Performa Rupiah Terburuk di Asia Tenggara
Jumat, 14 September 2018 - 11:46 WIB > Dibaca 332 kali Print | Komentar
Jakarta (RIAUPOS.CO) - Meski tidak masuk negara yang rentan krisis, namun mata uang rupiah memiliki kinerja terburuk dibandingkan mata uang negara-negara Asia Tenggara lainnya. Dilansir dari Bloomberg, pada 2018, rupiah turun hampir 9 persen di atas Filipina, Vietnam, Malaysia dan Thailand.

Berdasarkan data Bloomberg, posisi rupiah paling dalam mengalami pelemahan hingga 8,8 persen, peso 7,6 persen, ringgit 2,5 persen, Vietnam 2,5 persen dan baht 0,7 persen.

Hal ini menjadi pukulan telak bagi Presiden Joko Widodo. Menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) lalu direspon oleh Bank Indonesia yang kemudian menaikkan suku bunga acuannya.

Sementara dari sisi fiskal, pemerintah melakukan upaya penyusutan defisit neraca perdagangan dari 2,1 persen terhadap PDB menjadi 1,85 persen. Akan tetapi, arus modal yang masuk dalam bentuk mata uang pada akhirnya ditentukan oleh daya tarik negara sebagai tujuan investasi jangka panjang.

Bloomberg menulis pada indeks itu, Indonesia memiliki skor yang sangat buruk. Ini tercermin dari investasi asing pada kuartal kedua yang mengalami kontraksi 12,9 persen dari tahun sebelumnya.

Penurunan pertama investasi setidaknya terjadi sejak 2011, yang menempatkan Indonesia di peringkat akhir dibandingkan negara tetangga di Asia Tenggara.

Di sisi lain, Indonesia juga menutup pintu dari Cina. Padahal atas program One Belt One Road (OBOR) memicu manufaktur besar-besaran di Vietnam. Satu-satunya kerja sama strategis Indonesia dengan Cina adalah proyek kereta cepat Jakarta-Bandung senilai 5,9 miliar dolar AS.

Dana proyek infrastrukturnya yang berjumlah Rp 4.800 triliun (323 miliar dolar AS) dibiayai dari berbagai macam instrumen. Bloomberg menyebut, sejak Jokowi mulai menjabat pada Oktober 2014, jumlah obligasi pemerintah lokal yang beredar hampir dua kali lipat menjadi Rp2,274 triliun dan hampir 40 persen dari yang dimiliki oleh orang asing.

Sehingga, ketika pasar negara berkembang berada dalam gejolak, manajer dana global baik menjual kepemilikan mereka atau melindungi risiko mata uang mereka ke depan yang tentunya kedua hal ini akan menekan rupiah. “Dalam membelanjakan investasi langsung asing yang lebih stabil, negara ini merayu investor dengan uang portofolio panas,” tulis Bloomberg, Kamis (13/9).

“Mungkin sudah terlambat untuk kembali. Jendela untuk booming konstruksi luar negeri (dari, red) Cina tampaknya akan ditutup. Pada kuartal kedua, pertumbuhan pendapatan konstruksi infrastruktur keluar Cina melambat menjadi hanya 0,3 persen, dari 5,8 persen tahun lalu. Krisis utang baru-baru ini di antara teman-teman lama di Beijing di Argentina, Venezuela, dan Pakistan dapat lebih jauh menyerap uang Cina,” katanya.(uji/jpg)

KOMENTAR
Berita Update

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah
Minggu, 22 September 2018 - 15:49 wib
Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Stroberi Berjarum Repotkan Australia
Minggu, 22 September 2018 - 14:47 wib
Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu
Minggu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu
Minggu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet
Minggu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion
Minggu, 21 September 2018 - 19:00 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP
Minggu, 21 September 2018 - 18:30 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa
Minggu, 21 September 2018 - 18:00 wib
Tolak Politik Transaksional
Apresiasi Komitmen Partai
Minggu, 21 September 2018 - 17:30 wib
Warga Dambakan Aliran Listrik

Warga Dambakan Aliran Listrik
Minggu, 21 September 2018 - 17:00 wib
Cari Berita
Ekonomi-Bisnis Terbaru
Hotel Prime Park Promo Wedding Expo

Jumat, 21 September 2018 - 16:01 WIB

Novi UKM Mitra Alfamart

Jumat, 21 September 2018 - 15:27 WIB

Belanja Hemat hingga 50 Persen di Informa WOW Sale

Jumat, 21 September 2018 - 14:45 WIB

Aplikasi BPJSTKU Raih Penghargaan ASSA Recognition Award di Vietnam
BPJS TK Beri Penghargaan pada Tiga Perusahaan Terbaik

Kamis, 20 September 2018 - 20:34 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us
Populer hari ini