Rumah Kapitra Dilempar Bom Molotov
Selasa, 07 Agustus 2018 - 18:19 WIB > Dibaca 555 kali Print | Komentar
JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Rumah Kapitra Ampera di Jalan Tebet Timur Dalam 8 diduga dilempar bom molotov, Senin (6/8) malam. Belum diketahui siapa dalang dari pelemparan bom molotov tersebut. Mantan penga­cara Imam Besar FPI Habib Rizieq Sihahab Kapitra pun membenarkan soal aksi teror tersebut. 

“Iya, rumah abang dimolotov,” ucap dia saat dikonfirmasi.

Menurut dia kejadian berlangsung cepat. Benda diduga molotov itu dikatakan sempat meledak lantaran terlihat dalam rekaman kamera Closed Circuit Television di kediamannya. 

“Itu langsung pecah. Saya punya CCTV bisa dilihat nanti. Saya masih di masjid, tadi istri ngasih tahu,” katanya.

Menurut pengakuan istrinya, diduga ada dua bom molotov yang meledak satu di garasi dan satu lagi mengenai rumah. 

“Dua molotov, satu pecah di garasi. Itu dilempar, di garasi, masuk ke dalam rumah,” ujar dia.

Dihubungi terpisah, Kapolsek Tebet Kompol Eko Mulyadi mengatakan pihaknya sedang mengecek kebenaran tersebut. 

“Lagi dicek dulu ya. Belum ada datanya,” kata Eko.(dna/jpc/jpg)

”Akan bergerak ke Lombok Utara sebagai rumah sakit darurat,” ungkap Wiranto. 

Kapal bantu rumah sakit itu juga turut membawa satu kompi prajurit Zeni Tempur TNI AD dan seratus personel Pasmar-2 Surabaya. Menurut Wiranto, tambahan tenaga itu diperlukan lantaran banyak masyarakat dan korban gempa yang butuh penanganan medis. Hasil pantauan yang kemarin dia lakukan, RSUD Kota Mataram penuh. 

”Kami lihat di tenda-tenda itu tidak cukup. Oleh karena itu dikerahkan TNI,” jelasnya.

Selain itu, mereka juga mendirikan rumah sakit lapangan. Di antaranya rumah sakit lapangan dari Yonkes 1 Kostrad dengan kekuatan seratus personel dan perlengkapan medis. ”Lalu tim kesehatan Polri ada lima unit. Sekarang sudah masuk ke daerah-daerah bencana,” ungkap Wiranto.
 
Tim medis sengaja diperintahkan bergerak ke daerah-daerah bencana. Sebab, masih ada korban gempa yang belum berhasil dievakuasi dari reruntuhan bangunan. Tidak heran Wiranto menyebutkan bahwa jumlah korban masih berpotensi bertambah. Baik korban luka maupun korban meninggal dunia. Agar evakuasi lebih cepat, pemerintah mengerahkan ekskavtor. Pemda NTB dibantu TNI, Polri, dan pihak swasta sudah mengerahkan ekskavator ke beberapa titik. 

”Untuk pembersihan puing-puing rerentuhan. Sehingga diharapkan dapat menyelamatkan saudara-saudara kita,” kata dia.

Lebih lanjut, Wiranto menyampaikan bahwa upaya evakuasi ribuan wisatawan dari sejumlah destinasi wisata di NTB juga dilakukan. Termasuk di antaranya dari Gili Trawangan. 

”Kami bersyukur dengan sangat cepat maka dikerahkan kapal-kapal dari polda ada empat kapal, Pelni 3 kapal, Mabes Polri ada 2 kapal, dan Angkatan Laut 2 kapal,” jelasnya. 

Sampai kemarin sore, sudah 1.870 wisatawan asing yang disebrangkan ke Mataram. Mantan Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) itu memastikan bahwa tidak satu pun wisatawan asing di Gili Trawangan menjadi korban. 

”Yang dilaporkan tadi (kemarin, red) delapan orang meninggal dunia itu bukan orang asing,” imbuhnya. 

Menurut dia, semua warga negara asing (WNA) yang sedang berada di Lombok maupun destinasi wisata di sekitar pulau tersebut selamat. Persoalan lain yang berkaitan dengan listrik maupun saluran komunikasi juga terus diupayakan agar segera tuntas. Sebab, keduanya sangat penting dalam penanggulangan bencana. Wiranto menyebutkan, BNPB sudah menyiapkan seratus unit genset untuk disebar ke lokasi-lokasi yang kini tidak teraliri listrik. Sementara saluran komunikasi dipastikan bakal pulih secara bertahap. 

”Sudah akan lancar kembali, akan dipulihkan,” tegasnya. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pun terus memantau kemunculan gempa susulan pasca gempa 7 SR yang mengguncang Lombok Utara. Data dari BMKG sampai pukul 19.00 WIB malam tadi terjadi 184 kali gempa susulan. Namun dari jumlah tersebut hanya 13 gempa susulan yang dirasakan guncangannya.

