Gubsu Tak Muncul, Demo Tolak Kenaikan UMP Ricuh

Politik | Rabu, 07 November 2018 - 11:40 WIB

Gubsu Tak Muncul, Demo  Tolak Kenaikan UMP Ricuh
SALING DORONG: Massa terlibat aksi saling dorong dengan polisi yang berjaga di depan Kantor Gubernur Sumut, Selasa (6/11/2018). (Prayugo Utomo/Jpg)

MEDAN (RIAUPOS.CO) - Elemen buruh berang karena terlalu lama menunggu kehadiran sang Gubernur Sumatera Utara (Sumut), Edy Rahmayadi. Pemegang komando massa langsung mengarahkan buruh untuk masuk ke dalam kantor gubernur yang berada di Jalan Pangeran Diponegoro, Medan, Selasa (6/11).


“Seluruh massa maju satu langkah ke depan,” begitu komando dari pengeras suara. Massa pun maju selangkah. Kemudian komando kembali meminta buruh dari Aliansi Pekerja Buruh Daerah Sumatera Utara (APBD-SU) maju selangkah lagi.


Massa yang di barisan depan awalnya laki-laki, langsung berhadapan dengan barisan border Polisi Wanita (Polwan). Komando pun memerintahkan, massa buruh perempuan pindah ke depan. Setelah rapi, massa maju lagi dan terlibat aksi saling dorong. “Buka gerbangnya, kami mau jumpa gubernur kami,” teriak massa.


Situasi semakin memanas. Massa perempuan terhimpit di depan. Yang laki-laki langsung pindah ke depan. Begitupun di barisan polisi. Mereka menambah pasukan di bagian luar gerbang.


Aksi saling dorong sempat berlangsung lama. Sebelum akhirnya, massa ditenangkan komando. Sempat juga terjadi perang mulut antara polisi dan massa. Komando aksi mencoba menenangkan. Barisan polisi pun akhirnya sedikit mundur ke arah gerbang.


Dalam unjuk rasa, Selasa (6/11), massa menolak Upah Minimum Provinsi yang naik hanya 8,03 persen. Bagi mereka itu tidak manusiawi. Bahkan angkanya juga sampai dianalogikan seperti harga lontong sayur tanpa telur yang dimakan saat sarapan.


Seperti diketahui, Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi telah menyetujui UMP 2019 naik 8,03 persen dari tahun 2018. UMP tahun 2018 sebesar Rp2.132.188,66 mengalami kenaikan menjadi Rp2.303.403.43 atau naik sekitar Rp171.214,75. Artinya perhari, kenaikan upah buruh hanya Rp 5,7 ribu.


Erwin Manalu, pentolan SBSU 1992 mengambil alih komando. Dia langsung menghardik para polisi yang terkesan menghalangi massa untUk massa. “Abang-abang polisi, jangan memporovokasi. Gaji kalian kami yang bayar. Jangan halang halangi, kami,” ungkapnnya.


Dia juga mengecam Edy Rahmayadi yang terkesan tidak berani menemui massa. Sejak demo soal penolakan UMP yang dilakukan kemarin, Edy Rahmayadi memang belum menemui para buruh.



loading...

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook