Abdul Somad

Minggu, 17 Des 2017 - 10:47 WIB > Dibaca 1742 kali | Komentar

RIAUPOS.CO - TAK berlebihan rasanya kalau kawan saya, Abdul Wahab mengatakan, diragukan keriauan seorang penduduk Riau, kalau tidak merasa prihatin terhadap perilaku buruk segelintir masyarakat Bali terhadap Ustaz Abdul Somad. Bola peristiwa ini memang bisa meluncur ke mana-mana, tetapi penghakiman sepihak (persekusi) terhadap Abdul Somad, tidak bisa dibenarkan sedikit pun.

“Aku memberi penghargaan setinggi-tingginya terhadap pihak-pihak seperti Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) yang menyambut khusus kembalinya Somad ke Pekanbaru Ahad lalu,” tulis Abdul Wahab yang tinggal di kawasan Selat Melaka sana melalui pesan pendek telepon genggamnya. Ia tahu juga ratusan warga menyambut Somad, meski tidak bersua karena pintu kedatangan Somad memang agak disembunyikan untuk mengantisipasi hal-hal negatif.

Penyambutan kepulangan Somad, bagi Riau sendiri, setidak-tidaknya amat bermakna. Oleh karena itu, apa yang dialaminya adalah pengalaman negeri ini juga. Pahit manis padanya, amat terasa pada Riau. Begitu pula sebaliknya, bahkan bisa jadi kemunculannya di tengah gelanggang dakwah adalah digesa dari keadaan Riau pula. Sebab memang tak ada yang muncul begitu saja secara tiba-tiba.

Berkesan pula di hati Wahab, manakala penyambutan tersebut tidak ditandai dengan hal-hal berlebihan, apalagi anarkis terhadap sesuatu yang sempat dihembuskan oleh pihak-pihak tertentu. Malahan sampai pesan pendek melalui telepon genggam yang dikirimnya semalam, aroma negatif  sehubungan dengan hal ini, juga tidak muncul. Bahwa ada upaya penegakan hukum dilakukan, hal tersebut harus diterjemahkan antara lain sebagai wujud kebersamaan bahwa di negara ini, tidak dibenarkan sipapapun yang main hakim sendiri.

Ada permintaan maaf dari Bali, misalnya dari Lasykar Bali. Tetapi komponen yang terlibat dalam penghadangan Abdul Somad, bukan hanya persatuan sejumlah orang itu saja, tetapi berbagai pihak yang malahan terkesan menganggap perlakuan mereka terhadap Somad, sebagai suatu kewajaran. Suatu anggapan kewajaran di tengah kondisi Bali yang trauma dengan berbagai peristiwa fisik sehingga mengganggu pelancongan, sementara sumber pendapatan mereka dari sektor lain, hampir tidak ada.

Dengan demikian, Wahab juga memberi penghargaan kepada pihak-pihak yang membawa kasus tersebut ke ranah hukum positif. Terserahlah, apa pun latar belakang mereka, baik sosial maupun politik. “Tapi langkah-langkah lain perlu juga dilakukan, apalagi mengingat Somad selain ulama yang warga Riau, juga adalah seorang datuk, seiringan dengan posisinya di LAMR,” tulis Wahab.

Pada gilirannya, saya juga setuju dengan Wahab yang menyebutkan bahwa sebagai warga Riau, Somad muncul ke permukaan di tengah begitu banyaknya kabar tak sedap dari daerah ini. Kemunculannya pula membawa suatu kabar dengan penuh riang, bahkan suatu impian, melakukan pekerjaan kerasulan yakni dakwah. Ia petah alias fasih dalam ilmu agama dan implikasinya dengan masa kini. Somad adalah perlambangan (ikon) baru bagi Riau.

“Kemunculan Somad bagi daerah ini juga hendak menunjukkan bahwa Riau tidak hanya membusuk karena berita berbagai kejahatan,” kata Wahab, seraya mengingatkan bagaimana cerita korupsi dan kejahatan terhadap anak maupun perempuan yang menonjol dari daerah ini, misalnya. Bahkan kehadirannya di tengah kabar yang selalu tak sedap dari Riau itu, sebangun dan sebanding secara nasional.

Dengan latar belakang itu pulalah, Wahab juga menyetujui saya bahwa Somad harus dijaga tidak saja dalam kaitannya dengan peristiwa Bali maupun sejenis dengannya, tetapi juga secara spiritual pada masa kini dan akan datang. “Malahan, harus ada yang berani untuk ambil bagian memberikan nasihat kepada Ustaz Abdul Somad agar apa yang patut dan tak patut betapapun kecilnya, apalagi mengingat usia Somad relatif muda—40 tahun,” tulis saya pada Wahab.

Ketika Wahab mendesak tentang apa-apa saja yang harus dinasihati kepada Somad, saya hanya menjawab, “Nantilah aku katakan kelak saat kita bertemu ya.... Wassalam.”***   

KOMENTAR
BERITA POPULER

Follow Us