Performa Rupiah Terburuk di Asia Tenggara
Jumat, 14 September 2018 - 11:46 WIB > Dibaca 528 kali Print | Komentar
Jakarta (RIAUPOS.CO) - Meski tidak masuk negara yang rentan krisis, namun mata uang rupiah memiliki kinerja terburuk dibandingkan mata uang negara-negara Asia Tenggara lainnya. Dilansir dari Bloomberg, pada 2018, rupiah turun hampir 9 persen di atas Filipina, Vietnam, Malaysia dan Thailand.

Berdasarkan data Bloomberg, posisi rupiah paling dalam mengalami pelemahan hingga 8,8 persen, peso 7,6 persen, ringgit 2,5 persen, Vietnam 2,5 persen dan baht 0,7 persen.

Hal ini menjadi pukulan telak bagi Presiden Joko Widodo. Menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) lalu direspon oleh Bank Indonesia yang kemudian menaikkan suku bunga acuannya.

Sementara dari sisi fiskal, pemerintah melakukan upaya penyusutan defisit neraca perdagangan dari 2,1 persen terhadap PDB menjadi 1,85 persen. Akan tetapi, arus modal yang masuk dalam bentuk mata uang pada akhirnya ditentukan oleh daya tarik negara sebagai tujuan investasi jangka panjang.

Bloomberg menulis pada indeks itu, Indonesia memiliki skor yang sangat buruk. Ini tercermin dari investasi asing pada kuartal kedua yang mengalami kontraksi 12,9 persen dari tahun sebelumnya.

Penurunan pertama investasi setidaknya terjadi sejak 2011, yang menempatkan Indonesia di peringkat akhir dibandingkan negara tetangga di Asia Tenggara.

Di sisi lain, Indonesia juga menutup pintu dari Cina. Padahal atas program One Belt One Road (OBOR) memicu manufaktur besar-besaran di Vietnam. Satu-satunya kerja sama strategis Indonesia dengan Cina adalah proyek kereta cepat Jakarta-Bandung senilai 5,9 miliar dolar AS.

Dana proyek infrastrukturnya yang berjumlah Rp 4.800 triliun (323 miliar dolar AS) dibiayai dari berbagai macam instrumen. Bloomberg menyebut, sejak Jokowi mulai menjabat pada Oktober 2014, jumlah obligasi pemerintah lokal yang beredar hampir dua kali lipat menjadi Rp2,274 triliun dan hampir 40 persen dari yang dimiliki oleh orang asing.

Sehingga, ketika pasar negara berkembang berada dalam gejolak, manajer dana global baik menjual kepemilikan mereka atau melindungi risiko mata uang mereka ke depan yang tentunya kedua hal ini akan menekan rupiah. “Dalam membelanjakan investasi langsung asing yang lebih stabil, negara ini merayu investor dengan uang portofolio panas,” tulis Bloomberg, Kamis (13/9).

“Mungkin sudah terlambat untuk kembali. Jendela untuk booming konstruksi luar negeri (dari, red) Cina tampaknya akan ditutup. Pada kuartal kedua, pertumbuhan pendapatan konstruksi infrastruktur keluar Cina melambat menjadi hanya 0,3 persen, dari 5,8 persen tahun lalu. Krisis utang baru-baru ini di antara teman-teman lama di Beijing di Argentina, Venezuela, dan Pakistan dapat lebih jauh menyerap uang Cina,” katanya.(uji/jpg)

KOMENTAR
Berita Update
Bawaslu Tertibkan 246 APK Peserta Pemilu

Bawaslu Tertibkan 246 APK Peserta Pemilu
Jumat, 17 Januari 2019 - 16:32 wib
OPD Diminta Segera  Laksanakan Kegiatan

OPD Diminta Segera Laksanakan Kegiatan
Jumat, 17 Januari 2019 - 16:15 wib

Komitmen Naker Lokal Dipertanyakan
Jumat, 17 Januari 2019 - 16:00 wib

Pengrusak Atribut PD Dijebloskan ke Rutan
Jumat, 17 Januari 2019 - 15:35 wib
Puskesmas Tambusai Jadi Percontohan

Puskesmas Tambusai Jadi Percontohan
Jumat, 17 Januari 2019 - 15:30 wib
Pembangunan Roro  di Insit Hampir Rampung

Pembangunan Roro di Insit Hampir Rampung
Jumat, 17 Januari 2019 - 15:15 wib
TP4D Siap Lakukan Pendampingan

TP4D Siap Lakukan Pendampingan
Jumat, 17 Januari 2019 - 15:00 wib
Peran Camat dan Penghulu Turut Menentukan

Peran Camat dan Penghulu Turut Menentukan
Jumat, 17 Januari 2019 - 14:30 wib
Cari Berita
Ekonomi-Bisnis Terbaru
Rumah Janda Diseruduk Mobil Travel

Kamis, 17 Januari 2019 - 12:30 WIB

Toyota New Avanza dan Veloz Lebih Mewah, Stylish dan Senyap
Kompetisi eSport Berhadiah Golden Ticket Grand Final Indonesia Master 2019
Batik Bono Tingkatkan Perekonomian Warga Pelalawan

Rabu, 16 Januari 2019 - 11:05 WIB

Rp2,91 Miliar Bangun Pasar Dua Kecamatan

Selasa, 15 Januari 2019 - 15:31 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us
Populer hari ini