Sepakat Stabilkan Harga Karet

Ekonomi-Bisnis | Kamis, 14 Maret 2019 - 12:58 WIB

JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Isu tren menurunnya harga karet menjadi fokus pembahasan Presiden Joko Widodo saat menggelar pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) Thailand Don Pramudwinai di Istana Merdeka, Jakarta, kemarin (13/3). Harga karet yang tidak stabil memang merugikan kedua negara.

Menlu Indonesia Retno Marsudi mengatakan, bersama Thailand dan Malaysia, Indonesia merupakan penghasil karet terbesar di dunia. Oleh karenanya, ketiga negara ini memiliki kepentingan terhadap harga karet yang stabil. “Thailand, Indonesia dan Malaysia digabung jadi satu kita akan jadi produsen karet terbesar di dunia,” ujarnya usai pertemuan.

Atas dasar itu, kata Retno, Presiden Jokowi menyampaikan, tidak ada pilihan lain bagi tiga negara tersebut untuk memperkuat kerja sama demi kestabilan harga karet. Menlu Thailand sendiri, lanjut dia, manyampaikan persetujuannya.

Terkait langkah konkrit kerjasama antar kedua negara, Retno menyebut teknisnya dibahas bersama Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution. Sebelumnya, Darmin sudah melakukan pertemuan awal dengan Menteri Pertanian Thailand dan Malaysia pada awal bulan ini. “Tapi at policy level presiden menyampaikan harapannya bahwa kalau kita bekerja sama kuat antar 3 negara tersebut kita yakin harga karet lebih baik dari sekarang,” tuturnya.

Selain persoalan harga karet, sejumlah isu bilateral lainnya juga dibahas. Salah satunya menyangkut krisis di kawasan Rakhine State, Myanmar. Presiden, kata Retno, berharap keterlibatan ASEAN dalam menuntaskan persoalan dikawasan tersebut. Apalagi, Thailand tahun ini berstatus sebagai Ketua ASEAN. “Perlu membantu Myanmar di dalam mempersiapkan repatriasi yang sukarela, damai, dan bermartabat,” ungkapnya.

Sebelumnya, dalam ASEAN Ministerial Meeting di Thailand awal tahun ini telah disepakati menlu 10 negara ASEAN untuk membantu Myanmar dalam repatriasi Rohingya ke Rakhine State. Di mana, ASEAN Humanitarian Assistance Centre (AHA Centre) yang akan membantu proses repatriasi dari Bangladesh.(far/das)




loading...

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook