Megawati Ingin Diganti
Jumat, 16 November 2018 - 11:00 WIB > Print | Komentar
Megawati Ingin Diganti
ARAHAN: Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati saat memberikan arahan di sekolah calon anggota legislatif (Caleg) DPR RI Gelombang III atau yang terakhir menjelang Pemilu 2019 di Kantor DPP Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Kamis (15/11/2018). (jpg).
JAKARTA (RIAUPOS.CO) -Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri memiliki keinginan besar untuk pensiun di partai yang ia besarkan.

 Mega merasa, di umurnya yang menginjak 71 tahun, perlu regenerasi di tingkat pimpinan partai berlambang banteng moncong putih itu.

“Saya sudah sekian lama berharap diganti, karena umur saya yang sudah plus 17 (71 tahun),” ujar Megawati dalam pembekalan caleg di DPP PDIP, Jakarta, Kamis (15/11).

Di sisi lain, Megawati tak menyangka, di usia senjanya, ia masih dipercaya memegang jabatan di pemerintahan Joko Widodo (Jokowi). Sebagaimana diketahui, putri sang proklamator itu menjabat sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Sekolah caleg dibuka langsung oleh Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri dan sekaligus menutup sekolah kader fungsional. (Issak Ramadhani/JawaPos.com)
“Padahal umur saja sudah 71 tapi malah ditambahi tugas ideologi Pancasila,” katanya.

Presiden ke-5 Indonesia ini pun berseloroh dirinya adalah tokoh yang paling lama menjabat sebagai ketua umum partai politik di Indonesia. Ketua umum di partai-partai lain selalu berganti.

“Memang kalau dilihat perjalanan politik sudah cukup lama. Saya ketum parpol paling senior karena sekian lama belum diganti-ganti. Padahal sudah berharap diganti,” ungkapnya.

Selain itu Megawati juga menyoroti kurangnya perempuan di kancah perpolitikan di Indonesia.

 Sehingga Megawati merasa kesepian karena sangat kurangnya perempuan yang ingin berpolitik.

“Jadi, saya makin hari makin kesal pada diri saya sendiri. Mengapa mereka tidak mau menjadi tokoh politik seperti saya,” ujarnya.

Sekadar informasi, dalam Kongres Luar Biasa PDI yang diselenggarakan di Surabaya 1993, Megawati terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PDI.

Namun, pemerintah tidak puas dengan terpilihnya Mega sebagai Ketua Umum PDI. Mega pun didongkel dalam Kongres PDI di Medan pada tahun 1996, yang memilih Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI.

Mega tidak menerima pendongkelan dirinya dan tidak mengakui Kongres Medan. Ia masih merasa sebagai Ketua Umum PDI yang sah.

Bahkan Mega makin mantap mengibarkan perlawanan. Ia memilih jalur hukum, walaupun kemudian kandas di pengadilan.

Mega tetap tidak berhenti. Tak pelak, PDI pun terpisah menjadi PDI di bawah Soerjadi dan PDI pimpinan Mega. Pemerintah mengakui Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI yang sah. Namun, massa PDI lebih berpihak pada Mega.(gwn/jpg)

(Laporan JPG, Jakarta)

KOMENTAR
Berita Update

Ada Kalajengking di Kabin Pesawat, Begini Respons Lion Air
Minggu, 16 Februari 2019 - 19:45 wib

Bandara Internasional Supadio Ditutup Sementara
Minggu, 16 Februari 2019 - 19:42 wib

45.779 Honorer K2 Resmi Melamar PPPK
Minggu, 16 Februari 2019 - 19:39 wib

Inalum Pasok Bahan Baku Velg
Minggu, 16 Februari 2019 - 14:41 wib

TPS Belum Sepenuhnya Ramah Penyandang Disabilitas
Minggu, 16 Februari 2019 - 13:29 wib

Sandi Langsung Jenguk Pengawal Kampanye yang Tumbang
Minggu, 16 Februari 2019 - 12:26 wib

Petakan Kekuatan Lawan, Kubu Jokowi Siap Gempur
Minggu, 16 Februari 2019 - 12:24 wib

324 CPNS Pemprov Dibekali Pengetahuan Budaya Melayu
Minggu, 16 Februari 2019 - 12:08 wib
Cari Berita
Nasional Terbaru
Utang Bengkak Menjadi Rp5.312 Triliun

Sabtu, 16 Februari 2019 - 11:35 WIB

PLN Turunkan Tarif 900 VA

Sabtu, 16 Februari 2019 - 10:15 WIB

Cari Tahu Aliran Dana Dugaan Korupsi Sub Kontraktor Fiktif
Eks Honorer K2 Diminta Mendaftar

Jumat, 15 Februari 2019 - 09:20 WIB

Keluarga Terus Berikhtiar untuk Kesembuhan Ani

Jumat, 15 Februari 2019 - 09:15 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us
Populer hari ini