Isu Ekologis dalam Filosofi Silat

Kebudayaan | Minggu, 25 November 2018 - 13:43 WIB

(RIAUPOS.CO) - Helat Silek Art Festival (SAF) yang digelar Komunitas Hitam-Putih Padangpanjang bersama Kemendikbud RI, 19-22 November usai sudah. Tujuh karya dari tujuh sutradara yang diundang panitia Indonesiana memberi gambaran tentang ekologi.

Misal, Lembaga Teater Selembayung asal Riau menyuguhkan karya berjudul, “Padang Perburuan”. Karya berdurasi 38 menit tersebut berangkat dari kegelisahan tentang kerusakan alam Riau, tepatnya di XIII Koto Kampar. Pembangunan PLTA Koto Panjang telah menenggelamkan 10 kampung lama yang harusnya menjadi situs sejarah. Kampung-kampung itu menjadi tapak sekaligus tonggak-tonggak peradaban Kedatuan Mutakui (Muaratakus). Namun saat ini telah dibenamkan di danau buatan PLTA Koto Panjang.

“Saat ini, kita bangga punya objek wisata yang mengagumkan, seperti Ulu Kasok, dan semacamnya. Tapi tidak banyak yang tahu, bahwa di bawah genangan air sedalam 30 meter itu adalah kampung-kampung lama tersebut. Ada luka-luka yang masih menganga dan sulit diobati,” ujar sutradara “Padang Perburuan” Fedli Azis.

Karya ini sendiri berangkat dari esai Budayawan Riau UU Hamidy dengan judul, “Riau sebagai Padang Perburuan”. Meskipun esai itu tidak menyebut PLTA namun sikap dan tabiat manusia yang merencanakan dan membangun waduk itu jelas menggambarkan kehancuran Riau. Dalam esai itu, UU Hamidy menyatakan, tabiat orang Melayu dari sisi negatifnya. Dan Riau memang sudah menjadi padang perburuan sejak lahir, baik oleh penjajah, pusat, bahkan segelintir orang Melayu. Bahkan, secara blak-blakan, tulisan itu beliau menyampaikan, orang Melayu pun, kurang memiliki dirinya sendiri.

Pada sisi artistik, karya “Padang Perburuan” berangkat dari kegelisahan masyarakat XIII Koto Kampar. Masyarakat yang dipindah paksa meninggalkan kampung halaman mereka itu masih merawat luka hingga hari ini. Kebencian mereka pada pemerintah pusat maupun provinsi Riau belum padam. Bahkan, sikap tak merespon baik para pendatang masih bisa dirasakan saat orang luar datang ke sana.

Dalam karya ini, sutradara memadupadankan bunga silat tua (Muaratakus), sastra lisan Kampar Basijobang, dan nondong. Pada pilihan artistiknya, sutradara memang menjadikan silat itu sebagai dasar karya dan sesuai pula dengan tema Indonesiana di Silek Art Festival lalu.

Salah satu kurator Silek Art Festival (Indonesiana) bidang teater Katil mengatakan, karya-karya yang tampil sebagian membawa isu ekologi. Tentang kehancuran negeri mereka akibat modernisasi, termasuk “Padang Perburuan”. Karenanya, ke depan, Katil mengajak pekerja dan pemikir teater Sumatera untuk mengusung tema tersebut pada pertemuan Se-Sumatera.

“Saya lihat beberapa karya bicara tentang ekologi. Ini menarik dan saya kira perlu kita lanjutkan,” kata Katil panjang lebar.(rio)






Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU