KRISIS EKONOMI VENEZUELA
Uang Jadi Barang Langka, Ikan Ditukar Tepung
Kamis, 05 Juli 2018 - 09:57 WIB > Dibaca 2011 kali Print | Komentar
Uang Jadi Barang Langka, Ikan Ditukar Tepung
MENGATUR IKAN: Seorang pria mengatur ikan dalam pendingin yang akan ditukar untuk bahan pokok di Rio Chico, Venezuela. Foto diambil (14/6/2018) lalu. (REUTERS/MARCO BELLO)
Berita Terkait

Eksodus Venezuela Bikin Pening Negara Tetangga



CARACAS (RIAUPOS.CO) - Venezuela mengalami krisis ekonomi. Akibat sulitnya transaksi dengan uang tunai, kini mulai banyak orang melakukan transaksi via barter atau tukar-menukar barang. Masyarakat Venezuela bahkan melakukan barter untuk mendapatkan bahan makanan hingga obat-obatan.

Di bawah terik matahari, puluhan nelayan menunggu untuk menjual tangkapan mereka di sebuah laguna di Kota Rio Chico yang terletak di pantai Karibia Venezuela. Mereka tidak mengharapkan uang sebagai imbalannya, namun mereka menukar ikan belanak dan kakap hasil tangkapan dengan tepung, beras, dan minyak goreng.

‘’Tidak ada pembayaran dengan uang tunai di sini, hanya barter,’’ kata salah seorang istri nelayan, Mileidy Lovera (30). Dia bahkan sudah berjalan ke sana ke mari berharap akan ada yang menukar ikan tangkapannya dengan bahan makanan untuk keempat anaknya serta obat epilepsi.

Negara bagian di Amerika Selatan kini mengalami kesulitan. Uang tunai sulit ditemukan dan menjadi barang langka maka otomatis membuat mereka kesulitan menemukan bahan makanan dan obat-obatan langka untuk penyakit kronis. Hal itu kemudian yang membuat rakyat Venezuela semakin bergantung pada barter sebagai transaksi dasar.

Bahkan untuk membayar barang dan jasa dengan harga paling murah sekalipun kini sulit karena tidak banyak uang yang beredar di sana. Meskipun bisnis formal yang mengandalkan transfer dan kartu debit masih ada, namun rasanya sulit dilakukan di Rio Chico dengan populasi 20 ribu orang di dalamnya.

Bahkan sekitar 130 kilometer ke barat dari Ibu Kota Caracas, banyak pedagang yang tidak memiliki akses ke layanan bank. Bahkan di terminal tempat mereka berjualan, mereka lebih suka menerima bayaran dalam bentuk barang, seperti dilansir Reuters, Selasa (3/7).

Munculnya kembali transaksi dengan barter kemudian menjadi cerminan dari bagaimana negara yang dulu makmur tersebut kembali ke mekanisme pertukaran komersial paling dasar.

Ekonom dari konsultan Datanalisis Luis Vicente Leon mengatakan, transaksi barter merupakan sistem pembayaran yang sangat primitif, sangat primitif bagi suatu negara yang tidak memiliki uang tunai yang cukup.(ce1/trz/jpg)
KOMENTAR
Berita Update

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib
Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Stroberi Berjarum Repotkan Australia
Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib
Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu
Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu
Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet
Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion
Sabtu, 21 September 2018 - 19:00 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP
Sabtu, 21 September 2018 - 18:30 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa
Sabtu, 21 September 2018 - 18:00 wib
Tolak Politik Transaksional
Apresiasi Komitmen Partai
Sabtu, 21 September 2018 - 17:30 wib
Warga Dambakan Aliran Listrik

Warga Dambakan Aliran Listrik
Sabtu, 21 September 2018 - 17:00 wib
Cari Berita
Internasional Terbaru
Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 WIB

Najib Razak Kena 25 Dakwaan Baru

Jumat, 21 September 2018 - 15:58 WIB

Korut Segera Tutup Fasilitas Nuklir Utama Tongchang-ri

Jumat, 21 September 2018 - 14:30 WIB

AS Potong Bantuan Dana bagi Palestina

Kamis, 20 September 2018 - 18:38 WIB

Ancaman Serius Plastik Mikro

Kamis, 20 September 2018 - 17:37 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us