Salah Kaprah

6 April 2014 - 09.37 WIB > Dibaca 5398 kali | Komentar
 
Salah Kaprah
Riki Utomi Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMK Negeri 1 Merbau-Telukbelitung, Kab. Kepulauan Meranti
Bahasa merupakan sarana penting dalam komunikasi verbal. Agar dapat berlangsung dengan baik, komunikasi verbal haruslah dibangun dengan bahasa yang mudah dipahami oleh pengguna/ penuturnya. Salah satu unsur penting yang harus dipahami dalam bahasa adalah kata. Kata, sebagai unsur pembangun makna, perlu diperhatikan oleh pengguna bahasa. Bilamana kata tidak dipahami dengan baik, dapat dipastikan komunikasi akan terganggu.

Tulisan sederhana ini hendak melihatpenggunaan beberapa kata—yang menurut hemat penulis—telah digunakan secara salah kaprah oleh masyarakat Melayu (pada umumnya) di Telukbelitung, Merbau, Kepulauan Meranti (pada khususnya). Kesalahkaprahan itu terdapat pada penggunaan kosakata yang sederhana, seperti menunggu, bakar, pemakan, dan siap. Kata-kata tersebut digunakan secara semena-mena untuk menyulih kata menanti, panggang, makanan, dan selesai. Padahal, antaramenunggu dan menanti, bakar dan panggang, pemakan dan makanan, serta siap dan selesai memiliki perbedaan makna yang mendasar. Mari kita tinjau satu per satu.

Dalam kehidupan sehari-hari, penulis hampir tidak dapat menjumpai lagi kata menanti digunakan orang. Rupanya, orang sudah tidak bisa lagimembedakannya dengan menunggu. Apakah sama makna kedua kata itu? Makna harfiah kedua kata tersebuttidak persis sama. Dalam kata menanti, sesuatu (objek) yang dinantikan belum ada, dalam kata menunggu, sesuatu (objek) yang ditunggu sudah ada. Perbedaan itu akan tampak lebih jelas terlihat dalam kalimat (1) dan (2) berikut.

(1) Sudah dua jam kami menanti speedboat Meranti Ekspress di Pelabuhan Sungaiduku

(2) Ayah sangat sabar menunggu Ibu yang sedang dirawat di rumah sakit.

Apa perbedaan kata bakar dengan panggang? Sekilas makna kedua kata itu pun tampak sama, tetapi sesungguhnya berbeda. Kata bakar memiliki konteks makna ‘sesuatu (barang, benda, dan lain-lain) yang telah berada dalam api dan berkemungkinan dapat menjadi hangus/gosong’, sedangkan kata panggang memiliki konteks makna ‘sesuatu (barang, benda, dan lain-lain) yang diletakkan di atas api dengan wadah (besi, kayu, dan sebagainya) sehinggatidak menjadikannya hangus/gosong, tetapi menjadikannya masak’. Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan kembali penggunaan kata bakar yang digunakan oleh restoran/warung makan untuk menamai menu makanannya, sepertiayam bakar, ikan bakar, dan bakso bakar. Bukankah akan lebih tepat jika menu makanan itu disebut ayam panggang, ikan panggang, dan bakso panggang?

Contoh lain yang lebih tragis adalah penggunaan kata pemakan. Oleh masyarakat Melayu (terutama di Kepulauan Meranti), kata pemakandigunakan untuk menyatakan bendanya, bukan orangnya: pemakan ringan, bukan makanan ringan. Ini aneh, mengingat makna imbuhan (prefiks/awalan)/pe-/ adalah menyatakan pelaku, seperti pada kata peninjau ‘orang yang meninjau’, pemakai ‘orang yang memakai’, dan penari ‘orang yang menari’. Sebenarnya kita pantas bersyukur.Belakang ini kata pemakan ringan itu mulai jarang digunakan. Namun tragis, bukan kata makanan ringan, makanan kecil, camilan, atau kudapan yang menggantikannya, melainkansnack.

Begitu pun halnya dengan kata siap dan selesai.Dua kata itu juga mengalami tumpang tindih dalam penggunaannya.Masyarakat kita (Melayu, terutama di Sumatera) cenderung menggunakan kata siap (dengan makna ‘selesai, setelah, sesudah’) dalam segala situasi. Padahal, secara garis besar siap dan selesaimemiliki konteks makna yang berbeda. Secara harfiah siapmemiliki pengertian ‘telah siap untuk memulai suatu kegiatan’, sedangkan selesaimemiliki pengertian ‘telah menyudahi, mengakhiri, menyelesaikan suatu kegiatan’. Perbedaan itu dapat terlihat lebih jelas dalam kalimat (3) dan (4) berikut ini.

(3) Kami sudah siap (baik fisik maupun mental) menghadapi semua tantangan yang mungkin akan terjadi dalam kegiatan itu.

(4) Ayah sangat senang karena saya dapat menyelesaikan kuliah dengan baik.

Sebagai tambahan, perlu juga dipertimbangkan penggunaan kata lulus dan lolos. Kedua kata itu juga sering tumpang tindih dalam penggunaannya. Orang cenderung lebih senang menggunakan lolosdaripada lulus. Padahal, kedua kata itu memiliki nuansa makna berbeda. Kata lulus memiliki makna berhasil dalam hal positif, sedangkan lolos memiliki makna berhasil dalam hal negatif. Oleh karena itu, kita perlu mempertimbangkan (kembali) kalimat-kalimat bernuansa positif berikut ini.

(5) Ningrum senang sekali karena lolos seleksi calon pegawai negeri di Kabupaten Kepulauan Meranti.

(6) Setelah mengalahkan tim Malaysia, Timnas U-23 lolos ke babak semi final untuk melawan tim Thailand.

Bukankah kata lolos hanya pantas untuk orang-orang jahat, seperti tampak pada kalimat (7) dan (8) berikut ini?

(7) Pencuri itu lolos dari kejaran polisi.

(8) Pejabat yang terkait kasus korupsi itu tidak dapat meloloskan diri dari pemeriksaan KPK.

Untuk itu, mari kita gunakan kata-kata secara cermat, tidak semena-mena. Ada baiknya kita bersikap kritis dalam berbahasa, tidak secara terus-menerus mengekalkan kesalahkaprahan. Penulis meyakini bahwa kecermatan dan kekritisan itu (disadari ataupun tidak disadari) akan mengajari kita berdisiplin, bertanggung jawab, dan bermarwah. Semoga.


Telukbelitung, 18 Maret 2014
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 25 September 2018 - 18:39 wib

Traffic Website SSCN Padat di Siang Hari

Selasa, 25 September 2018 - 17:38 wib

Angkat Potensi Kerang Rohil

Selasa, 25 September 2018 - 17:30 wib

PMI Ajak Generasi Muda Hindari Perilaku Menyimpang

Selasa, 25 September 2018 - 17:00 wib

BPN Diminta Tingkatkan Pelayanan

Selasa, 25 September 2018 - 16:56 wib

Beli BBM Pakai Uang Elektronik

Selasa, 25 September 2018 - 16:45 wib

Kapal Terbalik, 224 Jiwa Tewas

Selasa, 25 September 2018 - 16:36 wib

Jalan Rusak, Siswa Terpaksa Memperbaiki

Selasa, 25 September 2018 - 16:32 wib

Rangkai Bunga Artificial Jadi Bouquet Cantik

Follow Us