Redaksi

Solusi untuk Penambang Emas Liar

27 April 2013 - 10.40 WIB > Dibaca 12233 kali | Komentar
 

Kebijakan pemerintah melarang Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di sepanjang Sungai Kuantan dan Kampar menunjukkan sebuah kepedulian pada alam. Namun, selalu saja terjadi kucing-kucingan antara penambang dengan aparat pemerintah.

Kemarin, ada enam kapal milik PETI yang dibakar aparat, namun ini tidak membuat jera para penambang liar tersebut. Harga emas yang membuat mereka nekat melakukan penambangan liar. Kadangkala penambang sering memanfaatkan waktu, jika pemerintah sedang semangat-semangatnya melakukan penertiban, mereka sembunyi setelah itu barulah mereka muncul lagi.

Sering juga aktivitas PETI mendadak sepi saat pemerintah dan aparat turun ke lapangan. Selanjutnya akan kembali marak saat pemerintah dan aparat tak lagi di lokasi. Kesan yang muncul bahwa ada oknum yang turut mendapat bagian di sana.

Terlepas benar atau tidak, ada beberapa hal yang perlu dicermati pemerintah. Pertama,membuat kebijakan pelarangan aktivitas PETI dan komitmen menerapkan hukuman bagi yang kedapatan melanggarnya.

Kedua, melakukan pengawasan yang ketat. Dengan adanya pengawasan dan penegakan hukum yang jelas, maka dijamin tak akan ada lagi warga yang berani melakukan penambangan ilegal. Ini bisa dibuktikan dengan ketatnya pengawasan illegal logging. Saat ini, masyarakat sudah takut menebang kayu.

Ketiga,melakukan penyuluhan yang rutin terkait dampak PETI terhadap ekosistem yang berujung pada rusaknya alam yang akhirnya merugikan masyarakat.

Keempat, membuat tambang emas legal yang tidak banyak berpengaruh pada pengrusakan alam. Cara ini memang perlu sebuah kajian yang matang. Mulai dari potensi, dampak lingkungan, dan lainnya.

Tambang ini nantinya mempekerjakan masyarakat tempatan. Sehingga mereka bisa memenuhi keperluan hidup yang semakin hari semakin berat.

Langkah ini jauh lebih baik dilaksanakan. Di samping bisa mengurangi angka pengangguran, sekaligus bisa mendatangkan pendapatan bagi daerah. Dari pada dilarang tapi terus berlanjut, dan alam rusak, lebih baik dikoordinir dengan baik.
Selain itu, PETI ini rawan konflik, baik antara PETI dengan petani ikan yang menyebabkan air sungai kerus dan ikan banyak yang mati, namun juga rawan konflik internal PETI. Memang setakat ini belum ada konflik internal di antara kalangan penambangan ilegal tersebut, namun ke depan sangat rawan perebutan wilayah tambang emas.

Maraknya PETI belakangan ini disebabkan sulitnya masyarakat dalam mendapatkan uang. Mereka yang biasanya menebang kayu di hutan untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari kini tak bisa lagi. Jangankan dapat uang, salah-salah tebang masuk penjara karena dijerat dengan dakwaan illegal logging.

Kini sebagian masyarakat tak bisa menebang kayu di hutan untuk memenuhi keperluan sehari-hari karena tak ada izin. Kehidupan mereka juga sangat memprihatinkan. Di sisi lain, perusahaan-perusahaan kayu tetap membabat hutan. Makan apa mereka jika hutan tak bisa ditebang, kemudian emas pun tak bisa ditambang di saat harga sawit merosot? Itulah tugas pemerintah mengkaji apakah mungkin dibangun tambang emas yang ramah lingkungan, dan tak hanya sekadar melarang tapi tetap jalan.***
KOMENTAR
Terbaru
Biaya Operasional Tak Tertutupi

Rabu, 21 Februari 2018 - 09:50 WIB

Bupati Apresiasi Program YBM BRI Peduli Pendidikan  dan Pedagang Kurang Mampu
Dua Pelaku Curanmor Pasrah Digiring

Rabu, 21 Februari 2018 - 09:40 WIB

5 Rumah Musnah Terbakar Rumah Ketua PWI Rohil Hampir Musnah
Truk Bertonase Besar Rusaki Jalan Soebrantas

Rabu, 21 Februari 2018 - 09:26 WIB

Follow Us