Persoalan Lintasan Menjadi Fokus PBI Riau

Ekonomi-Bisnis | Jumat, 04 Januari 2019 - 13:15 WIB

Persoalan Lintasan Menjadi Fokus PBI Riau
FOTO BERSAMA: Ketua Umum Pengprov PBI Riau, Ir Anthony Harry (duduk kedua dari kiri) foto bersama dengan pengurus PBI Riau usai rapat pengurus di Pekanbaru, Kamis (3/1/2019). (PBI RIAU FOR RIAU POS).

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Persoalan lintasan menjadi fokus utama Pengprov Persatuan Boling Indonesia (PBI) Riau di tahun 2019 ini. Ketiadaan lintasan yang bisa dipakai, membuat kegiatan latihan atlet-atlet boling Riau terkendala. Untungnya ada beberapa atlet Riau yang masih bisa latihan karena masuk program Pelatnas dan bisa latihan di Jakarta dan di beberapa daerah lainnya. Kondisi ini harus dicarikan solusinya.

Ketua PBI Riau Ir Anthony Harry menyampaikan hal itu dalam rapat pengurus PBI Riau di Hotel Dafam, Pekanbaru, Kamis (3/1). Menurut Anthony, ada beberapa solusi yang dicari untuk mengatasi persoalan ini. Yang pertama adalah melakukan pendekatan kepada PT Chevron agar bisa memakai lintasan yang dimiliki perusahaan minyak tersebut. Baik di Rumbai, Minas, maupun Duri. Dan yang kedua tetap mencari jalan terbaik agar lintasan eks PON 2012 yang ada di Purna MTQ bisa dipakai.

“Lintasan menjadi persoalan utama, dan kami akan mencari jalan keluarnya agar kegiatan latihan atlet tetap bisa dilaksanakan,” ujar Anthony.

Rapat PBI Riau awal tahun 2019 itu dihadiri hampir seluruh pengurus PBI Riau. Mereka antara lain Ketua Harian Fendri Jaswir, Sekretaris Umum Hary B Kori’un, Bendahara Umum Andrini, Ketua Bidang Pertandingan Nursyafrindo, Hendri Agustira (humas), Bambang Irawan Syaputra (wakil sekum), Novrizon Burman, Sofia Yetty, dan beberapa pengurus lainnya.

Dalam rapat tersebut juga disampaikan beberapa keputusan Musornas PB PBI pada 7 Desember 2019. Dalam Musornas yang diselenggarakan di Jakarta tersebut, terpilih Ketua Umum PB PBI periode 2018-2022, yakni Hj Percha Leanpuri, menggantikan ketua lama Suryo Bambang Sulistiyo.

Dijelaskan Anthony, sebagai ketua baru, Percha telah berkomitmen untuk memperbaiki kinerja PB PBI. Hal-hal yang akan dilakukan antara lain mendorong Kemenpora untuk mendirikan Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) boling yang didanai pemerintah pusat di daerah. Hal ini diharapkan bisa memacu lahirnya atlet-atlet muda di daerah.

‘‘Dengan mendirikan PPLP tersebut, otomatis Kemenpora memiliki tanggung jawab untuk membangun lintasan boling di daerah. Minimal, Kemenpora bisa mencarikan jalan keluar menghidupkan kembali lintasan yang sudah mati,” jelas Anthony.

Ditambahkan oleh Hary B Kori’un, sebenarnya Kemenpora sejak 2017 punya program revitalisasi untuk gelanggang olahraga (venue) eks PON. Seperti kita ketahui, gelanggang eks PON, baik di Kalimantan Timur (Kaltim), Sumatera Selatan (Sumsel) maupun Riau, banyak yang terbengkalai. Tak terurus. Hingga saat ini, baru Sumsel dan Kaltim yang melakukan pendekatan secara intensif ke Kemenpora untuk program tersebut. Sedang Riau belum melakukannnya.

“Melalui pengurus dan Ketua PB PBI yang baru, PBI Riau akan berusaha melakukan pendekatan ke Kemenpora agar minimal lintasan boling eks PON 2012 di Pekanbaru mendapatkan jalan keluar agar bisa dimanfaatkan melalu program revitalisasi tersebut,” jelas Hary.

Anthony juga menjelaskan, kegagalan Indonesia meraih medali emas cabang boling pada Asian Games 2018 lalu, menjadi pukulan telak bagi PB PBI. Sebagai negara yang selama ini cukup disegani di cabang boling di Asia, kegagalan tersebut membuat PB PBI harus bekerja keras lagi.

“Untuk itu, seluruh Pengrov PBI se-Indonesia harus bekerja keras meningkatkan prestasi,” jelas Anthony. (eca)




loading...

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook