Sensori Film
Lembaga Sensor Film tak "Berkuku"
Minggu, 02 September 2018 - 15:53 WIB > Dibaca 5916 kali Print | Komentar
Lembaga  Sensor Film tak  "Berkuku"
FOTO BERSAMA: Fibri Hardianto, komite teater dan film DKR, dan peserta diskusi kreatif sensor film berfoto bersama di gedung olah seni (GOS) Taman Budaya Riau, Selasa (28/8/2018). FEDLI AZIS riau pos
Berita Terkait





Lembaga Sensor Film (LSF) tak lagi digdaya. Peran dan fungsinya kian terkikis oleh kemajuan dan perkembangan teknologi digital yang tak henti berinovasi. Kini, LSF hanya sekadar memberikan catatan pada sebuah karya film, bagian mana saja yang perlu disensor.
-----------------------------------------------------------------------------
(RIAUPOS.CO) - LEMBAGA yang dulunya berhak menggunting setiap adegan film  yang tidak pantas ini, tak lagi berdaya sama sekali. Pihak LSF sudah terbiasa melihat adegan tak senonoh karena memang para sineas dan produser sengaja menciptakan itu sebagai daya tarik dengan alasan karya seni.

 "Kami tidak punya ’kuku’ seperti dulu lagi. Kebijakan sudah bergeser dan kami tak bisa bertindak tegas dengan menggunting atau memotong adegan tak pantas dalam karya para sineas," ungkap Drg Rommy Fibri Hardianto selaku Ketua Sub Komisi Hukum, merangkap Juru Bicara LSF.

Hal ini disampaikan Fibri  Hardianto pada acara Diskusi Film dan Sosialisasi Budaya Sensor Mandiri, Selasa (28/8) di Gedung Olah Seni (GOS) Taman Budaya Riau. Diskusi kreatif tajaan LSF, Disbud Riau, komite teater dan film Dewan Kesenian Riau (DKR) itu, tentu saja memberikan pemahaman penting bagi para sineas yang berkesempatan hadir. Apalagi, dunia perfilman di Riau mulai menunjukkan perkembangan secara kuantitas.

Dalam diskusi dan sosialisasi yang berlangsung pagi hingga siang itu, cukup banyak hal yang mengemuka. Dalam pembicaraan itu, ada beberapa poin yang menarik. Misal, sejauh mana integritas LSF sendiri menyikapi persoalan sensor?

Menanggapi pertanyaan itu, pihak  LSF menjelaskan, sebenarnya, mereka memiliki tugas dan tanggung jawab moral menyikapi setiap persoalan yang terkait sensor.

LSF memiliki tahapan-tahapan dan prosedur dalam menanggapi, menindaklanjuti dan menyelesaikan permasalahan. Lalu, bagaimana caranya memberitahu seseorang terkait batasan umur dalam menonton film?

Fibri mengatakan, setiap orang dapat menyampaikan tentang konten ataupun ciri umum tentang mengapa ada batasan umur setiap tayangan atau film yang mereka tonton. Dampak dari menonton yang tidak sesuai umur itu akan berpengaruh besar terhadap daya serap dan perilaku seseorang tersebut.

Pertanyaan lain, adakah sebuah peranti atau perangkat khusus untuk bisa secara otomatis bekerja sebagai alat sensor menyeleksi film atau iklan di handpone atau gadget yang tidak layak dikonsumsi? Maka, sebuah sistem memang diperlukan untuk mencegah sesuatu bisa terjadi.


KOMENTAR
Berita Update

Diduga Gauli istri Orang, Oknum Dewan Dilaporkan
Rabu, 23 Januari 2019 - 14:15 wib

Penertiban APK tanpa Pandang Bulu
Rabu, 23 Januari 2019 - 14:11 wib

Komisioner KPU Janji Beri Jawaban Secepatnya
Rabu, 23 Januari 2019 - 14:05 wib
Kementerian ESDM Diminta Bangun Sumur Bor Warga

Kementerian ESDM Diminta Bangun Sumur Bor Warga
Rabu, 23 Januari 2019 - 14:00 wib

Mabit Pererat Ukhuwah Mahasiswa, Pemuda dan Warga
Rabu, 23 Januari 2019 - 13:35 wib

Jatmiko Krisna Santosa Jabat Dirut PTPN V
Rabu, 23 Januari 2019 - 13:28 wib

Petambak Garam Curhat ke Sandiaga Uno
Rabu, 23 Januari 2019 - 13:22 wib
17 PNS Korupsi Tunggu Pemecatan

17 PNS Korupsi Tunggu Pemecatan
Rabu, 23 Januari 2019 - 13:21 wib

Sony Melaju ke Babak Pertama
Rabu, 23 Januari 2019 - 13:15 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
"Padang Perburuan" dan Panggung Hening Taman Budaya

Minggu, 20 Januari 2019 - 20:29 WIB

Mengeluh, Jalan Menuju Kematian

Minggu, 20 Januari 2019 - 20:20 WIB

Seni dan Budaya Melayu Dilestarikan Bersama

Selasa, 15 Januari 2019 - 14:45 WIB

Petir Jagung

Senin, 14 Januari 2019 - 10:16 WIB

Ajang Pamerkan Karya Seni

Rabu, 19 Desember 2018 - 09:39 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us