Garap Potensi Pasar Baja di Timur

Ekonomi-Bisnis | Selasa, 16 Oktober 2018 - 14:43 WIB

Garap Potensi Pasar Baja di Timur
PERIKSA KUALITAS: Pekerja PT Krakatau Steel, Cilegon, Banten memeriksa kualitas baja yang diproduksi, beberapa waktu lalu. (INTERNET)

SIDOARJO (RIAUPOS.CO) -  Potensi pemanfaatan baja tulangan di Indonesia Timur terbuka lebar. Berdasar data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), wilayah timur Indonesia defisit produk baja hingga 400 ribu ton. Didominasi produk baja tulangan.

Kasubdit Produktivitas Kementerian PUPR Ellis Sumarna menyatakan, keperluan besi dan baja untuk proyek PUPR tahun depan diprediksi tumbuh 2–3 persen. Itu seiring dengan gencarnya pembangunan infrastruktur di wilayah timur.

Tahun depan anggaran pemerintah untuk membangun perumahan, infrastruktur jalan, jembatan, hingga kawasan industri mencapai Rp110 triliun. ’’Tentu hal tersebut menjadi potensi bagi industri pemasok material pembangunan seperti baja,’’ katanya, kemarin.

Potensi itu ditangkap produsen baja tulangan PT Krakatau Wajatama. Anak usaha Krakatau Steel tersebut berupaya mengembangkan market di wilayah Indonesia Timur dengan menggandeng distributor baja PT Mega Grup Indonesia.

’’Demand wilayah timur cukup tinggi untuk bangun rumah atau fasilitas transportasi, tapi suplainya sangat kurang,’’ jelas Direktur Komersial PT Krakatau Wajatama Teguh Sarwono di sela-sela peresmian Super Store Mega Baja Indonesia, kemarin.

Pihaknya sengaja menggandeng Mega Grup agar produk baja tulangan yang telah bersertifikat SNI itu bisa dipasarkan langsung ke segmen ritel. Dengan begitu, end user dapat dengan mudah mendapatkan baja yang telah tersertifikasi.

Teguh mengungkapkan, saat ini kapasitas produksi baja tulangan di Krakatau Steel mencapai 600 ribu ton per tahun. Namun, tingkat utilisasinya masih sekitar 50 persen. Penyebabnya adalah persaingan pasar yang cukup ketat. Terutama adanya serbuan baja impor yang tidak menerapkan SNI.

’’Tujuan lain kami berpartner dengan Mega Grup adalah untuk melindungi konsumen dari produk-produk baja yang belum teruji keamanannya. Sekaligus mengedukasi masyarakat pentingnya menggunakan baja yang telah ber-SNI,’’ tegas Teguh.

Direktur Utama PT Mega Grup Indonesia Deni Djuanda menjelaskan, pembukaan Mega Baja di Sidoarjo merupakan yang pertama di Jatim dan Indonesia Timur untuk penetrasi pasar. ’’Karena Jatim adalah penghubungnya. Sejauh ini Mega Grup telah memiliki 58 outlet distribusi yang tersebar di Jawa dan Lampung,’’ tuturnya.

Super Store Mega Baja berdiri di atas lahan 1 hektare dengan nilai investasi Rp10 miliar. ’’Store tersebut akan menjadi pusat distribusi sejumlah produk besi dan baja dari beberapa pabrikan. Salah satunya, Krakatau Wajatama khusus produk baja tulangan,’’ ungkapnya.(car/c22/fal/jpg)



Tuliskan Komentar anda dari account Facebook