Tangkal Bullying Penuhi Hak Anak
Minggu, 29 Juli 2018 - 11:18 WIB > Dibaca 890 kali Print | Komentar
Tangkal Bullying Penuhi  Hak Anak
STOP KEKERASAN: Semua pihak harus ikut menciptakan kondisi yang menghentikan kekerasan (bullying) pada anak. internet
Berita Terkait



(RIAUPOS.CO) - Hari Anak Nasional setiap tahunnya menjadi momentum untuk mengevaluasi peran seluruh masyarakat. Terlebih sebagai pengingat dan pendorong di tengah maraknya kasus kekerasan dan bullying pada anak.

Psikolog Anak dan Remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo menjelaskan evaluasi Hari Anak Nasional dilihat dari sejauh mana anak-anak mendapatkan haknya. Artinya seluruh masyarakat memiliki peran untuk bertanggung jawab memastikan pemenuhan hak anak.

“Kita semua? Iya kita semua, mulai dari orang tua, sekolah, masyarakat dan pemerintah mempunyai peran dalam hal ini karena anak menjadi tanggung jawab semuanya. Semua dapat menjadi pelindung anak, tidak pandang itu anak siapa meskipun tanggung jawab utama tetap ada di pundak orang tua” tegas Vera.

Di tahun 2018 ini, Vera menjelaskan masih banyak catatan perbaikan yang perlu direspon nyata oleh semua pihak. Kendati kekerasan fisik menurut KPAI menurun di 2018 ini, kekerasan verbal dan psikis termasuk bullying masih terjadi.

“Sebagai respon nyata akan hal ini, khususnya bagi orang tua, masih banyak pekerjaan rumah yang perlu dilakukan,” jelas Vera. Lalu, apa saja yang bisa dilakukan untuk menangkal bullying pada anak?

Pola Asuh

Evaluasi dimulai dari rumah sendiri dengan anak-anak sendiri. Mulai mengevaluasi apakah pola asuh selama ini yang diterapkan pada anak beresiko membuat anak menjadi korban atau pelaku bullying.

Tontonan Anak
Selain itu, evaluasi apa yang menjadi tontonan atau lermainan anak di rumah. Apakah banyak mengandung kekerasan dan amati dengan siapa anak bergaul.

Olah Emosi Anak

Baik anak yang melakukan bully maupun sebagai korban, mereka cenderung memiliki kesulitan untuk mengekspresikan emosi dengan tepat. Yang satu mengekspresikan secara berlebihan sehingga menekan atau menyakiti yang lainnya.

Sedangkan yang satu lagi, kesulitan untuk mengekspresikan emosinya sehingga menekan terus perasaannya sehingga yang timbul adalah kecemasan atau perasaan tertekan. Orang tua bisa bantu anak mengolah emosinya dengan baik, yaitu dengan cara memberikan kesempatan anak untuk mengekspresikan emosinya, bukan mematikan melainkan mengajarkan cara ekspresi yang tepat dan bagaimana mengendalikannya.(ika/jpc)



KOMENTAR
Berita Update

Duit Korupsi ’’Amankan” Kasus Istri
Senin, 19 November 2018 - 19:09 wib
Teken Petisi, Selamatkan Nuril

Teken Petisi, Selamatkan Nuril
Senin, 19 November 2018 - 18:47 wib

Kejari Kuansing Terima Penghargaan Terbaik Se-Riau
Senin, 19 November 2018 - 17:00 wib
Laga Kambing, Satu Tewas Satu Kritis

Laga Kambing, Satu Tewas Satu Kritis
Senin, 19 November 2018 - 16:30 wib

Pemkab Ingatkan Perusahaan
Senin, 19 November 2018 - 16:00 wib
Dua Jembatan Timbang Dikelola Pihak Swasta

Dua Jembatan Timbang Dikelola Pihak Swasta
Senin, 19 November 2018 - 15:15 wib
Industri Kosmetik Bakal Tumbuh Positif

Industri Kosmetik Bakal Tumbuh Positif
Senin, 19 November 2018 - 15:15 wib
Diferensiasi dan Inovasi Jadi Kunci

Diferensiasi dan Inovasi Jadi Kunci
Senin, 19 November 2018 - 14:30 wib

Pemkab Siak Terima CSR dari BRK
Senin, 19 November 2018 - 14:22 wib
Cari Berita
Gaya Hidup Terbaru
Penasaran? Inilah Helm Jokowi saat Riding ke Pasar

Senin, 05 November 2018 - 14:05 WIB

Youtuber Cilik Raup  Miliaran Rupiah per Bulan

Senin, 08 Oktober 2018 - 18:25 WIB

Nostalgia di WTF 2018

Selasa, 24 Juli 2018 - 17:50 WIB

Pamerkan Karya Terbaik dalam Penjara

Selasa, 24 Juli 2018 - 15:47 WIB

Al Ghazali Maia Estianty Diserang Haters

Senin, 16 Juli 2018 - 15:33 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us