeichel mencoba membangkitkan memori manis MU dua dekade silam untuk memotivasi para pemain MU. Ya, MU menjuarai Liga Champions pada musim 1998-1999 berkat kemenangan dramatis di final atas Bayern Munchen dengan skor 2-1 di Camp Nou. Dan caretaker MU saat ini Solskjaer adalah pencetak gol kemenangan MU pada menit ke-90+3. Gol MU lain dicetak Teddy Sheringham (90+1). Bayern sendiri sempat unggul lewat gol Mario Basler (6).

Senada dengan Schmeichel maka eks pelatih MU David Moyes dalam situs UEFA mengatakan di perempatfinal tak ada istilah undian enteng atau undian berat. Semua tim ada di level yang sama. “Saya melihat Barcelona merupakan salah satu favorit untuk memenangi Liga Champions musim ini. Namun pertemuan ini akan menjadi sengit karena Ole (Solskjaer, red) akan kembali ke Camp Nou,” kata Moyes.

Mantan pemain Barca dan Chelsea Deco kepada UEFA menuturkan bintang Barca Lionel Messi akan mengobrak-abrik pertahanan MU.

“Jika kamu setim dengan Leo (Messi) maka itu keuntungan yang tak dimiliki oleh tim lain yang jadi musuhmu,” ujar Deco.

Deco tidak omong kosong. Opta membeberkan statistik apik Messi jika bertemu dengan tim Inggris di Liga Champions. Messi mencetak 22 gol ke gawang tim-tim Inggris. Arsenal jadi tim paling sering dibobol La Pulga. Di antara enam pertemuan, Messi menghasilkan sembilan gol ke gawang The Gunners.

 “Dalam dua final di mana MU kalah, musim 2009 dan 2011 Messi selalu mencetak gol,” tulis UEFA.

Di 2009, ketika Barca menang 2-0 Messi menyumbang gol kedua. Lantas di 2011, saat menang 3-1 Messi mencetak gol kedua. Sedangkan Solskjaer dalam situs resmi MU mengatakan tak terlalu memusingkan siapa yang menjadi lawan mereka di perempatfinal. Semua lawan adalah berat.

“Jika kamu ingin ke final dan memenangi trofi maka yang harus kamu lakukan adalah mengalahkan semua lawanmu,” ujar Solskjaer.(dra/jpg)




Tuliskan Komentar anda dari account Facebook