Depan >> Opini >> Opini >>

Machasin

Strategi Pemberdayaan UMKM

2 Mai 2013 - 11.45 WIB > Dibaca 16397 kali | Komentar
 
Strategi Pemberdayaan UMKM

KEBERADAAN dan peran UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) dalam menunjang kegiatan ekonomi nasional, terutama untuk mengatasi persoalan kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan antar sektor, sangat penting dan strategis. Oleh karenanya penguatan terhadap ekonomi skala kecil dan menengah menjadi prioritas menuju terciptanya fundamental ekonomi yang kokoh. Namun dalam melaksanakan peran dan merealisasikan potensi yang besar tersebut, UMKM  masih menghadapi banyak permasalahan baik secara internal maupun ekternal.

Permasalahan UMKM
UMKM sebenarnya memiliki potensi sangat besar, namun masih menghadapi keterbatasan dalam mengembangkan kapasitas dan akses sumberdaya produktif. Permasalahan pokok yang dihadapi UMKM  adalah: Pertama,  rendahnya produktivitas, yang disebabkan oleh rendahnya kualitas sumber daya manusia khususnya dalam bidang manajemen, organisasi, penguasaan teknologi, dan pemasaran.

Kedua, keterbatasan akses permodalan. Keadaan itu bagi UMKM amat menyulitkan untuk meningkatkan kapasitas usaha ataupun mengembangkan produk-produk yang bersaing. Meskipun pemerintah telah memberikan solusi melalui kebijakan berbagai skim kredit murah dan mudah, namun hal tersebut sulit terjangkau oleh UMKM.

Ketiga, penguasaan teknologi, manajemen, informasi dan pasar;  relatif masih jauh dari memadai, sedangkan untuk memenuhi keperluan tersebut, memerlukan biaya yang besar apalagi untuk dikelola secara mandiri oleh UMKM. Untuk mewujudkan maksud tersebut, maka pemerintah perlu menggagas strategi pemberdayaan UMKM  yang tepat melalui pendekatan sentra dan BDS.

Sentra UMKM dan BDS
Konsep pemberdayaan UMKM melalui  pendekatan ”Sentra” diartikan sebagai model perkuatan, pengembangan dan penumbuhan UMKM yang dilakukan melalui pengelompokkan berdasar jenis usaha. Hal ini didasari pada pemikiran bahwa model pembinaan UMKM secara massal dinilai sangat tidak efektif, dan terkesan menghabiskan anggaran. Permasalahan yang dihadapi UMKM sangat rumit dan komplek, sehingga sangat tidak tepat jika pola pembinaan terhadap UMKM dilakukan secara massal.  Karena itu perlu dilakukan pendekatan yang spesifik dan tepat sasaran oleh konsultan ahli bisnis yang profesional.

Sentra UMKM, adalah pengelompokan jenis usaha yang sejenis (minimal 20 UMKM) dikelompokkan dalam satu wilayah tertentu,  kepada mereka diberikan sentuhan pembinaan dan perkuatan oleh konsultan ahli sebagai pendamping yang dikenal dengan sebutan Business Development Service (BDS). Tujuannya adalah untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing UMKM.

Sentra UMKM dan BDS merupakan satu kesatuan yang saling menunjang dan melengkapi. Karena itu pembentukan sentra UMKM harus disertai dengan tersedianya BDS yang memadai dan kompeten. Idealnya anggota sentra UMKM harus bergabung dalam satu wadah koperasi sentra, sehingga semua keperluan untuk memperlancar proses produksi barang dan jasa dapat dipenuhi dari koperasi.

Kunci keberhasilan dari pendekatan ini terletak pada sinerginya antar lembaga Pembina termasuk pemerintah, dengan UMKM, serta adanya jaringan bisnis yang baik antar UMKM itu sendiri. Untuk itu diperlukan kerja sama yang intensip dari ketiga komponen tersebut, dalam rangka mensinergikan dan mempercepat akselerasi tumbuhnya sentra-sentra  UMKM.

Prioritas Strategi
Terdapat enam hal yang menjadi prioritas strategi bagi  UMKM dalam usaha meningkatkan kinerjanya. Pertama, mempermudah UMKM untuk mengakses permodalan. Kedua, memperluas jaringan pemasaran.

Ketiga, meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Keempat, tersedianya sarana dan prasarana usaha yang memadai. Kelima, terciptanya iklim usaha yang kondusif, dan keenam, teknologi yang tepat guna.    

Dinas Koperasi dan UMKM sebagai institusi yang bertanggung jawab terhadap perkembangan dan pertumbuhan UMKM, harus mendorong tumbuhnya sentra-sentra UMKM dan sekaligus mempersiapkan tenaga konsultan BDS yang mengerti tentang bisnis. Terlebih lagi pada era persaingan global seperti sekarang ini, dimana UMKM dituntut harus menguasai teknologi  dalam mengakses berbagai informasi tentang bisnis.

Jika semuanya dilakukan dengan selaras melalui pendekatan program (bukan proyek), maka pertumbuhan UMKM yang spektakuler bukan sekadar mimpi lagi karena potensi pasar domestik dan pasar global merupakan peluang yang dapat dipenuhi oleh UMKM di negeri sendiri, bukan sebaliknya digarap oleh pengusaha dari negara lain.

Karena itu kegiatan pemberdayaan melalui pendekatan sentra UMKM dan BDS harus menjadi prioritas bagi pemerintah. Pertanyaannya, sudahkan pemerintah serius melakukan pemberdayaan terhadap UMKM? Entahlah, yang terlihat dan teramati oleh kita semua, UMKM masih menjadi produk politik praktis bagi para politisi yang akan mencari dukungan menjelang Pemilu. Setelah Pemilu selesai dan para politisi telah mendapatkan  kursi emas sebagai pejabat negara,  mereka ditinggal begitu saja bahkan justru ditangkapi dengan alasan mengganggu ketertiban dan kenyamanan kota. Sungguh malang nasibmu UMKM, statusnya sebagai anak tiri pemerintah yang sesekali dimanja namun kerap kali disiksa.***

Machasin
Dosen Program Magister Manajemen Fakultas Ekonomi Unri
KOMENTAR
Terbaru
66 Orang Terjaring  Razia Malam

Rabu, 26 September 2018 - 10:30 WIB

Terpantau CCTv, Maling Dihajar Pegawai Pemprov

Rabu, 26 September 2018 - 10:28 WIB

KTP Luar Pekanbaru Bisa Ikut

Rabu, 26 September 2018 - 10:25 WIB

STIKes Hang Tuah-FAI UIR Jalin Kerja Sama

Rabu, 26 September 2018 - 10:15 WIB

STIKes-STMIK Hang Tuah Tuan Rumah Festival Paduan Suara Se-Riau
Follow Us