Produk Domestik Tak Cukup, Impor Pangan Melonjak

Ekonomi-Bisnis | Kamis, 09 Agustus 2018 - 12:22 WIB

Produk Domestik Tak Cukup, Impor Pangan Melonjak
PELUNCURAN: Dirut KSEI Friderica Widyasari Dewi (lima kanan) bersama Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen (enam kanan), Dirut BEI Inarno Djajadi (tujuh kanan) dan jajaran Direksi dan Komisaris SRO serta Nasdaq saat pembukaan perdagangan di gedung BEI Jakarta dalam rangkaian acara peluncuran C-BEST generasi terbaru atau C-BEST Next Generation (Next-G) oleh KSEI, Rabu (8/8/2018). (KSEI FOR RIAU POS)

BAGIKAN


BACA JUGA

JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Sektor pa­ngan di Indonesia belum mampu dipenuhi dari paroduksi dalam negeri. Hal tersebut dibuktikan dari impor pangan yang masih menunjukkan tren meningkat dalam dua tahun terakhir. Langkah impor diambil sebagai salah satu instrumen untuk menjaga kestabilan pasokan dan harga dalam negeri.

Kemendag menyatakan, impor bahan pangan naik 10 persen dalam periode 2015-2017. Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Tjahja Widjayanti mengatakan, Indonesia harus mendatangkan bahan pangan dari luar negeri karena pasokan dalam negeri tak mencukupi. ”Impor bahan pangan sampai saat ini menjadi salah satu instrumen perdagangan yang dilakukan pemerintah untuk menjamin pasokan dan stabilisasi harga,” ujar Tjahya di Jakarta Rabu (8/8).

Menurut dia, peningkatan tren impor juga masih berlanjut hingga semester pertama 2018. Berdasar data, BPS nilai impor barang konsumsi sepanjang Januari hingga Juni 2018 mencapai 8,18 miliar dolar AS atau setara Rp117,7 triliun dan naik 21,64 persen secara year-on-year (YoY).

Komoditas pangan menjadi salah satu penyumbang terbesar kenaikan impor barang konsumsi tersebut. BPS mencatat, beras, gula, biji gandum, serta garam adalah komoditas dengan volume impor terbesar semester pertama 2018. Dari sisi nilai, penyumbang impor terbesar adalah beras, gula, kedelai, serta biji gandum.

Kendati demikian, Tjahya mengklaim bahwa selama ini impor hanyalah pilihan terakhir. Sebab, pemerintah telah menekankan tiga prioritas penting dalam sektor perdagangan. Salah satunya melalui stabilisasi bahan pokok lewat penyerapan dalam negeri.

Kemendag berharap bantuan dari para peneliti dan akademisi dalam menyusun proyeksi permintaan pangan Indonesia hingga 2045. Dengan demikian, pemerintah bisa melakukan antisipasi terhadap lonjakan permintaan pangan ke depannya.

Pengamat pertanian sekaligus guru besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa menyebutkan bahwa tren peningkatan impor pangan masih susah dihindari. Terlebih karena Indonesia belum fokus memperkuat sektor produksi pangan. Bahkan, dia memprediksi peningkatan impor masih berlanjut sampai semester kedua 2018.

Misalnya, komoditas beras. Dwi menyebutkan, ada potensi gangguan produksi pada musim panen kedua, yakni sekitar Agustus–September. ”Ada laporan ancaman serangan hama dan kekeringan di beberapa daerah. Kami akan lihat nanti hasil panen kedua tahun ini bagaimana. Kalau terganggu, impor tidak akan terbendung lagi,” ujarnya.

Dwi memprediksi kondisi serupa terjadi pada komoditas gula. Melihat kondisi semester pertama 2018, izin impor gula mentah diperkirakan kembali dibuka pemerintah pada sisa tahun ini. ”Serapan bahan baku gula oleh industri mamin cukup tinggi pertumbuhannya. Bukan tidak mungkin kuota izin impor selanjutnya akan ditambah,” lanjutnya.(agf/c25/oki/jpg)


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU