Karhutla Masih Menyala, 617 Warga Terdampak ISPA

Riau | Jumat, 22 Februari 2019 - 09:22 WIB

Karhutla Masih Menyala, 617 Warga Terdampak ISPA

(RIAUPOS.CO) - KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) di beberapa wilayah di Riau berdampak dengan munculnya kabut asap. Di Pulau Rupat, kobaran api yang cukup besar masih menyala di dua lokasi. Yakni di Kelurahan Terkul  dan Pergam. Tim BPBD Bengkalis dibantu masyarakat setempat masih terus melakukan upaya pemadaman. Cuaca terik dan embusan angin yang cukup kencang membuat api sulit dipadamkan.

Kepala BPBD Bengkalis Tajul Muddaris melalui Kasi Kedaruratan BPBD Kabupaten Bengkalis Rusmali yang baru saja kembali dari Pulau Rupat membenarkan jika api masih  besar membakar lahan di Terkul dan Pergam itu. Selain itu, kata Rusmali, karhutla juga terjadi di tiga titik. Yakni di Jalan Abd Harus, Jalan Tunas Muda dan Sialang. “Kalau di tiga lokasi ini api sudah padam,” ujarnya.

Rusmali mengatakan dalam menangani karhutla di Pulau Rupat ini, semua unsur terlibat. Mulai dari tim BPBD, Manggala Agni, TNI/Polri dan masyarakat. Bahkan partisipasi masyarakat dalam memadamkan api sangat tinggi. Hingga saat ini lahan yang terbakar lebih dari 200 hektare. Di Pulau Bengkalis, karhutla juga masih menyala di Desa Sungai Batang Kecamatan Bengkalis. Sulitnya sumber air, menjadi penyebab sulitnya memadamkan api di lokasi tersebut.

Sebelumnya Sekda Bengkalis H Bustami HY, saat apel Senin (16/2) memaparkan, jumlah hot spot dari Januari hingga13 Februari 2019 berjumlah  56 titik. Sedangkan lahan tebakar kurang lebih 223 ha, terdiri dari Kecamatan Rupat Utara 1 ha (di Desa Titi Akar), Kecamatan Rupat 163 ha (Desa Teluk Lecah, Kelurahan Batu Panjang dan Desa Sukarjo Mesim).

“Kemudian di Kecamatan Bantan 9 ha (Desa Pambang Pesisir dan Desa Bantan Sari), Kecamatan Siak Kecil 17 ha (Desa Muara Dua dan Desa Lubuk Gaung), Kecamatan Talang Muandau 22 ha di areal PT Arara Abadi dan Desa Koto Parit Beringin,” jelas Sekda H Bustami HY.

Sementara itu karhutla yang sempat terjadi di Kabupaten Kepulauan Meranti akhirnya berhasil dipadamkan. Wilayah terakhir yang  berhasil dipadamkan, Kamis (21/2) adalah Desa Lukun, Kecamatan Tebingtinggi Timur, Provinsi Riau. Semula untuk proses pemadaman sempat memakan waktu selama lebih kurang 12 hari.

Sementara tiga lokasi lagi yakni Desa Gayung Kiri, Kecamatan Rangsang sudah padam pada Ahad (17/2/19) malam, Desa Tenggayun Raya, Kecamatan Rangsang Pesisir baru padam pada Kamis (14/2/19) malam. Sementara karhutla di Desa Banglas, Kecamatan Tebingtinggi dipadamkan pada Sabtu (9/2/19)  lalu.

“Awal karhutla terjadi pada 9 Februari 2019. Yang pertama terjadi di Banglas. Dua hari setelahnya terjadi di Desa Gayung Kiri, Lukun dan Tenggayun Raya secara bersamaan. Sehingga kami harus membagi tim pemadam dan peralatan menjadi tiga untuk memadamkannya,” ungkap Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) M Edy Aprizal.

Diakuinya dalam proses pemadaman, Tim BPBD dibantu Polri, TNI dan MPA yang berprinsip belum pulang sebelum api benar-benar pa­dam. Selain proses pemadaman yang dilakukan tim, mereka juga sempat terbantu atas turunnya hujan.





loading...

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU