Perumahan Tenggelam Jadi Memorial Park

Nasional | Rabu, 10 Oktober 2018 - 13:22 WIB

Perumahan Tenggelam Jadi Memorial Park
TERISOLIR: Lautan lumpur terjadi setelah terputusnya jalan aspal akibat likuifaksi berbarengan dengan gempa yang membuat Desa Jono Oge Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah menjadi terisolir. Foto diambil Selasa (9/10/2018). (BOY SLAMET/JPG)

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Pemerintah dan gabungan tim tanggap bencana memutuskan menghentikan operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) besok (11/10) atau 13 hari pascagempa dan tsunami yang melanda Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng).

Kapusdatin dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, keputusan tersebut diambil dalam rapat gabungan yang dipimpin Gubernur Sulteng Longki Djanggola pada Senin (8/10) lalu.

Pertimbangan tersebut diambil, selain karena masa tanggap darurat pertama sudah berakhir, juga sangat kecil sekali kemungkinan korban selamat ditemukan setelah lebih dari sepekan sejak bencana terjadi. Korban yang berhasil dievakuasi pada beberapa hari belakangan pun kondisinya sudah melepuh dan tidak dikenali. “Harus segera dikubur karena dikhawatirkan menimbulkan penyakit,” kata Sutopo, Selasa (9/10).

Selain itu, evakuasi di wilayah-wilayah yang terkena likuifaksi, yakni di Petobo, Balaroa, dan Jono Oge tidak dimungkinkan. Beberapa area lumpurnya masih basah. Alat berat tidak bisa beroperasi. Sementara eskavator amfibi belum didapatkan.

Kondisi medan tidak memungkinkan, karena ratusan rumah kondisinya sudah tenggelam dan tidak tampak di permukaan. Sehingga, evakuasi difokuskan pada rumah-rumah yang masih tampak di permukaan.

Bekas area perumahan di Balaroa, Petobo dan Jono Oge nantinya akan dibangun sebagai ruang terbuka hijau (RTH) berbentuk memorial park.  “Akan didirikan monumen peringatan gempa dan tsunami 2018 untuk menjadi edukasi pada generasi selanjutnya,” kata Sutopo.

Sementara ribuan warga ketiga perumahan tersebut akan dibuatkan hunian sementara (huntara) lalu akan dibangunkan hunian tetap (huntap). Lokasi huntap nantinya akan disediakan oleh  bupati/wali kota. “Tapi lokasinya akan diteliti dulu oleh para ahli, apakah aman dari aktivitas seismik,” jelas Sutopo.

Gabungan Pemprov Sulteng, Pemda dari 4 kabupaten terdampak dan semua unsur penanggulangan akan melakukan rapat pada hari ini (10/10) untuk memutuskan apakah masa tanggap darurat akan diperpanjang atau tidak.





loading...

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook