Dahlan Iskan

Princess Haya

Rabu, 10 Juli 2019 - 10:07 WIB

SEBENARNYA sudah banyak perempuan yang lari dari negeri Arab. Tahun ini saja ada tiga. Itu baru yang menggemparkan semua. Belum lagi yang tidak masuk berita. Tapi yang lari kali ini tokoh perempuan: Haya Hussein. Lengkap: cantik, blonde, ningrat, istri raja, yang keenam pula.

“Semua kita dilahirkan bebas,” kata Haya dalam suatu pidatonya sebagai istri raja (Emir) Dubai. Itu dua tahun lalu.

Di satu forum gerakan perempuan. Kini Haya sendiri yang ingin bebas. Haya bukan ‘hanya’ istri raja. Dia sendiri anak raja: Raja Jordania Hussein. Yang terkenal itu. Dari istri ketiganya, Ratu Alia.

Dengan demikian Haya adalah adik Raja Jordania sekarang, Abdullah II. Beda ibu. Raja Hussein bersahabat sangat baik dengan Ratu Elizabeth, Inggris. Sama-sama raja dengan takhta terlama di dunia. Pun kerjaannya sendiri juga sama-sama kerajaan tua. Jordania disebut juga Kerajaan Hasyimiyun. Yang kuno itu. Yang kekuasaannya tidak pernah putus. Meski wilayahnya berpindah-pindah. Pernah di wilayah yang sekarang menjadi Arab Saudi. Pernah di tanah yang sekarang Iraq. Pun pernah di daerah yang sekarang Suriah.

Terakhir ini saja di Jordania. Hasyimiyun diambil dari nama kakek Nabi Muhammad: Hasyim. Keturunan Hasyim. Kalau Haya sekarang ngumpet di Inggris itu memang daerah ‘kekuasaannya’. Haya kenal semua elite di sana. Sampai ke Ratu Elizabeth. Saat Haya lahir, sang Ratu memberkatinya. Sebagai bayi sahabat yang baik.

Ketika Haya berumur 3 tahun ibunya tewas. Dalam satu kecelakaan helikopter di Jordania.

Masa kecil Haya habis di Inggris. Sekolah di sana. Tumbuh di sana. Remaja di sana. Kuliah di sana. Kecantol pacar tiga kali di sana. Haya benar-benar sangat Inggris. Termasuk hobinya: naik kuda. Dan Haya sering mengenakan topi wanita Inggrisnya. Haya adalah juga equestrian sampai tulang sumsumnya. Equestrian adalah sebutan untuk penunggang kuda wanita.

Berkali-kali Haya mendapat medali. Bahkan ikut cabang balap kuda di Olimpiade Sydney 2000. Mewakili Jordania. Meski tidak mendapat medali apa-apa. Ratu Haya mengikuti balap kuda di Olimpiade Sydney 2000. Empat tahun kemudian Haya dinikahi raja Dubai itu: Syeikh Mohammed. Sebagai istri muda keenam. Tempat pernikahan: Amman, ibukota Jordania.

Usia Haya: 30 tahun. Usia Syeikh Muhammed: 56 tahun. Jumlah anak: dua orang, perempuan dan laki. Kini umur Haya: 45 tahun. Kini usia Syeikh Mohammed bin Rasyid Al Maktoum: 69 tahun. Pemberitaan minggatnya Haya ini sudah merembet ke mana-mana. Mulai dari soal harta sampai soal orang ketiga. Media Inggris banyak menulis soal gosipnya: Haya jatuh cinta dengan pengawalnya. Seorang tentara Inggris. Yang bekerja di perusahaan security Inggris: UK Mission Enterprise Limited. Meski perusahaan Inggris UK Mission milik Dubai.

Gosip lainnya: Syeikh sendiri yang memergoki Haya seranjang dengan bodyguard-nya itu. Saat sang raja masuk rumahnya di London secara tiba-tiba. Konon sang raja minta: saat itu juga Haya pulang ke Dubai. Bersamanya. Tapi Haya menolak. Dia tahu apa yang akan terjadi bila ikut pulang. Bisa dihabisi benaran.