Melihat grafik perekaman gempa susulan, menunjukkan informasi penurunan. Sepanjang Senin (6/8) kemarin, gempa susulan pada pukul 19.00 tercatat sebanyak empat kali. Dibandingkan pada Senin (6/8) dini hari pukul 02.00 tercatat sebanyak 20 kali.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyampaikan belasungkawa kepada para korban gempa Lombok. Menurut dia kebanyakan korban meninggal akibat tertimpa reruntuhan bagunan. Untuk itu dia mengimbau supaya masyarakat tetap tenang dan waspada.

’’Untuk sementara waktu tidak berada di bawah bangunan-bangunan yang rawan runtuh,’’ katanya kemarin. 

Selain itu masyarakat diimbau tidak berada di sekitar lereng atau tebing yang rawan longsor ketika ada gempa susulan. Terkait gempa susulan, dia mengatakan gempa susulan dengan daya guncang terbesar terjadi pada Ahad malam (5/8) dengan kekuatan mencapai 5,7 SR. Dia mengatakan munculnya gempa bumi susulan merupakan mekanisme alam guna menghabiskan energi gempa yang masih tersisa. Dengan demikian setelahnya batuan atau lempeng bumi kembali dalam kondisi stabil.

Dia menyebutkan gempa bumi yang mengguncang Minggu itu adalah gempa bumi dangkal. Pemicunya adalah aktivitas sesar naik Flores (flores back arc thrust). Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa ini dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan patahan naik (thrust fault).

Dwikorita lantas menjelaskan kenapa peringatan tsunami muncul, padahal episentrum gempa berada di daratan. Dia menjelaskan bahwa sumber gempa bumi bukanlah suatu titik. Tetapi merupakan bidang patahan yang menerus atau melampar memajnag hingga bidang patahan atu robekan batuan tersebut masuk di dasar laut dekat Pantai Lombok bagian  utara. 

’’Hal inilah yang akhirnya memicu terjadinya tsunami,’’ jelasnya.

Bukan kali ini saja Indonesia diguncang gempa. Sebagai negara yang berada di kawasan cicin api, Indonesia begitu rawan dengan gempa. Hanya Pulau Kalimantan saja yang diprediksi tidak akan terjadi gempa. Salah satu cara meminimalisir korban dan kerugian saat gempa adalah memperhatikan kontruksi bangunan. Pengamat Manajemen Konstruksi dari Universitas Pelita Harapan Manlian Ronald A Simanjuntak mengatakan bahwa bangunan yang aman bukanlah yang kaku. ”Kokoh di sini bukan yang kaku. Harus dinamis terhadap beban, seperti lentur mengikuti ayunan getaran” ucapnya kemarin.(wan/far/byu/syn/lyn/jpg)

KOMENTAR
Berita Update

AHY Temui UAS di Pekanbaru
Senin, 17 Desember 2018 - 15:17 wib

149 Peserta Ikut Ujian Profesi Advokat
Senin, 17 Desember 2018 - 15:09 wib
Bupati Pimpin Doa Pemberian Gelar Adat Presiden

Bupati Pimpin Doa Pemberian Gelar Adat Presiden
Senin, 17 Desember 2018 - 15:00 wib

Penyeludup Paruh Burung Rangkong Ditangkap
Senin, 17 Desember 2018 - 14:30 wib
MTQ Tingkat Provinsi Riau
9 Qori Melaju ke Final
MTQ Tingkat Provinsi Riau
Senin, 17 Desember 2018 - 14:30 wib

Dorong Wisata Olahraga Jadi Iven Tahunan
Senin, 17 Desember 2018 - 14:00 wib
Pelti Siak Agendakan Open Turnamen Tingkat Provinsi
Petenis Bengkalis dan Siak Berbagi Medali
Senin, 17 Desember 2018 - 13:45 wib

Syamsuar Tepuk Tepung Tawar Jokowi
Senin, 17 Desember 2018 - 13:30 wib
Pelaku PETI Garap Lokasi Baru

Pelaku PETI Garap Lokasi Baru
Senin, 17 Desember 2018 - 13:30 wib
Cari Berita
Kriminal Terbaru
Penyeludup Paruh Burung Rangkong Ditangkap

Senin, 17 Desember 2018 - 14:30 WIB

Dua Pelaku  Pencuri Teralis Ditangkap Polisi

Senin, 17 Desember 2018 - 13:15 WIB

Polisi Telusuri Asal Usul Narkoba

Minggu, 16 Desember 2018 - 14:32 WIB

6 Kilogram Sabu untuk Tahun Baru Gagal Beredar

Jumat, 14 Desember 2018 - 15:00 WIB

Ribuan Ekstasi dan 1,5 Kilogram Sabu Dimusnahkan

Jumat, 14 Desember 2018 - 09:00 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us