Kota Ekspo Hendak ke Mana?

Minggu, 03 Des 2017 - 11:30 WIB > Dibaca 123 kali | Komentar

KITA pun tak tau, entah mau dibawa ke mana kota ini.  Dulu taglinenya Kota Bertuah. Tau-tau, dalam beberapa tahun ini secara senyap-senyap dah berganti tagline jadi Kota Madani. Kita sering lupa, bahwa Bertuah itu juga membawa semangat madani. Jika dia memang bertuah, dia pasti bisa masuk dalam rezim kota yang berpembawaan merawat keragaman. Isyarat dari madani itu salah satunya adalah kerelaan bertolak angsur, kesediaan menerima keragaman dan varian yang berada di luar diri kita 9kesediaan akan hidup bertoleransi). Kesediaan menerima pemandangan yang serba lain, warna lain, pucuk cita dan kehendak orang lain, yang sejatinya membawa manfaat dan fadilat untuk kemajuan bersama. Kota Madinah yang menjadi tujuan Nabi beserta rombongan untuk berhijrah itu sendiri adalah kota bertuah dalam arti sejati. Karena dia dihuni oleh warga-warga yang juga bertuah. Termasuk bertuah secara spiitual. Warga yang bisa menerima keragaman dan kelainan cara fikir, menerima warna-warni latarbelakang budaya, adat dan bahkan sistem kepercayaan. Warga dengan deretan pemikiran yang terbuka (open minded), bukan malah pemikiran yang tertututp (closed minded).

Walhasil, kita membelokkan diri dari kota yang sejatinya memang sudah dekat di hati rakyat dari segi cogannya, kini warga kota harus membolak-balik kamus hanya sekedar untuk mencari sasaran dan beda antara madani dan bertuahapakah hanya sebuah sensani? Sensasni politis pula? Perilaku mengubah sesuatu yang sudah selesai dan akrab di hati warga, di hati rakyat, sesungguhnya adalah sebuah fenomena ekspo (pamer, memamerkan); apakah itu pamer tampang, pamer kehendak, pamer idiom, atau pamer-pamer, atau sekedar pamer cara pandang (he he sekali lagi visioner...) dan lainnya. Begitu juga ada idiom yang amat lucu dan janggal yang dipakai oleh pemerintah Provinsi Riau; The Homeland of Melayu. Ini jenis ekspo apalagi? Dari usungan makna yang hendak diangkut oleh idiom ini memang sampai dan dimengerti oleh orang-orang yang memabacanya. Namun, frasa Melayu memang sudah memiliki pengucapan sendiri dalam bahasa Inggris, baik secara etnografis, sapaan antropologis atau pun candra keilmuan. Semua dikenal dengan sapaan Malay. Ini juga terjadi pada Jawa yang disapa dalam frasa Inggris menjadi Javaness, Batak menjadi Batakness. Oh, ini hendak mensejajarkannya dengan Minangkabau atau Batak? Oh, tidak. Di sini Melayu adalah gejala besar. Dia sebuah jamaah yang dikenal di jagat dunia, yang bentangan hidup penamaan untuk Malay dengan kata sifat Malayness itu sudah menggenap dalam kajian antropologi, bahwa kita adalah bangsa Melayu (Malay). Jadi, ketika sapaan dalam bahasa Inggris tetap menggunakan idiom dasar Melayu, maka dia bisa dialamatkan untuk sebuah sub suku di dalam suku Minangkabau yaitu suku Melayu. Bukan Melayu bagi Riau. He he..

Kemajuan dan keinginan untuk maju, terkadang mengecohkan kita dalam sisa-sisa kebodohan yang mendiam. Terkesan kita ingin memperlihatkan kepintaran, keterpelajaran (well educated), malah berbelok kesan menjadi lain; terkesan bodoh dan joloh. Ini juga sebuah gejala ekspo yang tak terduga. Padahal ekspo yang dilekatkan dalam misi sebuah kota adalah sebuah strategi bisnis yang dikemas dalam kelengkapan-kelengkapan konferensi dan eksposisi yang dilakukan oleh pemerintah dan swasta sebagai satu daya ungkit ekonomi dan kesadaran budaya. Ekspo bukan semata membangun gedung megah yang dihajatkan untuk sebuah medan ekspo yang berdimensi bisnis dan kesadaran budaya. Ini adalah kerjaan sektor swasta dan para pebisnis. Dia bisa melekat dalam sayap bisnis hotel dan restoran.