Haya, tulis media Inggris, pilih kawin dengan pacarnya itu. Tapi juga menginginkan agar dua anaknya ikut dia.

Itulah sebabnya Haya mengajukan gugatan di pengadilan Inggris. Agar tidak terikat dengan hukum Islam: bahwa sang anak harus ikut ayah. Entah hukum Islam yang mana yang dimaksudkan itu. Sidangnya masih berlangsung. Sudah dimulai minggu lalu. Akan berlanjut tanggal 30 Juli nanti. Syeikh sendiri sudah bertitah: lewat puisi. Yang diunggah ke akun Twitter-nya: tidak peduli lagi apakah Haya hidup atau mati.

Haya pun mengambil jalur ganda: minta perlindungan di Inggris dan minta tolong kakak tirinya. Inggris mestinya sulit memberi suaka. Alasannya: ini soal rumah tangga. Bukan soal politik. Sang kakak tiri belum memberikan sinyal. Meski sang kakak adalah Raja Jordania. Tapi ia juga harus mempertimbangkan hubungan baik dengan Uni Emirat Arab. Haya memang minta kepada sang kakak: untuk boleh pulang ke Jordania bersama dua anaknya.

Di Inggris pun Haya sudah tidak tinggal di rumah kerajaan. Yang di kawasan super elite Kensington itu. Haya sudah membeli rumah sendiri. Di dekat-dekat situ. Rumah itu dibeli dari raja baja dunia asal India: Laksmi Mittal. Yang juga punya pabrik baja di Sepanjang, selatan Surabaya itu. Media Inggris menulis: harga rumah itu EUR 85 juta. Sekitar Rp1 triliun.

Mungkin Haya tidak akan punya uang sebanyak itu kalau bukan istri raja Dubai. Negara bagian Dubai memang kedua terkaya di negara federasi Emirat (Uni Emirat Arab). Setelah negara bagian Abu Dhabi. Sebenarnya masih ada lima negara bagian lagi di federasi Emirat ini. Tapi nggak usah saya sebutkan. Kecil-kecil sekali. Semua dikuasai raja masing-masing. Yang besar ya hanya dua itu: Abu Dhabi dan Dubai.
 
Meski satu negara, keduanya bersaing di dalam selimut. Raja Dubai ingin negaranya menjadi yang terbaik di dunia di tahun 2021. Rencana strategis itu dibuat di tahun 2007. Ketika Dubai membangun gedung tertinggi di dunia, Burj Al Khalifah, tak lain sebagai bagian dari ‘yang terbaik di dunia’ itu.

Hampir saja Dubai ambruk. Saat terjadi krisis keuangan 2008. Tapi Abu Dhabi turun tangan menyelamatkannya. Dalam UUD Emirat memang disebutkan: Raja Abu Dhabi-lah yang menjabat presiden Emirat. Raja Dubai menjadi wakil presiden merangkap perdana menteri. Lima negara bagian lain mendapat jatah tingkat menteri.

Emirat adalah negara yang sangat muda: merdeka tahun 1971. Itu pun karena Inggris ingin cepat-cepat lepas dari urusan di tanah Arab. Tahun 1966 Inggris sudah memberitahu 9 kerajaan kecil-kecil di kawasan itu. Agar masing-masing mulai mengurus dirinya sendiri. Sebenarnya sembilan kerajaan itu ingin agar Inggris saja yang mengurus mereka. Terutama di bidang pertahanan dan hubungan luar negeri. Tapi Inggris benar-benar tidak mau. Terpaksalah mereka merdeka.

Enam kerajaan bergabung menjadi satu Emirat. Tahun berikutnya satu lagi gabung ke Emirat. Yakni kerajaan mini Ras Al Khaima. Dua lagi berdiri sendiri-sendiri: Bahrain dan Qatar. Urusan Haya adalah persoalan internal Dubai. Abu Dhabi tidak akan ikut mencampuri.

Media Inggris-lah yang tidak henti-hentinya menulis Haya. Mereka ingat kehebohan lama: ketika Putri Diana jatuh cinta pada Al Fayed. Putri Haya adalah Putri Diana. 30 tahun kemudian.***




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook