Aliya dan Kata-kata yang Bergerilya

Kebudayaan | Minggu, 10 Maret 2019 - 10:18 WIB

Aliya dan Kata-kata yang Bergerilya

Rifdah Aliyah, biasa disapa Aliya adalah siswi Kelas XII MIA 2 di SMA Islam As Shofa, Pekanbaru. Gadis berkacamata minus kelahiran Jakarta, 5 Agustus 2002 ini mulai menulis dan menerbitkan buku berupa novel sejak duduk di bangku SD. Novel pertamanya berjudul Lasting Friendship terbit 2012, novel kedua berjudul Paris and Our Dream terbit 2014, dan novel ketiga terbit 2019, berjudul Choosing.


(RIAUPOS.CO) - Berbeda dengan dua novel sebelumnya yang bercerita tentang mimpi dan persahabatan, di novel ketiga ini Aliya mulai berkisah tentang cinta remaja seusianya. Diakui Aliya, menulis cerita bertema cinta tak semudah yang ia kira. Perlu referensi yang lebih banyak dan perlu penghayatan tokoh yang lebih dalam. Tapi, apapun  itu, kata-kata yang mengalir dalam setiap karyanya, selalu mengajak Aliya untuk terus bergerilya, melahirkan karya lagi, dan lagi.

Salah satu alasan mengapa Aliya memilih genre novel dalam menerbitkan karya-karyanya adalah karena sejak kecil ia hobi membaca novel. Bagi Aliya, membaca novel adalah refreshing yang sama asyiknya dengan berlibur ke luar kota, bahkan ke luar negeri. Selain itu, Aliya mengakui bakat menulisnya ini turun dari sang bunda Hening Wicara. Dan Aliya ingin berbeda genre dengan bundanya yang suka menulis puisi.

Selain hobi dan unsur genetika, Aliya juga mengasah ketrampilan menulisnya melalui agenda-agenda kepenulisan yang sering dihadirinya bersama sang bunda yang tergabung di komunitas Forum Lingkar Pena (FLP Riau), seperti acara Madah Pujangga yang dulu sering dilaksanakan di gedung Graha Pena, juga agenda-agenda di panggung Toktan dan panggung Idrus Tintin. Tak hanya itu, Aliya juga bergabung dalam kepengurusan Forum Literasi Remaja Riau (FLR) di Pustaka Wilayah, tentunya bersama penulis-penulis remaja Riau lainnya.

Harapan Aliya, semoga dengan terbitnya Choosing, ia jadi semakin semangat menulis di akun wattpad-nya: @melodillaazz (yang sudah dibaca ribuan akun), untuk kemudian diterbitkan. ‘’Semoga novel ini bermanfaat, menghibur, serta bisa memotivasi teman-teman remaja yang gemar menulis dan membaca,’’ katanya usai peluncuran buku.

Keinginan Aliya untuk menulis memang sudah dimulai sejak kecil. Ia juga rajin membaca dan membeli buku novel. Untungnya, semua keinginan Aliya ini didukung sepenuhnya oleh ibunda Aliya. Pengalaman dan perjalanan hidup baik di rumah mau pun di sekolah, membuat Aliya semakin matang dalam menulis.

Ibunda Aliya, Hening Wicara yang juga salah seorang penyair Riau dan melahirkan buku puisi tunggal berjudul Tentang, Kita Embun dan Cinta serta puluhan antologi puisi ini, mengaku bangga dengan kegigihan Aliya. “Alhamdulillah turut bangga, Aliya bisa menulis sejak kanak-kanak hingga remaja. Bunda berharap semoga Aliya bisa terus menulis dengan meningkatkan kualitas  karyanya, yang tak hanya sekedar ‘menghibur’ tapi juga bernilai dakwah, yang insyaallah pahalanya akan terus mengalir walau jiwa telah terpisah dari zahir,’’ ungkap Hening Wicara.

Buku tersebut diluncurkan beberapa waktu lalu di halaman sekolahnya, As Shofa, disaksikan oleh semua guru dan siswa. Uniknya, semangat Aliya yang sudah tiga kali menerbitkan buku ini menarik semangat guru dan siswa lainnya. Pada kesempatan yang sama, juga diluncurkan enam buku lainnya, yakni satu buku puisi antologi karya guru-guru dan lima buku novel karya guru-guru. Semangat berliterasi ini didukung sepenuhnya oleh pihak sekolah.

Kepala Sekolah As Shofa,  Hj Eli Agustina, M.Pd, menyebutkan, literasi baik untuk guru dan siswa harus selalu didukung, termasuk memberi kesempatan mengikuti pelatihan menulis untuk para guru dengan semua biaya ditanggung pihak sekolah.

‘’Ada pelatihan untuk guru di luar sekolah, kami ikutkan,  tapi mereka harus menghasilkan satu buku atau pulang bawa karya. Maret ini ikut pelatihan lagi, ya dengan syarat pulang bawa tulisan dan dibukukan lagi, setelah itu diluncurkan lagi. Peluncuran buku bersama yang ditulis para guru ini yang pertama. Alhamdulillah, banyak yang menulis. Saya juga menulis, tapi puisi,’’ katanya.

Peluncuran buku ini diberi tema Berkarya Tanpa Batas. Terus berkarya baik guru mau pun siswa. Saling dukung dan menyemangati. Tak heran jika banyak guru yang berminat dan terlibat langsung. Karya-karyanya tidak kalah hebat dengan karya yang lain Karena memang karya ini lahir melalui pembelajaran dan pelatihan menulis.

Nama penulis dalam buku ini yakni, Silvia Hermawanti M.Pd dengan judul Kamu dan Goresanku serta Banting Setir Itulah Pilihan, Suprida S,Pd dengan judul Kekuatan Ikhlash dan Terserah, Netti Safitri SE dengan judul Setitik Asa di Ujung Bukit. Selanjutnya, buku antologi dengan judul Sang Pucuk yang ditulis oleh Aprinandes S.Pd, Hj Eli Agustina M.Pd, Nurhayati, Nur, Silvia Herwanti M.Pd, H Robani S.Ag, Elvis Candra S. Sos, Netti Safitri SE dan Suprida S.Pd.

Buku yang sudah diterbitkan dan luncurkan bersama itu ada juga yang dihibahkan ke perpustakaan Riau agar bermanfaat dan dibaca banyak orang. Proses penulisan hingga peluncuran memakan waktu sekitar tiga bulan. Suasana peluncuran berjalan haru, karena salah seorang guru yang ikut menulis, bahkan sudah menghasilkan dua buku, meninggal dunia beberapa waktu lalu sebelum buku tersebut diluncurkan.***


Laporan KUNNI MASROHANTI, Pekanbaru







Tuliskan Komentar anda dari account Facebook