Isu Negatif Bisa Dorong Penguatan Rupiah

Nasional | Rabu, 19 Desember 2018 - 12:14 WIB

Isu Negatif Bisa Dorong Penguatan Rupiah
DOLAR: Salah seorang konsumen sedang menghitung jumlah uang dolar di salah satu bank. Foto diambil beberapa waktu lalu.

JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Perdagangan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diharapkan dapat melihat dan mengambil kesempatan terhadap isu-isu negatif dari perekonomian global. Sehingga dapat kembali menguat dengan memanfaatkan pelemahan dolar.

Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia defisit 2,05 miliar dolar AS pada November 2018, seiring besarnya defisit di neraca migas. Nilai defisit ini disebabkan oleh dari posisi neraca ekspor yang tercatat sebesar 14,83 miliar dolar AS atau lebih rendah dibandingkan nilai neraca impor sebesar sebesar 16,88 miliar dolar AS.

Analis CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan, adanya rilis neraca perdagangan kemarin telah mengaburkan harapan akan adanya kenaikan pada laju rupiah. Padahal, pada perdagangan di Asia, laju dolar AS sempat mengalami pelemahan, karena pelaku pasar sempat berspekulasi nantinya The Fed belum akan menaikan suku bunganya. 

Bahkan, kata Reza, terdapat jajak pendapat NBC/Wall Street Journal nasional yang menunjukkan bahwa secara keseluruhan, 28 persen warga Amerika mengatakan, ekonomi akan menjadi lebih baik pada 2019. Kendati demikian, sebanyak 33 persen responden memprediksi yang sebaliknya. Kondisi ini sekiranya dapat membuat laju dolar AS melemah.
“Di perkirakan rupiah akan bergerak di kisaran 14.585-14.562.  Diharapkan, jika kondisi tersebut terjadi maka rupiah dapat mengambil kesempatan tersebut untuk kembali menguat,” ujarnya, Selasa (18/12).

Reza juga memaparkan, target support rupiah di level 14.540 yang diharapkan dapat bertahan, di atas level tersebut kandas, di mana rupiah melampaui level tersebut. Akibatnya laju rupiah terus merosot.  Di sisi lain, pelaku pasar juga mengantisipasi akan adanya pertemuan The Fed di pekan ini dan masih adanya imbas perlambatan ekonomi di Tiongkok yang berakibat terdepresiasinya CNY hingga masih adanya ketidakpastian kondisi di Uni Eropa, baik terkait masalah di Italia dan Inggris yang membuat mata uang eropa melemah, sehingga pelaku pasar lebih banyak mengambil posisi beli pada dolar AS, yang mengakibatkan kembali terapresiasinya dolar AS.(mys/jpc)





Tuliskan Komentar anda dari account Facebook