Kita bisa menjadi kota yang besar atau pun setingkat metropolitan, dengan gedung-gedung agung dan jangkung. Namun, pemerintahnya tak boleh cuai dengan azam budaya dan peningkatan aras pemikiran yang kian bergelut dan bergelimang dengan pemikiran-pemikiran progresif yang memandang kepentingan masa depan sebuah kota. Kita bersaing hari ini adalah bagian dari cara kita mengekspresikan pertarungan kota-kota di masa depan. Maka, suka atau tak suka, kita harus mulai menukil kekuatan-kekuatan idiom yang sudah lekat dan dekat dengan hati rakyat. Idiom yang sudah menjadi pangakuan bersama, yang diulit bersama dalam nina-nina bobo di sekolah-sekolah bagi kanak-kanak. Bukan malah mengubah-ubah kenyataan sesuai dengan selera hari per hari oleh sang penguasa. Begitu pula pemerintah Provinsi tidak  lagi menyuguh dan memamerkan keluguan dan kelucuan di tengah kancah dunia yang terkembang ini.

Pekanbaru yang terletak di tengah-tengah Sumatera, dia bertindak selaku jantunganya Sumatera. Dia tak lagi harus mempersaingkan dirinya dengan kota-kota dinamis di pulau ini. Jika hendak memposisikan diri sebagai kota yang berkembang pesat, dalam hitungan ekonomi dan peradaban, tak ada salahnya Pekanbaru memposisikan dirinya dalam persaingan kota-kota gloobal yang berada di tanah-tanah jauh. Namun, dalam tujuh tahun ke belakang ini, kita merasakan mati surinya perkembangan kota ini berbanding Medan dan Palembang. Dua kota Suamtera yang disebutkan tadi, dengan cantik mempermainkan kedekatan zaman dengan pemerintah pusat yang tengah jor-joran menumpahkan anggaran untuk pembangunan infrastruktur skala besar dan masif; jalan tol, termasuk jalan tol dalam kota, MRT di Palembang, LRT di Medan, dan konektivitas moda angkutan dari bandara Kualanamu ke kota Medan dengan akses tol dan kereta api, dan simpangan tol menuju Tebingtinggi, terus Pematang Siantar dan begitu juga akses menuju Binjai di jalur utara.

Peluang era pemerintahan Joko Widodo ini tak dimanfaatkan secara maksimal oleh pemerintah Riau dan kota Pekanbaru untuk menggiring APBN dan proyek strategis nasional lainnya hadir dan datang ke Riau dalam jum;ah yang lebih masif dan beragam. Kita hanya kebagian ujung-ujung angin proyek strategis nasional itu berupa ruas tol Pekanbaru-Dumai yang amat seret kemajuan pembangunannya. Demikian pula ruas jalur kereta api Trans-Sumatera, seakan senyap dan tak bergaung lagi. Kelalaian kita di era ini, dimanfaat secara masif oleh Sumatera Utara dan Suamtera Selatan. Walau secara diam-diam dan intip-intip pemerintah Sumatera melakukan curian-curian kreatif, walau secara politis Sumbar tak memiliki garis lurus dengan pemerintahan Jakarta hari ini. Di sini, kita membincangkan kemampuan memainkan peluang, memainkan isu nasional yantg menjadi mainan daerah secara bersama, sehingga dia menjadi orkestrasi bersama. Tak saja dimainkan oleh Sumut dan Sumsel. Namun, Riau terkesan menunggu dan menjadi saksi atas kemajuan-kemajuan fantastis yang tengah berlangsung di dua Provinsi Sumatera itu. Lalu, sampaikan kapan kita hanya sibuk melakukan ekspo-ekspo pemikiran skala lokal? Merasa besar di depan rakyat sendiri dalam ruang yang terbatas? Tak berselera meragut dan mencantol peluang dan tantangan yang disediakan oleh pemerintah pusat hari. Ihwal ini laha yang sedang dimainkan oleh NTB dan NTT, begitu pula dengan kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Kita hanya bangga dengan kenyataan masa lalu dan serba mendaku-daku.***



KOMENTAR
BERITA POPULER

Follow Us