Riau Pos berupaya menjembatani aspirasi pembaca atau masyarakat Riau pada umumnya. Jika itu berbentuk keluhan terhadap pemerintah daerah, Riau Pos akan menyiapkan liputannya dan diterbitkan di halaman ini. Termasuk instansi lain. Tentunya melalui kaedah atau etika yang sudah ditentukan. Dan Riau Pos berhak untuk memilih mana yang ditindaklanjuti dan yang mana tidak dengan berbagai pertimbangan. Kami juga akan mengedit seperlunya aspirasi pembaca yang dimuat, tanpa mengurangi/menghilangkan substansi isi. Untuk menyampaikan aspirasinya, silahkan kirim pesan teks atau foto, atau keduanya melalui:WA: 081334159333. Email/FB: riaupos.interaktif@gmail.com IG: @riaupos_interaktif, Twitter: @riaupos2017. Path: @riaupos2017.
Petani Minta Kecocokan Harga TBS
Sabtu, 18 Agustus 2018 - 09:17 WIB > Dibaca 434 kali Print | Komentar
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Kabid Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Riau Vera Virgianti SHut MM mengatakan, banyak faktor yang menjadi penyebab terjadi perbedaan harga beli tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Riau. Di antaranya adalah kualitas TBS itu sendiri, petani yang tidak menjual TBS langsung ke pabrik melainkan melalui pengepul dan belum berkelompoknya para petani.

Untuk faktor pertama, yakni kualitas TBS. Saat ini menurut Vera banyak petani sawit swadaya di Riau yang dahulunya menanam sawit dengan tidak menggunakan bibit yang unggul dan bersertifikat. Hal ini akhirnya mempengaruhi kualitas hasil TBS ketika sawit sudah besar.

‘’Karena dari awal bibitnya sudah salah, atau sering disebut bibit palsu. Akhirnya kualitas TBS tidak bagus, dengan kondisi ini pabrik tentu tidak mau membeli dengan harga tinggi,’’ katanya.

Faktor kedua, lanjut Vera, yakni banyak petani swadaya yang menjual TBS kepada pengepul. Di sini pengepul tentunya juga mencari keuntungan dengan menurunkan harga belinya kepada petani. Biasanya, pengepul di sini juga tidak hanya satu orang sehingga dapat dipastikan sampai ke petani harga akan lebih rendah lagi. ‘’Bayangkan saja jika ada tiga pengepul, bisa-bisa harga sampai ke petani sudah setengah harga dari harga pasaran sebenarnya. Jadi mata rantai pengepul ini harus diputus, lebih baik petani langsung menjual ke pabrik,’’ jelasnya.

Namun untuk menjual TBS langsung ke pabrik, lanjut Vera, petani harus membuat kelompok terlebih dahulu agar lebih mudah dikoordinir. Dengan begitu, petani akan lebih mudah mempunyai harga tawar ketika menjual TBS ke pabrik. ‘’Contohnya saja petani plasma, selama ini mereka sudah berkelompok. Sehingga ketika menjual TBS, harganya tidak terlalu jauh dari harga yang telah ditetapkan,’’ sebutnya.(sol)
KOMENTAR
Berita Update
BPN Riau Gelar Apel Hari ATR
34 Pegawai Terima Satya Lencana
Selasa, 25 September 2018 - 14:40 wib
Schneider Electric Garap Pasar Rumah Sakit Indonesia

Schneider Electric Garap Pasar Rumah Sakit Indonesia
Selasa, 25 September 2018 - 14:33 wib

Semarakkan HPI, Penyair Riau Hadir di Pasaman Sumatera Barat
Selasa, 25 September 2018 - 14:33 wib
Waspadai Penipuan Seleksi CPNS

Waspadai Penipuan Seleksi CPNS
Selasa, 25 September 2018 - 14:30 wib

Komunitas BR-V Meriahkan Showroom Event Honda Soekarno Hatta
Selasa, 25 September 2018 - 14:26 wib

Sekda Defenitif Resmi Dilantik
Selasa, 25 September 2018 - 14:00 wib

Komunitas WA Group Berbagi Edukasi UMKM
Selasa, 25 September 2018 - 13:57 wib

Verdivir Juara I MBtech Awards 2018 di Palembang
Selasa, 25 September 2018 - 13:40 wib
Remaja Disekap dan Diperkosa
Minta Tolong Dicarikan Pekerjaan
Selasa, 25 September 2018 - 13:39 wib

Suka Fajar Paparkan Ketangguhan Triton
Selasa, 25 September 2018 - 13:36 wib
Cari Berita
Interaktif Terbaru
Tahanan Perambah TNBT Dititipkan ke Polres

Selasa, 28 Agustus 2018 - 14:58 WIB

Tak Dibantu, Sejumlah Jalur Tetap Berangkat

Senin, 27 Agustus 2018 - 13:50 WIB

Gangguan Jaringan, 17 Jam Layanan Telekomunikasi Terputus
Benarkah Tarif  Retribusi Sampah Naik?

Jumat, 17 Agustus 2018 - 09:58 WIB

Benarkah Uji Kendaraan Dilakukan ke Pelalawan?

Sabtu, 11 Agustus 2018 - 10:26 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us