Kurs Berharap Sentimen Positif Pertemuan IMF-World Bank
Cadangan Devisa Negara Terus Menyusut
Selasa, 09 Oktober 2018 - 13:12 WIB > Print | Komentar
JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Upaya intervensi Bank Indonesia (BI) untuk menstabilkan nilai tukar rupiah menguras cadangan devisa (cadev). Bahkan, saat ini posisi cadangan devisa per September merupakan yang terendah sejak Januari 2018. Hingga akhir September, cadangan devisa Indonesia mencapai 114,8 miliar dolar AS. Lebih rendah jika dibandingkan dengan posisi bulan sebelumnya 117,9 miliar dolar AS.

Direktur Departemen Komunikasi BI Junanto Herdiawan menjelaskan, penurunan cadev pada September 2018 terutama dipengaruhi pembayaran utang luar negeri pemerintah. ’’Juga masalah stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global,’’ jelasnya.

Meski demikian, Junanto memastikan bahwa besaran cadev saat ini masih aman. Posisi tersebut setara dengan pembiayaan 6,5 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Serta, berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Pihaknya menilai, cadev itu mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. ’’Ke depan, Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai didukung keyakinan terhadap stabilitas dan prospek perekonomian domestik yang tetap baik serta kinerja ekspor yang tetap positif,’’ katanya.

Direktur Penelitian CORE Indonesia Piter Abdullah menuturkan, posisi cadev di kisaran 114 miliar dolar AS masih cukup untuk membiayai keperluan impor hingga akhir tahun. ’’Artinya, posisi cadev kita masih aman. Rule of thumb-nya cadev cukup untuk menutup keperluan minimal 3 bulan impor,’’ ujarnya, kemarin.

Meski begitu, Piter mewaspadai proyeksi cadev ke depan. Sebab, rupiah diprediksi terus tertekan sampai akhir tahun. Bahkan hingga tahun depan. Ruang BI untuk melakukan intervensi menggunakan cadev akan makin sempit. ’’Artinya, ada risiko, baik untuk cadev maupun posisi rupiah, pada tahun depan. Ini yang harus diantisipasi BI dan pemerintah,’’ tegasnya.

Sementara itu, analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji menyatakan bahwa pergerakan rupiah terhadap dolar AS (USD) dan indeks harga saham gabungan (IHSG) bakal mendapatkan sentimen positif dari penyelenggaraan IMF-World Bank Annual Meetings di Bali. 

Juga, data makroekonomi domestik yang diperkirakan menguat 3,1 persen dari 2,9 persen. ’’Rupiah berpeluang terapresiasi terhadap dolar AS untuk pekan depan (pekan ini, red). Range 14.950–15.425,’’ terangnya.

Peneliti Indef Bhima Yudhistira mengungkapkan, faktor utama pelemahan kurs rupiah hingga akhir tahun adalah kenaikan harga minyak mentah dan tingginya impor. Apalagi, menyambut Natal dan tahun baru, penggunaan transportasi meningkat. ’’Tekanan harga minyak membuat defisit migas melebar sehingga memperburuk CAD (current account deficit),’’ paparnya. (ken/nis/c14/fal/jpg)
KOMENTAR
Berita Update

Peta Politik di Jabar Sudah Berubah Drastis? 52,4%
Sabtu, 15 Februari 2019 - 20:30 wib

Kemendagri Jawab Isu e-KTP WNA Bisa Dipakai Mencoblos
Sabtu, 15 Februari 2019 - 20:24 wib
Banyak Honorer K2 Tenaga Teknis Protes Keras

Banyak Honorer K2 Tenaga Teknis Protes Keras
Sabtu, 15 Februari 2019 - 20:13 wib

20.790 Honorer K2 Kemenag Diminta Segera Daftar PPPK
Sabtu, 15 Februari 2019 - 20:02 wib
Janji Menindaklanjuti Halte Branding Rokok

Janji Menindaklanjuti Halte Branding Rokok
Sabtu, 15 Februari 2019 - 17:35 wib

Perbaikan Jalan Soekarno-Hatta Tunggu Lelang
Sabtu, 15 Februari 2019 - 17:01 wib
Cari Berita
Ekonomi-Bisnis Terbaru
Ekonomi Syariah Bisa Jadi Andalan

Jumat, 15 Februari 2019 - 11:13 WIB

RS Awal Bros Pekanbaru Ajak Orangtua Waspada Penyakit Kanker
Fastwork Platform Freelance Online Serbu Pasar

Jumat, 15 Februari 2019 - 10:16 WIB

Taspen Bukukan Laba Rp271 Miliar

Jumat, 15 Februari 2019 - 08:50 WIB

Ribuan Mobil Mewah Tunggak Pajak dalam Pengejaran Pemprov DKI Jakarta
Sagang Online
loading...
Follow Us
Populer hari ini